Menuju konten utama

Tak Sampai 50, Indeks Manufaktur RI Kontraksi 4 Bulan Beruntun

Tingkat kontraksi ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya akibat penurunan output dan pesanan baru yang tidak sedalam Juni.

Tak Sampai 50, Indeks Manufaktur RI Kontraksi 4 Bulan Beruntun
Penjaga stan menghidupkan mesin pengemasan produk otomatis pada Pameran Teknologi Manufaktur di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (18/10/2018). ANTARA FOTO/R. Rekotomo/aww.

tirto.id - Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global kembali mengalami kontraksi di level 49,2 pada Juli 2025.

Meski mengalami peningkatan dibandingkan posisi Juni di level 46,9, namun angka PMI ini tetap berada di zona kontraksi di bawah 50,0. Kontraksi ini pun telah terjadi selama empat bulan berturut-turut.

“Indeks PMI Manufaktur Indonesia S&P Global tetap berada di bawah level netral 50,0 untuk bulan keempat berturut-turut, menandakan perlambatan dan hanya sedikit penurunan dalam kesehatan sektor manufaktur Indonesia,” tulis S&P dalam rilisnya, Jumat (1/8/2025).

Tingkat kontraksi ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya akibat penurunan output dan pesanan baru yang tidak sedalam Juni.

Namun, kontraksi masih terjadi dari sisi permintaan global di mana pesanan ekspor baru kembali menyusut setelah sempat menunjukkan stabilisasi di bulan sebelumnya.

Sektor ketenagakerjaan dan aktivitas pembelian juga masih mencatatkan kontraksi, meskipun penurunan jumlah tenaga kerja terjadi dalam tempo yang lebih moderat.

Produsen juga menghadapi tantangan dalam rantai pasokan, di mana waktu pengiriman bahan baku memanjang untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir.

“Gangguan logistik ini sebagian besar disebabkan oleh dampak konflik Iran-Israel terhadap jaringan pengiriman global,” tulis rilis yang sama.

Sementara itu, tekanan inflasi terus membebani produsen manufaktur. Harga input melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2025, didorong oleh kenaikan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar mata uang.

Sebagai respons, perusahaan meningkatkan harga jual pabrik (factory gate prices) dengan kecepatan tercepat sejak April lalu, meskipun kenaikan harga ini masih tergolong moderat.

Di sisi lain, S&P mengungkapkan optimisme produsen merosot ke level terendah sejak survei ini pertama kali dilakukan pada April 2012. Penurunan keyakinan ini terutama dipicu oleh kekhawatiran akan kebijakan tarif AS yang berpotensi membatasi ekspor serta melemahnya daya beli konsumen global.

Baca juga artikel terkait INDEKS MANUFAKTUR atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra