tirto.id - Bank Indonesia (BI) terus mengupayakan stabilisasi nilai tukar rupiah melalui penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hingga pertengahan Juni 2026, total SRBI yang telah diterbitkan mencapai Rp1.021,13 triliun, dengan porsi kepemilikan investor asing yang kian meningkat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, langkah ini menjadi salah satu instrumen andalan bank sentral untuk menarik aliran modal asing dan memperkuat kurs rupiah di tengah tekanan ketidakpastian global.
"Suku bunga SRBI dinaikkan untuk tarik inflow dan perkuat rupiah," kata Perry dalam konferensi pers secara daring, Kamis (18/6/2026).
Dari total outstanding SRBI tersebut, kepemilikan nonresiden atau asing tercatat sebesar Rp238,09 triliun, atau setara 23,32 persen dari keseluruhan. Peningkatan partisipasi asing ini dinilai turut memberi tekanan positif bagi stabilitas nilai tukar.
Hasil dari berbagai kebijakan stabilisasi mulai terlihat. Pada 17 Juni 2026, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup di level Rp17.730 per dolar AS, atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.
"Nilai tukar rupiah menguat didukung respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dari dampak tingginya ketidakpastian global dan besarnya permintaan valuta asing korporasi," jelas Perry.
Untuk mempertahankan momentum ini, BI meningkatkan intensitas intervensi valuta asing, baik melalui pasar Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain menaikkan suku bunga SRBI, BI juga memberikan insentif tambahan berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) bagi investor asing sebesar 10 persen.
“BI memberikan insentif penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing sebesar 10 persen guna semakin meningkatkan daya tarik masuknya investor asing serta mengkompensasi kewajiban yang selama ini ditanggung investor,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































