Menuju konten utama
Hari Pramuka

Sejarah Bapak Pramuka Indonesia Sultan HB IX dan Kepanduan

Sejarah Bapak Pramuka Indonesia Sultan Hamengkubuwana IX memperlihatkan jasa dan peran tokoh di kancah Kepanduan. Berikut ini sejarah Bapak Pandu Indonesia.

Sejarah Bapak Pramuka Indonesia Sultan HB IX dan Kepanduan
Sejarah Bapak Pramuka Indonesia, Sultan Hamengkubuwana IX (kiri) | Sumber Foto: Buku Kenangan Lukisan Perjuangan Rakyat Indonesia 1945-1950 terbitan Kementerian Penerangan dan Bentara Budaya Yogyakarta.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagaimana sejarah Bapak Pramuka Indonesia Sultan HB IX dan gerakan Kepanduan di Indonesia? Simak penjelasan mengenai kiprah Sultan Hamengkubuwana sebagai Bapak Pandu Indonesia di dalam artikel ini.

Berdasarkan sejarah, gerakan Pramuka resmi menjadi payung dari berbagai organisasi Kepanduan di Indonesia sejak tanggal 14 Agustus 1961. Pengenalan gerakan di Jakarta ini bersamaan dengan hari penetapan Sultan Hamengkubuwana IX menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama.

Adapun Sultan HB IX adalah Raja Kasultanan Yogyakarta yang berperan besar sebagai pendiri Pramuka Indonesia. Ia juga sempat menduduki jabatan Wakil Ketua Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Pramuka yang dipimpin Presiden Sukarno, kemudian menjadi Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka pertama sejak 1961 sampai 1974.

Sejarah Bapak Pramuka Indonesia

Siapa Bapak Pandu Indonesia? Pendiri Pramuka Indonesia memiliki nama kecil Raden Mas Dorodjatun, kemudian dikenal sebagai Sultan HB IX setelah menjadi Raja Yogyakarta. Lahir tanggal 12 April 1912 di Yogyakarta, ia merupakan salah satu putra dari Sultan Hamengkubuwana VIII.

Mengutip situs resmi Keraton Yogyakarta, meskipun menyandang status pangeran, Dorodjatun tidak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan istana. Sultan HB VIII menitipkan putranya itu kepada keluarga Mulder, seorang Kepala Sekolah NHJJS (Neutrale Hollands Javanesche Jongen School).

Sultan HB VIII menyampaikan pesan kepada keluarga Mulder supaya tidak mengistimewakan Dorodjatun dan dididik supaya hidup mandiri. Anggota keluarga Mulder pun menerimanya dengan senang hati. Dorodjatun bahkan punya panggilan kesayangan, yakni Henkie.

Dorodjatun menempuh pendidikan awal di Yogyakarta, mulai dari Frobel School (Taman Kanak-kanak), Eerste Europe Lagere School B hingga Neutrale Europese Lagere School. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan menengah di Hogere Burgerschool (HBS) di Semarang dan Bandung.

Belum sempat lulus dari Bandung, Dorodjatun pergi ke Belanda untuk berkuliah di Universitas Leiden. Dorodjatun mengambil jurusan Ilmu Hukum Tata Negara di perguruan tinggi ini. Di sana, ia juga bersahabat dengan Putri Juliana yang kelak menjadi Ratu Belanda.

Tahun 1939, Sultan HB VIII memanggil Dorodjatun pulang karena ada tanda-tanda terjadinya Perang Dunia Kedua. Setibanya di tanah air, Sultan HB VIII menyerahkan Keris Kyai Joko Piturun kepada Dorodjatun.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Dorodjatun telah dipilih oleh ayahnya sebagai putra mahkota. Saat Sultan HB VIII wafat pada 22 Oktober 1939, Dorodjatun selaku putra mahkota kemudian naik takhta.

Situasinya saat itu sempat terjadi tarik-ulur yang alot dengan pihak pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tanggal 18 Maret 1940, Dorodjatun baru resmi menjadi Raja Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengkubuwana IX.

Seperti diungkapkan kembali oleh Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam buku Pisowanan Ageng Sri Sultan Hamengku Buwono X: Sebuah Percakapan (1996), setelah resmi dikukuhkan menjadi raja, Sultan HB IX berucap: “Saya memang berpendidikan Barat, tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa.”

Kiprah Sultan di Kepanduan

Sebelum mengenal nama Pramuka, gerakan yang sudah hadir di Nusantara sejak awal abad ke-20 ini disebut Kepanduan. Sultan HB IX baru mencetuskan nama Pramuka berdasarkan inspirasi kata Poromuko atau “pasukan terdepan dalam perang”.

Istilah Pramuka besutan Sultan Hamengkubuwana IX kemudian diejawantahkan menjadi Praja Muda Karana yang artinya adalah “Jiwa Muda yang Suka Berkarya”.

Sejak muda, Sultan HB IX sudah aktif sebagai anggota gerakan Kepanduan. Kala itu, banyak perhimpunan pemuda dan organisasi yang mengelola gerakan tersebut.

Memasuki tahun 1960, level Kepanduan Sultan HB IX sudah mencapai Pandu Agung atau Pemimpin Kepanduan. Tingkatan ini menyebabkan dirinya ditunjuk sebagai Wakil Ketua Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Pramuka bersama Brigjen TNI Dr. A. Aziz Saleh, sementara Ketua Mapinas adalah Presiden Sukarno.

Sebelum Pramuka memperoleh status resmi, meskipun sudah dikenal sebagai Kepanduan, Bung Karno sering berkonsultasi dengan Sultan HB IX. Presiden Sukarno ingin menyatukan semua gerakan Kepanduan atau Pramuka di Indonesia.

Pada akhirnya, keinginan itu terwujud pada 14 Agustus 1961. Adapun Sultan HB IX menempati posisi tertinggi sebagai Ketua Kwartir Nasional selama 4 periode hingga tahun 1974.

Dikutip dari buku Sri Sultan Hamengku Buwono IX: Riwayat Hidup dan Perjuangan (1996), peran Raja Yogyakarta yang nantinya menjadi Wakil Presiden RI ini dalam membangun Pramuka dari masa transisi dari Kepanduan sangat penting.

Pramuka Indonesia bahkan menjadi gerakan yang eksis hingga ke luar negeri. Pada 1973 misalnya, Sultan HB IX menerima penghargaan dalam Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) atau Organisasi Kepanduan Internasional.

Siapa Bapak Pandu Indonesia? Berkat jasa-jasa tersebut, Sultan HB IX memperoleh julukan sebagai Bapak Pramuka Indonesia dalam Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka tahun 1988 yang digelar di Dili, Timor-Timur.

Sejarah Kepanduan Indonesia

Gerakan Kepanduan di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Tahun 1916, Mangkunegara VII di Surakarta memprakarsai berdirinya Javaansche Padvinders Organisatie.

Setelah itu, lahir gerakan-gerakan sejenis yang dikelola oleh organisasi-organisasi pergerakan. Di antaranya Hizbul Wathan (Muhammadiyah), Nationale Padvinderij (Boedi Oetomo, Sarekat Islam Afdeling Padvinderij (Sarekat Islam), Nationale Islamietische Padvinderij (Jong Islamieten Bond), dan lain-lain.

Menurut Panduan Museum Sumpah Pemuda (2009), gerakan Kepanduan di Tanah Air eksis sejak 1923 dengan berdirinya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia. Kemudian, organisasi melebur jadi satu dalam nama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926.

Hari-Hari Bersejarah dalam Pramuka

Dalam sejarah kepramukaan di Indonesia, terdapat beberapa momentum yang menjadi penetapan hari bersejarah dalam Pramuka. Untuk mengenang tokoh kepanduan dunia, masyarakat internasional merayakan tanggal 22 Februari sebagai Hari Baden Powell atau Hari Kepanduan Sedunia.

Ada juga Hari Tunas Gerakan Pramuka yang penetapannya berdasarkan hari Pidato Presiden/Mandataris MPRS di hadapan perwakilan berbagai organisasi kepanduan Indonesia, yaitu 9 Maret 1961.

Sementara itu, ketika Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 bertanggal 20 Mei 1961 tentang penetapan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan, dijadikan sebagai momentum Hari Permulaan Tahun Kerja.

Hari tersebut adalah tonggak untuk pendidikan kepramukaan. Selain itu, masyarakat Indonesia juga memperingati Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei.

Hari bersejarah dalam Pramuka Indonesia selanjutnya yaitu Hari Ikrar Gerakan Pramuka. Penetapan peringatan menggunakan landasan momentum peleburan berbagai organisasi Gerakan Pramuka pada 30 Juli 1961.

Di Istana Olahraga Senayan saat itu, semua organisasi kepanduan menyatakan ini bersatu dalam wadah Pramuka. Sementara itu, Hari Pramuka ditetapkan setiap 14 Agustus.

Peristiwa yang menjadi latar belakang Hari Pramuka yaitu pada 1 Agustus 1961 dilantik pengurus Gerakan Pramuka dan sekaligus berlangsungnya defile Pramuka. Tujuan defile ini adalah memperkenalkan Gerakan Pramuka Indonesia pada khalayak.

Demikian penjelasan mengenai sejarah Bapak Pramuka Indonesia yang bernama Sultan Hamengkubuwana IX. Pastikan juga untuk membaca artikel lain seputar sejarah Pramuka di sini.

Informasi Sejarah Pramuka Terbaru

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Wisnu Amri Hidayat

tirto.id - Edusains
Kontributor: Wisnu Amri Hidayat
Penulis: Wisnu Amri Hidayat
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada