Menuju konten utama

Sabun Batang vs Sabun Cair, Mana Lebih Baik untuk Kulit?

Jangan salah pilih sabun! Ketahui perbandingan sabun batang dan sabun cair dari berbagai aspek, mulai dari bahan, kecocokan kulit, hingga dampak lingkungan.

Sabun Batang vs Sabun Cair, Mana Lebih Baik untuk Kulit?
Ilustrasi Sabun Cair dan Sabun Batang. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Pilih sabun batang atau sabun cair? Pertanyaan ini sudah lama jadi perdebatan di kalangan banyak orang. Setiap jenis sabun pasti memiliki kelebihan tersendiri. Namun, dari segi kandungan, tingkat higienisnya, hingga kepraktisan, sabun mana yang lebih baik untuk kulit?

Sabun menjadi salah satu barang paling penting dalam menjaga kebersihan sehari-hari. Fungsinya tidak hanya untuk menghilangkan kotoran, tapi juga bisa membantu menjaga kesehatan kulit dan tubuh secara keseluruhan.

Sabun sendiri hadir dalam dua bentuk, yaitu sabun batang dan sabun cair. Sabun batang masih menjadi pilihan banyak orang, terutama di Indonesia karena harganya yang relatif lebih murah, mudah ditemukan, dan lebih awet digunakan dalam jangka waktu lama.

Di sisi lain, sabun cair juga memiliki banyak penggemarnya sendiri. Banyak orang menyukai sabun cair karena dianggap lebih praktis dan higienis, terutama karena tidak digunakan bersama-sama secara langsung.

Dengan kelebihan masing-masing dari kedua jenis sabun mandi ini, manakah yang lebih baik, sabun batang atau sabun cair?

Perbedaan Dasar Sabun Batang dan Sabun Cair

Ilustrasi Sabun Cair vs Sabun Batang

Ilustrasi Sabun Cair vs Sabun Batang. FOTO/iStockphoto

Secara garis besar, baik sabun batang maupun sabun cair, keduanya sama-sama berfungsi membersihkan kulit dengan cara mengangkat minyak dan kotoran. Namun, keduanya memiliki beberapa perbedaan mendasar sebagai berikut:

1. Bentuk dan Tekstur

Salah satu perbedaan paling mencolok dan mudah dikenali adalah tekstur dan bentuknya. Sabun batang berbentuk padat dan umumnya lebih terkonsentrasi karena tidak mengandung air. Sementara itu, sabun cair berbentuk cair dengan tekstur lebih ringan karena mengandung air sebagai salah satu komponen utamanya.

2. Proses Pembuatan

Dikutip dari laman Byrdie, ahli kimia kosmetik Gabrielle Nekrasas menjelaskan bahwa sabun batang dibuat dengan proses kaustik yang melibatkan pemanasan minyak dan lilin serta penambahan alkali.

Sementara itu, sabun cair tidak melalui proses yang sama, melainkan diformulasikan dengan air, bahan pelembap, dan bahan aktif tertentu yang bermanfaat untuk kulit.

3. Kandungan atau Formula

Sabun cair lebih fleksibel dari sisi formulasi karena mudah ditambahkan berbagai bahan, mulai dari pelembap hingga exfoliant. Sabun batang cenderung memiliki formula yang lebih sederhana, meskipun kini banyak juga yang ditambahkan bahan lain yang dapat meningkatkan kesehatan kulit.

4. Kadar pH

Sabun batang umumnya memiliki pH lebih tinggi dari sabun cair (pH 9-10). Tingkat pH pada sabun batang juga sulit diturunkan karena faktor proses pembuatannya yang cukup kompleks.

Sebaliknya, tingkat pH sabun cair lebih mudah diatur melalui formulasi dan proses pembuatannya, serta disesuaikan agar pH-nya lebih mendekati pH alami kulit. Hal inilah yang membuat sabun cair dianggap lebih ramah dan lembut untuk kulit.

5. Sensasi di Kulit

Sabun cair sering disukai karena membuat kulit terasa lebih lembap dan nyaman setelah mandi. Sabun batang, di sisi lain, kadang membuat kulit menjadi lebih kering karena pH yang tinggi.

Selain itu, sabun batang kadang meninggalkan residu di kulit maupun kamar mandi yang dianggap kurang nyaman bagi sebagian orang.

6. Kebersihan dan Penyimpanan

Sabun cair dianggap lebih higienis karena disimpan dalam botol atau tube sehingga tidak sering terpapar air dan sentuhan langsung. Sementara sabun batang dipercaya kurang higienis dan jadi tempat pertumbuhan bakteri jika tidak disimpan dengan baik atau diletakkan secara terbuka di tempat yang basah.

7. Kemasan dan Dampak Lingkungan

Sabun batang biasanya menggunakan kemasan minimal seperti kertas atau kardus sehingga lebih ramah lingkungan. Sementara sabun cair hampir selalu menggunakan kemasan plastik dan membutuhkan pengawet agar tidak berjamur, dan hal ini menjadi salah satu kekurangannya.

Kandungan dan Cara Kerja di Kulit, Mana yang Lebih Higienis?

ILUSTRASI SABUN

Ilustrasi Sabun. Foto/iStock

Sabun batang diformulasikan dengan menggabungkan minyak dan alkali, sementara sabun cair dapat mengandung air, bahan pelembap, ekstrak bahan tertentu, atau zat lainnya. Namun, saat ini ada pula sabun batang yang mulai ditambahkan pelembap agar tidak membuat kulit menjadi kering.

Di sisi lain, baik sabun batang maupun sabun cair, keduanya sama-sama memiliki surfaktan, yaitu zat yang membantu memecah minyak yang menempel di kulit sehingga bisa hilang saat dibilas.

Cara Kerja Sabun dalam Membersihkan Kulit

Sabun batang dan sabun cair dapat membersihkan kulit dengan prinsip yang sama, yaitu mengangkat kotoran dan minyak dari permukaan kulit. Hal ini membuat kotoran lebih mudah dibilas dengan air sekaligus membuat kulit jadi jadi bersih.

Dikutip dari laman Yale School of Medicine, cara kerja sabun sangat efektif karena struktur molekulnya yang unik. Sabun terdiri dari molekul berbentuk seperti pin yang memiliki dua sisi berbeda, yaitu bagian kepala hidrofilik yang suka air dan ekor hidrofobik yang menghindari air, tapi sangat suka berikatan dengan minyak dan lemak.

Secara sederhana, cara kerja sabun dapat digambarkan dalam tahapan berikut:

1. Menghancurkan Struktur Mikroorganisme

Banyak virus dan bakteri yang memiliki lapisan luar berupa membran lipid/lemak. Saat memakai sabun, ekor hidrofobik molekul sabun akan berusaha menghindari air dengan cara menusuk masuk ke dalam lapisan lemak pelindung mikroorganisme.

Molekul sabun bertindak seperti "linggis" yang mampu membongkar dan mengacaukan struktur membran lipid tersebut. Akibatnya, mikroorganisme itu hancur, isinya tumpah keluar, dan mati.

2. Mengangkat serta Menangkap Kotoran dan Kuman

Selain menghancurkan kuman secara kimiawi, sabun juga bekerja dengan cara memisahkan kotoran dari kulit. Terdapat ikatan kimia yang membuat kuman dan kotoran menempel pada permukaan kulit, dan sabun mampu merusak ikatan kimia tersebut.

Setelah kuman dan kotoran terlepas, molekul sabun akan membentuk struktur bola/gelembung kecil yang disebut misel. Misel ini memerangkap kotoran dan kuman di dalamnya.

3. Kotoran dan Kuman Mudah Dibilas Hingga Bersih

Setelah kuman dan kotoran terperangkap di dalam misel, mereka lebih mudah dibersihkan. Saat dibilas dengan air mengalir, semua mikroorganisme yang telah rusak, mati, atau terperangkap tadi akan ikut hanyut terbawa air.

Ilustrasi Cuci Tangan

Ilustrasi Sabun. FOTO/iStockphoto

Mana yang Lebih Higienis?

Cara kerja sabun cair dan sabun batang tak jauh berbeda. Namun, jika berbicara soal kehigienisan, keduanya bisa berbeda jika tidak disimpan dengan benar.

Sabun cair biasanya disimpan dalam botol atau tube tertutup sehingga formula sabun tidak langsung terpapar lingkungan luar dan tidak terkena sentuhan dari banyak orang. Ini membuat sabun cair cenderung dianggap lebih higienis.

Sementara itu, sabun batang berada langsung di rak sabun atau wadah tanpa penutup. Karena sering terkena tetesan air dan kontak langsung dengan kulit, ada anggapan bahwa sabun batang bisa menjadi tempat berkumpulnya bakteri.

Namun, sebuah studi berjudul Washing with Contaminated Bar Sap is Unlikely to Transfer Bacteria yang menunjukkan bahwa bakteri yang menempel di sabun batang kecil kemungkinan untuk berpindah ke kulit dalam jumlah signifikan saat dipakai.

Jadi, sabun cair memang memang dianggap lebih higienis, terutama dalam penggunaan bersama karena kemasan tertutupnya. Namun, jika sabun batang disimpan dengan benar (di tempat yang bersih), efektivitas pembersihannya juga tetap kuat dan tidak otomatis lebih kotor hanya karena bentuknya yang berbeda.

Pengaruh ke Jenis Kulit

Mengingat kandungan bahan dan proses pembuatannya yang berbeda, sabun cair dan sabun batang bisa membawa pengaruh yang berbeda pula pada setiap jenis kulit.

Kulit kering cenderung membutuhkan kelembapan ekstra dan mungkin tidak cocok menggunakan sabun batang. Sabun batang biasanya memiliki pH yang lebih tinggi dan bisa menghapus minyak alami kulit lebih kuat daripada sabun cair.

Dikutip dari situs InStyle, dermatolog Navin Arora, D.O., FAAD, menjelaskan bahwa sabun batang berpotensi merusak skin barrier kulit karena pH-nya yang tak cocok dengan pH alami kulit.

"pH alami kulit sedikit asam, sekitar 4,5 hingga 5,5, sedangkan sabun batangan biasanya memiliki pH yang lebih tinggi sehingga menghilangkan minyak alami kulit dan mengganggu lapisan pelindungnya. Hal ini dapat menyebabkan kekeringan, iritasi, dan bahkan memperburuk kondisi seperti eksim," jelas Dr. Arora.

Untuk kulit berminyak, sabun batang kadang menjadi pilihan karena kemampuannya yang lebih kuat dalam mengangkat minyak berlebih.

Sementara untuk kulit sensitif, ada dua opsi yang bisa dipilih. Dr. Arora menyarankan pada pemilik kulit sensitif untuk memakai sabun cair karena sabun jenis ini biasanya lebih lembut dan dilengkapi dengan bahan pelembap.

Namun, sebagian dermatolog lain juga berpendapat bahwa kulit sensitif sebaiknya memilih sabun batang ketimbang sabun cair yang kandungan bahannya lebih kompleks.

Dilansir dari Byrdie, ahli dermatologi Dr. Hayley Goldbach, MD, FAAD, menjelaskan bahwa sabun batangan biasanya tidak mengandung bahan-bahan yang berpotensi menyebabkan iritasi. Ini berarti risiko alergi lebih kecil dan sabun batang lebih direkomendasikan bagi kulit sensitif.

Praktis vs Ekonomis: Pilih yang Mana?

Ilustrasi Sabun Cair vs Sabun Batang

Ilustrasi Sabun Cair vs Sabun Batang. FOTO/iStockphoto

Dari segi kepraktisan, sabun cair sering dianggap lebih praktis karena penggunaannya cukup dituang atau dipompa. Dikemas dalam botol atau tube, sabun cair juga lebih mudah disimpan, mudah dibawa ke mana saja, dan minim kontak dengan kulit ketika digunakan sehingga lebih higienis.

Hal ini berbeda dengan sabun batang. Ketika kemasan atau bungkusnya dibuka, sabun batang umumnya ditaruh dalam wadah khusus dan dibiarkan terbuka.

Cara penggunaan sabun batang juga harus kontak dengan kulit sepenuhnya atau digenggam. Karena sabun yang terkena air akan sangat licin, tak jarang pula sabun terselip dari tangan dan jatuh. Jadi, sabun cair masih dianggap lebih praktis dibandingkan dengan sabun batang.

Akan tetapi, dari segi harga, sabun batang secara umum jauh lebih ekonomis dibandingkan sabun cair karena memiliki harga satuan yang lebih murah. Selain itu, karena bentuknya yang padat, masa pakai sabun batang juga cenderung lebih lama.

Jadi, mana yang lebih baik? Tidak ada jawaban yang cocok bagi semua orang karena setiap jenis sabun memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sabun cair unggul dari sisi kenyamanan penggunaan, sedangkan sabun batang unggul dalam hal biaya yang lebih kecil. Pilihan terbaik tergantung pada kebutuhan kulit, seberapa penting faktor higienis dan kenyamanan, dan apakah lebih memprioritaskan kepraktisan atau harga.

Dampak Lingkungan dari Sabun Batang dan Cair

Ilustrasi Sabun Pembersih

Ilustrasi Sabun. https://unsplash.com/.Aurélia Dubois

Bagi sebagian orang, memilih sabun bukan hanya soal kepraktisan, harga, atau kecocokan dengan jenis kulit, tapi juga mempertimbangkan dampak lingkungan dari kedua produk ini. Antara sabun batang dan cair, mana yang memiliki dampak lingkungan paling minim?

1. Kemasan

Salah satu perbedaan paling mencolok antara sabun batang dan sabun cair adalah jenis kemasan yang digunakan. Sabun batang biasanya hadir dengan kemasan minimal, sering kali berupa kertas atau karton yang lebih mudah terurai atau didaur ulang.

Sebaliknya, sabun cair, termasuk versi refill, hampir selalu dikemas dalam botol maupun pouch plastik. Hal ini dapat meningkatkan jumlah sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan dan nantinya dapat mencemari lingkungan.

2. Jejak Karbon

Dari sisi jejak karbon, sabun batangan cenderung lebih unggul dibandingkan sabun cair. Hal ini terungkap dalam jurnal Comparing the Environmental Footprints of Home-Care and Personal-Hygiene Products: The Relevance of Different Life-Cycle Phases.

Dalam studi tersebut, sabun cair memiliki jejak karbon hampir dua kali lipat dari sabun batang. Hal ini disebabkan oleh perbedaan produksi bahan kimia maupun pengemasan.

Sabun cair biasanya menggunakan bahan yang lebih kompleks, dan proses produksi bahan-bahan ini memerlukan energi lebih tinggi sehingga menghasilkan emisi lebih banyak dibandingkan sabun batang yang lebih sederhana dalam hal komposisi.

Selain itu, sabun cair dikemas dalam botol atau pouch plastik yang lebih berat dan lebih banyak material daripada kemasan minimal sabun batang (kertas atau karton). Pembuatan hingga transportasi/distribusi yang berkaitan dengan kemasan ini juga meningkatkan total emisi secara signifikan.

3. Umur Produk dan Limbah

Dengan harga yang sama, sabun cair umumnya memiliki umur pakai yang lebih pendek (tidak tahan lama) dibandingkan sabun batang. Jika sudah habis, pengguna akan membuang kemasannya dan membeli sabun cair lagi. Ini otomatis meningkatkan jumlah limbah plastik di lingkungan.

Sebaliknya, sabun batang, dengan umur produk yang lebih panjang dan kemasan yang ramah lingkungan, tentunya lebih unggul dan dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan sabun cair.

4. Biodegradabilitas Bahan

Dikutip dari laman Jurnal STKIPMB, banyak formulasi sabun batang yang menggunakan bahan-bahan biodegradable atau mudah terurai. Jadi, setelah digunakan, residu sabun yang masuk ke aliran air tidak akan bertahan lama di lingkungan.

Di pihak lain, sabun cair sering kali mengandung zat kimia, termasuk pengawet, yang sulit terurai dan bisa mencemari lingkungan.

Jadi, Sabun Mana yang Lebih Baik untuk Kulit?

Ilustrasi Sabun Pencerah

Ilustrasi Sabun. FOTO/iStockphoto

Ketika membahas kesehatan kulit, tidak ada satu jawaban universal karena efektivitas sabun sangat tergantung pada jenis kulit dan kebutuhan pribadi.

Sabun cair sering diformulasikan dengan pelembap tambahan, pH yang seimbang, dan bahan lembut sehingga cocok untuk kulit kering, sensitif, atau bagi mereka yang menginginkan pengalaman mandi yang lebih nyaman dan mewah.

Sabun batang, meskipun sederhana, juga efektif membersihkan kulit, bahkan bisa cocok untuk kulit sensitif karena kandungan bahan yang lebih sederhana. Di sisi lain, sabun batang modern juga sudah banyak yang diberi tambahan pelembap atau bahan lain yang bermanfaat bagi kesehatan kulit.

Jadi, pilihan sabun yang tepat sebaiknya mempertimbangkan reaksi kulit terhadap bahan tertentu, frekuensi penggunaan, dan preferensi tekstur maupun aroma.

Namun, jika dilihat dari perspektif kesehatan kulit sekaligus lingkungan, sabun batang menawarkan manfaat ganda, yaitu membersihkan kulit dengan efektif sekaligus lebih ramah lingkungan, lebih tahan lama, dan terbuat dari bahan yang mudah terurai.

Demikian penjelasan terkait sabun cair dan sabun batang, serta mana yang lebih baik di antara keduanya. Pada akhirnya, pilihan sabun terbaik sangat bergantung pada kebutuhan kulit, preferensi pribadi, dan kesadaran terhadap lingkungan.

Dengan memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis sabun, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat, praktis, dan ramah lingkungan dalam rutinitas perawatan harian.

Butuh informasi lain seputar sabun maupun perawatan kulit? Temukan rekomendasi produk hingga tips-tips bermanfaat melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Perawatan Kulit

Baca juga artikel terkait SABUN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani