tirto.id - Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu membeberkan isi pertemuannya bersama sejumlah tokoh nasional dengan Presiden Prabowo Subianto, di kediaman Presiden di Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, pada Jumat (30/1/2026). Pertemuan tersebut berlangsung selama hampir empat jam.
Melalui akun X resminya @msaid_didu, Said Didu menyebut pertemuan dimulai pukul 17.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 20.45 WIB.
Dalam pertemuan itu, kata dia, Prabowo memaparkan sendiri arah kebijakan strategis nasional.
“Bpk Presiden mempresentasikan sendiri terkait berbagai kebijakan strategis utk percepatan perbaikan bangsa — walau didampingi oleh sktr 10 orang staf ‘kepercayaan’ — tapi Bpk Presiden presentasikan sendiri,” tulis Said Didu, dalam unggahan, Minggu (1/2/2026).
Said menyatakan diskusi berlangsung terbuka dan intens, termasuk membahas isu-isu yang dinilainya sensitif.
Prabowo disebut mendengarkan dengan baik jalannya diskusi yang disampaikan sejumlah tokoh.
“Diskusi sangat dinamis dan Bapak Presiden mendengarkan dg baik dan berdiskusi terhadap banyak isu strategi dan ‘sensitif’ demi perbaikan bangsa ke depan,” tulisnya.
Banyak pihak bertanya terkait pertemuan kami dg Bpk Presiden @prabowo tgl 30 Jan 2026, ini penjelasan singkat :
— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) February 1, 2026
1) pertemuan berlangsung jam 17.00 - sktr 20.45
2) Bpk Presiden mempresentasikan sendiri terkait berbagai kebijakan strategis utk percepatan perbaikan bangsa - walau…
Ia mengungkapkan bahwa dalam pertemuan tersebut terdapat kesepahaman mengenai prioritas agenda nasional. Yakni soal kedaulatan negara dan rakyat.
“Kami ‘menyepakati’ bahwa agenda dan program pengembalian kedaulatan negara dan rakyat harus jadi prioritas serta pemberantasan korupsi, pengembalian sumber daya alam dll,” ujar Said Didu.
Menurut Said, sejumlah isu strategis turut dibahas, antara lain reformasi Kepolisian Republik Indonesia dan isu internasional terkait Gaza.
“Issu-issu strategis dan sensitif seperti reformasi Polri, BoP (Boarding of Peace) Gaza juga dibahas serta isu-isu lainnya. Ini menunjukkan bhw Bapak Presiden @prabowo sangat terbuka utk berdiskusi,” tulisnya.
Said Didu juga menyatakan sikap politik kelompoknya pasca-pertemuan tersebut.
“Setelah pertemuan tersebut, kami akan ‘beroposisi’ kepada pihak-pihak yang menghalangi agenda pengembalian kedaulatan politik, ekonomi, hukum, sumber daya alam, dan kedaulatan wilayah yang telah ‘direbut’ oleh Oligarki bersama antek-anteknya,” tulis Said.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin membenarkan adanya pertemuan Presiden dengan sejumlah tokoh yang disebut sebagai 'tokoh oposisi'.
Ia menyebut pertemuan tersebut membahas kondisi bangsa dan tata kelola negara.
"Tadi malam Bapak Presiden dan beberapa tokoh tokoh nasional yang tanda kutip mengatakan oposisi [melakukan pertemuan]," kata dia saat memberikan materi kepada anggota Persatuan Wartawan Indonesia yang mengikuti retreat di Cibodas, Rumpiang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/1/2026) sebagaimana dikutip Antara.
Sjafrie juga menyinggung pembahasan mengenai dugaan kebocoran anggaran negara dalam diskusi tersebut.
Ia mengatakan, pertemuan itu membahas tentang bagaimana negara harus dikelola secara baik oleh seluruh pihak.
"Bahkan saya menerima [laporan] kurang lebih Rp5.777 triliun [dari] bank Himbara yang menyalurkan kepada korporasi. Padahal kita punya APBN 300 sekian triliun rupiah. Kemana kebocoran [anggaran] itu?" ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan sejumlah tokoh yang bertemu presiden itu bukan kelompok oposisi. Menurutnya, Presiden terbuka berdialog dengan berbagai kalangan.
“Ndak, ndak ada yang oposisi. Itu kan tokoh-tokoh masyarakat juga yang Bapak Presiden terbuka untuk berdialog, menerima masukan,” kata Prasetyo di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Prasetyo menjelaskan bahwa pertemuan tersebut lebih banyak berisi penjelasan Presiden mengenai kebijakan dan program pemerintah yang telah dijalankan.
“Beliau menjelaskan program-program yang dalam satu tahun lebih beberapa bulan ini beliau jalankan,” ujarnya.
Sejumlah tokoh yang dilaporkan hadir dalam pertemuan itu antara lain mantan Ketua KPK Abraham Samad, peneliti politik Siti Zuhro, Said Didu, hingga mantan Kepala Bareskrim Polri Susno Duadji.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id

































