Menuju konten utama

Khutbah Jumat 25 September 2026: Keteladanan Syekh Abdul Qadir

Teks khutbah Jumat 25 September 2026 bulan Rabiulakhir mengusung tema tentang keteladanan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Khutbah Jumat 25 September 2026: Keteladanan Syekh Abdul Qadir
ilustrasi lkhutbah. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Khutbah Jumat 25 September 2026 bulan Rabiulakhir bertema keteladanan Syekh Abdul Qadir. Isi teks khutbah Jumat bisa menjadi referensi bagi khotib yang bertugas. Simak naskah lengkap khutbah Jumat.

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah perekembangan Islam yang terjadi pada bulan Rabiulakhir adalah wafatnya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Sosok yang dijuluki al-Qutb al-A'zam" atau Poros Spiritual ini memainkan peran penting dalam perkembangan spiritualitas Islam.

Meski telah berlangsung ratusan tahun lalu, pemikiran dan ajaran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani masih hidup hingga kini. Ajaran-ajaran kebenaran yang ditinggalkan patut untuk diteladani bagi umat Islam.

Ilustrasi Salat Jamaah

Ilustrasi Salat Jamaah. FOTO/iStockphoto

Teks Khutbah Jumat 25 September 2026 Bulan Rabiulakhir: Keteladanan Syekh Abdul Qadir

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan ulama terkemuka abad di abad ke-11. Ia lahir di wilayah al-Jil, yang juga dikenal Kailan atau Jilan pada tahun 470 H (1077-1078 M). Secara silsilah, ulama yang mengenyam pendidikan puluhan tahun di Baghdad ini bersambung ke Nabi Muhammad melalui kedua orang tua.

Di usianya yang ke 18 tahun, Syekh Abdul Qadir memutuskan untuk menimba ilmu di Baghdad, yang kala itu menjadi pusat keilmuan Islam. Ia bertemu dengan guru-guru dari berbagai disiplin ilmu dan mengajar di Madrasah al-Qadiriyya.

Tempat ini berfungsi baik sebagai pusat pendidikan maupun cikal bakal berkembangnya tarekat Sufi. Dalam berbagai literatur, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani wafat pada malam Sabtu, 10 Rabiul Akhir 561 H atau 13 Februari 1166 M.

Berikut teks khutbah Jumat 25 September 2026 tentang keteladanan Syekh Abdul Qadir yang memenuhi syarat-syarat khutbah:

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ , أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ ,

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِۙ ,يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنۙ

Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.

Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.

Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Ilustrasi Salat Jamaah

Ilustrasi Salat Jamaah. foto/istockphoto

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah…

Jumat, 25 September 2026 bertepatan dengan 13 Rabiulakhir 1448 H. Dalam tradisi umat Islan, bulan Rabiul Akhir dikenang sebagai haul Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Ia adalah alim ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk menuntut ilmu, mengajar, dan mengurusi umat.

Berkat kealiman yang dimiliki, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjadi panutan para ulama hingga kini. Berkat kemahirannya dalam berbagai bidang ilmu, ia mendapat sejumlah gelar kehormatan. Misalnya "Muhyiddin" (Sang Penghidup Agama), "Ghaus-e-Azam" (Penolong Agung), Sultan Auliya (Raja Para Wali), dan "al-Qutb al-A'zam" (Poros Spiritual).

Di usia 18 tahun (488 H)., Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berangkat ke Baghdad untuk berguru pada ulama-ulama terkemuka. Beberapa ilmu yang dipelajari di antaranya studi hukum, hadis, ilmu tafsir Al-Qur'an, hingga tasawuf.

Setelah menyelesaikan pendidikan formal, Abdul Qadir memilih untuk uzlah atau mengasingkan diri secara spiritual dan melakukan pengembaraan di padang pasir Irak selama kurang lebih dua puluh lima tahun. Di tempat itulah, ia melakukan latihan spiritual, perenungan, dan praktik hidup yang sangat bersahaja.

Hal ini dilakukan dengan tujuan tidak memberi waktu bagi ego dan nafsu untuk memperoleh kenyamanan. Masa pengasingan dan disiplin spiritual yang panjang memainkan peran penting, mengubah seorang cendekiawan muda menjadi guru yang telah mencapai kematangan spiritual dan siap membimbing orang lain.

Kesulitan yang ia alami selama masa ini, kelak menjadi landasan bagi ajaran-ajarannya dalam mengenai kesabaran, kepasrahan kepada Tuhan, dan sikap melepaskan diri dari kenyamanan duniawi.

Ketaladanan ini patut kita contoh tak lain untuk mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana diperintahkan dalam QS Al Baqarah ayat 21:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝٢١

yâ ayyuhan-nâsu‘budû rabbakumulladzî khalaqakum walladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn

Artinya: Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Anak Muslim Membaca Alquran

Anak Muslim Membaca Alquran. FOTO/iStockphoto

Hadirin yang berbahagia.....

Dalam menjalani hidup, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan sifat-sifat kebaikan. Ia selalu berkata jujur, sebagaimana janji kepada ibunya sebelum berangkat ke Baghdad, yaitu berkata benar dan bersikap jujur dengan apa pun yang terjadi. Sifat tersebut penting untuk kita tiru di tengah situasi dan kondisi yang semakin riuh.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sangat menjunjung tinggi inklusifitas pemikiran. Di tengah keberagama yang ada, sifat inklusif penting bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, tanpa pemikiran yang terbuka, kita akan terjebak pada fanatisme yang tanpa dasar.

Salah satu pemikiran monumental Syekh Abdul Qadir Al-Jailani adalah pandangan tentang tasawuf. Bagi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, tasawuf bukan sebagai doktrin esoteris yang terpisah dari arus utama Islam. Melainkan sebagai jalan melawan kehendak diri sendiri demi menaklukkan egoisme dan kecintaan duniawi, serta untuk berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Sikap zuhud dan tawakal patut kita contoh dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kita sebagai manusia diperintahkan untuk berusaha menggapai impian, baik duniawi maupun ukhrawi. Di tengah ikhtiar tersebut, kita juga perlu memberi ruang untuk bertawakal sebagai bagian dari bentuk kehambaan.

Sikap tawakal ini juga diperintahkan Allah dalam Ali 'Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩

fa bimâ raḫmatim minallâhi linta lahum, walau kunta fadhdhan ghalîdhal-qalbi lanfadldlû min ḫaulika fa‘fu ‘an-hum wastaghfir lahum wa syâwir-hum fil-amr, fa idzâ ‘azamta fa tawakkal ‘alallâh, innallâha yuḫibbul-mutawakkilîn.

Artinya:"Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal."

Shalat Jumat pertama Ramadhan 1447 H di Kendari

Umat Islam melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami Al Falah, Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (20/2/2026). Shalat Jumat pertama di bulan suci Ramadhan 1447 H itu dihadiri ratusan Umat Islam. ANTARA FOTO/Andry Denisah/nym.

Selain itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga mengisi harinya dengan dengan mengajar dan menulis buku-buku yang berpengaruh hingga kini. Rutinitas tersebut patut kita contoh agar hidup semakin berimbang dan bermanfaat.

Sebagimana sabda Nabi Muhammad, sebaik-baik orang yaitu yang bermanfaat bagi orang lain:

« خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ »

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)

Menjelang akhir hayat, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memberi nasihat kepada putranya yang bernama ‘Abdul-Wahhab. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:

"Bertakwalah kepada Allah dan jangan kepada selain-Nya. Berharaplah kepada Allah dan serahkan segala kebutuhanmu kepada-Nya; Jangan berharap atau menginginkan apa pun dari siapa pun selain Dia. Bertawakkallah kepada Allah dan jangan kepada selain-Nya. Bersatulah dengan-Nya, bersatulah dengan-Nya, bersatulah dengan-Nya,".

Semoga di bulan Rabiul Akhir, kita mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. dan senantiasa tetap memegang teguh iman dan takwa kepada Sang Pencipta.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.

أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Ilustrasi Salat

Ilustrasi Salat. foto/istockpphoto

Khutbah II

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ طُوْلَ الْأَزْمِنَةِ وَالدُّهُوْرِ. وَاَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا لَيِّنًا سَدِيْدًا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتاَبِعِيْهِ وَتَابِعِيْ تَابِعِيْهِ وَمَنْ تَبِعَهُمِ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اسْتُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اجْبُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ عَافِ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَغْفِرَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فَرَجًا عَاجِلًا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

فَيَا عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِۙ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo