Menuju konten utama

Trader Migas Siap Banjiri Pengiriman LNG ke RI dan Malaysia

Para pedagang ingin memanfaatkan pertumbuhan domestik yang kuat di dua negara berkembang tersebut.

Trader Migas Siap Banjiri Pengiriman LNG ke RI dan Malaysia
Suasana kilang Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur, Rabu (7/12/2022). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww/YU

tirto.id - Para trader atau pedagang gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) bersiap menjual lebih banyak bahan bakarnya ke eksportir tradisional di wilayah Asia Tenggara. Upaya membanjiri pasar ini dilakukan seiring kebutuhan energi yang melonjak di kawasan tersebut.

“Negara-negara termasuk Malaysia dan Indonesia memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas impor LNG, yang dapat menciptakan perubahan dalam dinamika pasar,” ujar kepala asal LNG Asia di JERA Global Markets, Takuya Tanabe, dikutip dari Bloomberg, Jumat (16/5/2025).

Para pedagang ingin memanfaatkan pertumbuhan domestik yang kuat di dua negara berkembang tersebut. Di mana, cadangan gas domestik yang menipis telah memaksa pemerintah untuk memikirkan kembali strategi ekspor.

Sementara Malaysia sebagai eksportir terbesar kelima tahun lalu, mengatakan kemungkinan untuk memerlukan lebih banyak terminal dan fasilitas untuk impor.

Eksportir LNG nomor 6, yakni Indonesia sebelumnya juga telah meminta pembeli luar negeri untuk menerima penundaan guna memenuhi permintaan domestik. Para eksportir juga menghadapi ketidaksesuaian geografis antara pasokan dan permintaan.

“Anda tidak dapat memperbaiki fakta bahwa Malaysia Timur mengekspor LNG tetapi Malaysia Barat sebenarnya membutuhkan lebih banyak gas,” kata kepala penelitian dan analisis gas global BloombergNEF, Fauziah Marzuki.

Lebih lanjut, Tanabe menambahkan bahwa mayoritas pertumbuhan permintaan LNG global diperkirakan berasal dari Asia, dengan Cina dan India memimpin ekspansi tersebut.

Menteri Energi Sumber Daya Energi (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyatakan bahwa pasokan gas alam cair (LNG) dalam negeri masih mencukupi sehingga belum ada pembahasan terkait rencana impor dari Amerika Serikat (AS).

Hal itu ia sampaikan saat merespons wacana impor LNG dari AS sebagai upaya negosiasi dagang usai Presiden Donald Trump mengumumkankebijakan tarif resiprokal.

“Sampai dengan hari ini, kami menganggap bahwa kebutuhan masih tercukupi dari dalam negeri. Sampai dengan sekarang, ya,” ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (28/4/2025).

Bahlil juga menyebut pembahasan terkait impor LNG belum sampai ke Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dan enggan berkomentar lebih lanjut terkait hal tersebut.

“Memang kemarin dari pembicaraan saya sama Pak Presiden, belum ada LNG. Jadi saya nggak tahulah. Saya nggak boleh mengomentari, sesama menteri ya,” kata Bahlil.

Baca juga artikel terkait IMPOR LNG atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra