tirto.id - Setelah mengalami tekanan keluar pada awal tahun, pasar keuangan Indonesia mulai mencatatkan sentimen positif. Bank Indonesia (BI) melaporkan terjadi lonjakan aliran masuk modal asing pada kuartal kedua tahun ini, yang utamanya didorong oleh respons kebijakan moneter yang agresif.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa per 15 Juni 2026, dana asing yang mengalir ke Indonesia mencapai 3,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp69,68 triliun (Rp17.868/USD).
"Bank Indonesia yang bersinergi dengan kebijakan fiskal untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik dapat mendorong aliran masuk modal asing pada kuartal II-2026 yang secara neto tercatat sebesar 3,9 miliar dolar AS (hingga 15 Juni 2026),” katanya dalam konferensi pers daring, Kamis (18/6/2026).
Adapun, aliran modal yang mengalir ke Indonesia per tengah kuartal II-2026 ini lebih besar dibandingkan dengan kuartal I 2026 yang mencatat aliran modal keluar sebesar 0,8 miliar dolar AS.
Berdasarkan rincian yang dipaparkan, derasnya arus masuk tersebut terutama disumbang oleh minat investor asing terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Hal itu tercermin dari kepemilikan nonresiden di SRBI yang meningkat menjadi Rp238,09 triliun atau 23,32 persen dari total outstanding.
“Kepemilikan meningkat menjadi Rp238,09 triliun sehingga turut mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Kuatnya aliran masuk ini pun selaras dengan kondisi cadangan devisa yang masih tergolong solid. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tetap kokoh di angka 144,9 miliar dolar AS.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































