tirto.id - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat penurunan pendapatan hingga 31 persen menjadi 172,2 juta dolar AS pada semester I 2025. Direktur TOBA Juli Oktarina menjelaskan, menyusutnya pendapatan tersebut disebabkan penurunan tonase penjualan serta terkoreksinya harga batu bara di pasar.
Dari sisi volume penjualan, batu bara TOBA turun dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton. Sementara itu, harga rata-rata batu bara tercatat melemah dari 83 dolar AS per ton di semester I tahun lalu menjadi 52,9 dolar AS per ton di periode sama tahun ini.
Dengan demikian, segmen usaha batu bara TOBA berhasil mengantongi 91,6 juta dolar AS atau 53 persen dari total pendapatan, turun dari 82 persen tahun lalu.
Selain itu, perusahaan juga mencatat rugi akuntansi sebesar 96,87 juta dolar AS. Kerugian ini bersifat noncash dan terjadi akibat divestasi dua PLTU yang sebelumnya dimiliki perseroan.
Walaupun secara akuntansi dicatat sebagai rugi, divestasi ini justru memperkuat kas perseroan sekitar 123 juta dolar AS yang akan dialokasikan untuk pengembangan bisnis baru.
Sebagai informasi, pada Maret dan Mei 2025, TBS merampungkan divestasi dua PLTU, yakni PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP). Langkah ini menghasilkan dana segar sebesar 123,6 juta dolar AS serta pengurangan emisi karbon sebesar 1,4 juta ton CO₂ per tahun, atau penurunan 86 persen dari total emisi perseroan tahun 2024.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id




































