Menuju konten utama

Rupiah Ambrol ke Rp17.955 per US$ Siang Ini

Mata uang Garuda turun 116 poin atau 0,65 persen terhadap greenback pada perdagangan siang ini.

Rupiah Ambrol ke Rp17.955 per US$ Siang Ini
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah kembali mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda tercatat bertengger di level 17.955 per dolar AS pada pukul 14.00 WIB.

Penurunan secara bertahap terjadi setelah rupiah dibuka melemah di posisi Rp17.896 per dolar AS pada perdagangan pagi tadi, Rabu (3/6/2026). Sementara dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya, mata uang Garuda turun 116 poin atau 0,65 persen terhadap greenback.

Menurut Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, rupiah melemah dipengaruhi beberapa faktor. Dari sisi eksternal, penguatan harga acuan minyak mentah dunia, Brent dan West Texas Intermediate (WTI) membuat rupiah tidak berdaya.

“Rupiah kembali mengalami pelemahan akibat menguatnya minyak mentah dunia WTI di 94,58 dolar AS per barel, kemudian Brent crude oil inipun juga mengalami penguatan di 96,72 dolar AS per barel, dan dolar ya tadi pagi ya terjadi gap up (lonjakan penguatan),” ujar dia dalam keterangan kepada awak media, dikutip Rabu (3/6/2026).

Selain itu, pembicaraan gencatan senjata antara AS dan Iran juga tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.

Dengan tingginya harga minyak ini, membuat ongkos transportasi dan logistik mengalami lonjakan, yang pada akhirnya mendorong terjadinya kenaikan inflasi di berbagai belahan dunia, tidak terkecuali AS. “Ini yang yang cukup menarik ya, sehingga apa? Sehingga Bank Sentral Amerika kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” lanjut Ibrahim.

Dari sisi internal, pelemahan mata uang Garuda terhadap greenback juga didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dunia. Kata Ibrahim, tren tinggi harga minyak mentah global membuat permintaan terhadap dolar cukup tinggi.

Dalam hal ini, Indonesia membutuhkan banyak pasokan dolar untuk mencukupi kebutuhan impor minyak mentah yang begitu besar, cadangan devisa, hingga pembayaran utang jatuh tempo.

“Di sisi lain pun juga masyarakat juga terus memindahkan dananya juga dari tabungan konvensional ke tabungan valas. Ini yang membuat harga-harga juga terus mengalami pelemahan yang signifikan,” lanjutnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana