Menuju konten utama

Rupiah Melemah, Purbaya: Keuntungan Penjual Tahu Tempe Tergerus

Menkeu Purbaya pacu sinergi fiskal-moneter demi stabilkan rupiah, guna pangkas biaya produksi impor dan dongkrak profit pedagang tahu-tempe yang tergerus.

Rupiah Melemah, Purbaya: Keuntungan Penjual Tahu Tempe Tergerus
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kompleks Kejagung, Jumat (10/4/2026). tirto.id/Nanda Aria Putra

tirto.id - Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Salah satu kelompok yang disebut terdampak oleh pelemahan rupiah adalah pedagang tempe dan tahu yang menggunakan bahan baku impor sebagai bahan produksi.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers bersama Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Mensesneg Prasetyo Hadi di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Purbaya, pelemahan nilai tukar rupiah telah menambah biaya produksi bagi sejumlah pelaku usaha. Kondisi tersebut, kata dia, berdampak pada margin keuntungan pedagang dan berpotensi mendorong kenaikan harga jual kepada konsumen.

“Saya dengar penjual tempe, penjual tahu sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya masih diimpor. Yang jelas itu kan menaikkan cost of production mereka,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat sinergi dengan bank sentral agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras. Purbaya menilai koordinasi yang lebih erat antarlembaga akan membuat dampak kebijakan ekonomi lebih terasa, baik pada tingkat makro maupun mikro.

“Dengan nanti kebijakan yang bagus itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak mengalami kenaikan beban hidup secara signifikan,” ujarnya.

Purbaya menegaskan bahwa tujuan utama sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter tidak hanya untuk menjaga indikator ekonomi makro, melainkan juga memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai tukar rupiah sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan, tidak akan melemah lagi ke level yang lebih tinggi dari sekarang. Yang penting adalah kita ingin melihat dampak ke masyarakat yang positif dari rupiah itu,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menekankan pentingnya koordinasi yang erat antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi guna menjaga stabilitas sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan saat ini.

Prasetyo menilai pertemuan yang melibatkan pemerintah, otoritas fiskal, dan otoritas moneter menjadi sinyal positif mengenai kesamaan komitmen dalam menjaga kondisi perekonomian nasional.

“Saya kira ini sebuah gambaran sinyal yang memang kita harapkan, terjadinya koordinasi yang erat, koordinasi yang intens di antara seluruh pemangku kepentingan ekonomi di dalam rangka tadi menjaga baik moneter maupun fiskal kita terus berada di posisi yang kita harapkan,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Menurut Prasetyo, tantangan ekonomi saat ini menuntut kerja sama yang semakin kuat antarlembaga. Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter harus saling mendukung agar dampaknya terhadap perekonomian menjadi lebih optimal.

“Dalam situasi hari ini menuntut kerja sama di antara kita semua. Kebijakan-kebijakan harus saling mendukung, saling memperkuat satu sama lain, baik dari sisi ekonomi makro, di moneter yang diperankan Bank Indonesia maupun di sisi fiskal yang dikendalikan oleh Menteri Keuangan,” ujarnya.

Prasetyo juga menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia masih berada pada level yang cukup kuat. Meski demikian, pemerintah tetap berupaya mendorong berbagai program untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, sektor pangan, energi, perikanan, industrialisasi, dan digitalisasi menjadi beberapa fokus utama pemerintah dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ke depan.

“Ke depan semoga kita tetap optimis untuk menjalankan tugas dan posisi kita, dan semoga bersama-sama menjaga ekonomi kita tetap kuat, tetap tumbuh, dan berkenaan dengan masalah nilai tukar supaya bisa segera kembali seperti yang kita harapkan,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PELEMAHAN RUPIAH atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - Flash News
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fahreza Rizky