Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Rp17.966 per US$, Diramal ke Rp19.000 Bulan Ini

Jika dolar menembus Rp18 ribu pada pekan ini, nilai tukar rupiah diprediksi akan menembus Rp19 ribu per dolar AS pada akhir Juni 2026.

Rupiah Ditutup Rp17.966 per US$, Diramal ke Rp19.000 Bulan Ini
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.966 pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026). Rupiah melemah 127,5 poin atau 0,71 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.839.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, jika menembus Rp18 ribu pada pekan ini, nilai tukar rupiah diprediksi akan menembus Rp19 ribu pada Juni 2026. "Kalau minggu ini jebol Rp18 ribu, sampai akhir Juni diprediksi bisa tembus Rp19 ribu," ucapnya dalam keterangan kepada media.

Menurut Ibrahim, kenaikan inflasi Mei 2026 menjadi 0,28 persen secara bulanan dari 0,13 persen pada April ikut menekan rupiah. Inflasi dipicu harga pangan, energi, administered prices, serta pelemahan rupiah.

Di sisi lain, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut tajam menjadi 89,1 juta dolar AS meski tren surplus telah berlangsung 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus terutama ditopang sektor nonmigas sebesar 3,53 miliar dolar AS.

Menurut Ibrahim, penyempitan surplus mencerminkan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat terganggunya pasokan global pasca blokade Selat Hormuz.

Dari eksternal, rupiah juga tertekan ketegangan Timur Tengah setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, Iran menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain, serta serangan AS di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz.

Selain itu, pasar masih dibayangi ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan spekulasi suku bunga tinggi The Fed menyusul kenaikan harga minyak dan membaiknya data tenaga kerja AS.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana