Menuju konten utama

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.049 per Dolar AS

Kurs rupiah ditutup melemah ke level Rp18.049 per dolar AS hari ini akibat sentimen eksternal dan internal.

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.049 per Dolar AS
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing VIP (Valuta Inti Prima) Money Changer, Jakarta, Jumat (1/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp18.049 pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026). Rupiah melemah 82 poin atau 0,46 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.967.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, melemahnya rupiah dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal melemahnya rupiah, kekhawatiran yang meningkat imbas harga minyak mentah tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen.

Hal itu juga membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas. Selain itu, pasar dinilai gelisah atas potensi reklasifikasi MSCI terhadap pasar modal.

"Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor," ucap Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.

"Kemudian, Moodys’s Ratings memberikan peringkat pertamanya untuk PT Danantara Investment Management pada level Baa2," sambung dia.

Ibrahim mengingatkan, peringkat sementara untuk global medium-term note juga belum diterbitkan oleh Danantara Investment Management. Di satu sisi, Moody’s menyampaikan, outlook peringkat Danantara Investment Management berada di level negatif.

Kata dia, terkait outlook negatif tersebut, Moody’s menilai berdasar kaitan antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah RI sebagai pemilik penuh Danantara.

"Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak sejalan dengan peringkat sovereign Indonesia. Peringkat Danantara Investment Management bisa turun, jika peringkat sovereign Indonesia melemah," sebutnya.

Ibrahim melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, investor berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.

Sementara itu, Pemerintah AS mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, meskipun kesepakatan tersebut bergantung pada penghentian permusuhan oleh Hizbullah.

Di satu sisi, terdapat serangan rudal Iran terhadap Kuwait dan Bahrain, serta serangan AS terhadap Pulau Qeshm di dekat Selat Hormuz. Lalu, pasukan Israel memperluas operasi militer di Lebanon selatan.

"Di AS, DPR yang dipimpin Partai Republik menyetujui resolusi untuk mencegah Trump melanjutkan perang melawan Iran. Agar berlaku, resolusi tersebut membutuhkan persetujuan Senat dan mayoritas dua pertiga di kedua kamar untuk mengesampingkan veto Trump yang hampir pasti," ucap Ibrahim.

Kata dia, perhatian beralih ke data ekonomi AS, yakni soal laporan penggajian non-pertanian. Data dari perusahaan pemroses penggajian ADP menunjukkan, perusahaan swasta AS menambah 122.000 pekerjaan pada Mei 2026 atau melebihi ekspektasi ekonom.

"Survei ISM menunjukkan bahwa ukuran harga yang dibayarkan oleh bisnis jasa AS melonjak ke level tertinggi sejak 2022, didorong oleh biaya yang lebih tinggi untuk produk minyak bumi dan komoditas lainnya. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," urai Ibrahim.

Baca juga artikel terkait KURS RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah