tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.966 pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026). Rupiah melemah 127,5 poin atau 0,71 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.839.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan, jika menembus Rp18 ribu pada pekan ini, nilai tukar rupiah diprediksi akan menembus Rp19 ribu pada Juni 2026. "Kalau minggu ini jebol Rp18 ribu, sampai akhir Juni diprediksi bisa tembus Rp19 ribu," ucapnya dalam keterangan kepada media.
Menurut Ibrahim, kenaikan inflasi Mei 2026 menjadi 0,28 persen secara bulanan dari 0,13 persen pada April ikut menekan rupiah. Inflasi dipicu harga pangan, energi, administered prices, serta pelemahan rupiah.
Di sisi lain, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut tajam menjadi 89,1 juta dolar AS meski tren surplus telah berlangsung 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus terutama ditopang sektor nonmigas sebesar 3,53 miliar dolar AS.
Menurut Ibrahim, penyempitan surplus mencerminkan tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat terganggunya pasokan global pasca blokade Selat Hormuz.
Dari eksternal, rupiah juga tertekan ketegangan Timur Tengah setelah Israel melanjutkan operasi militer di Lebanon selatan, Iran menembakkan rudal ke Kuwait dan Bahrain, serta serangan AS di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz.
Selain itu, pasar masih dibayangi ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan spekulasi suku bunga tinggi The Fed menyusul kenaikan harga minyak dan membaiknya data tenaga kerja AS.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































