Menuju konten utama

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.382 per US$

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.382 pada perdagangan hari ini, Jumat (8/5/2026). Apa saja faktornya?

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.382 per US$
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.382 pada perdagangan hari ini, Jumat (8/5/2026). Rupiah melemah 49 poin atau 0,28 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.333

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan hal tersebut dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Ia mengatakan utang pemerintah sampai dengan 31 Maret 2026 tembus Rp9.920,42 triliun.

Posisi ini naik hampir 3 persen dari level periode sampai Desember 2025, yaitu Rp9.637,9 triliun. Posisi utang pemerintah sampai akhir kuartal I tahun 2026 itu setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Perhitungan rasio utang terhadap PDB ini didapatkan dari membagi outstanding utang terbaru yakni Rp9.637,9 triliun, serta akumulasi PDB harga berlaku terbaru, yaitu kuartal I 2026 atau Rp6.187,2 triliun dan tiga kuartal sebelumnya yang keseluruhan mencapai Rp24.341,4 triliun," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Jumat.

Ibrahim berujar, pemerintah mengelola utang secara cermat dan terukur untuk mencapai portofolio utang yang optimal dan mendukung pengembangan pasar keuangan domestik.

Pemerintah disebut terus memperbaiki kinerja penerimaan negara untuk mengimbangi pesatnya kebutuhan pembiayaan APBN. Kendati rasio utang relatif masih di bawah standar internasional yakni 60 persen terhadap PDB, berbagai lembaga internasional turut memerhatikan rasio utang maupun bunganya terhadap penerimaan.

"Sampai dengan kuartal I/2026, defisit APBN sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB. Pembiayaan utang pun sudah terealisasi Rp258,7 triliun atau 31,1 persen terhadap PDB," tuturnya.

"Penerimaan negara, khususnya perpajakan, dinilai sebagai kunci usai lembaga pemeringkat blak-blakan memberi peringatan ke Purbaya ihwal rasio pembayaran bunga utang terhadap PDB," lanjut Ibrahim.

Sementara itu, faktor eksternal menguatnya rupiah, AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang akan mengakhiri pertempuran. Hal ini disebut memungkinkan Selat Hormuz untuk dibuka kembali sepenuhnya, tetapi menunda masalah yang lebih besar. Misalnya, seputar program nuklir Iran.

Namun, pertempuran kembali pecah antara AS dan Iran. Hal ini dinilai mengancam gencatan senjata yang rapuh dan menghancurkan harapan untuk kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Tuduhan Iran bahwa AS melanggar gencatan senjata selama sebulan di antara mereka, sementara AS mengatakan serangannya adalah balasan setelah tembakan Iran pada hari Kamis terhadap kapal angkatan lautnya yang melintas melalui selat tersebut," tuturnya.

"Militer Iran mengatakan AS telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran dan kapal lain serta daerah sipil di selat dan di daratan," lanjut dia.

Kata Ibrahim, fokus pasar adalah data ketenagakerjaan AS untuk bulan April, yang akan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB. Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan pada April 2026.

"Sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve (Fed) terkait kebijakan suku bunga," sebutnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama