Menuju konten utama

Rosan-Purbaya Bakal Bertolak ke Cina Desember Bahas Utang Whoosh

Rosan enggan membeberkan bocoran terkait proposal penyelesaian utang Whoosh yang akan dipaparkan di hadapan China Development Bank (CDB).

Rosan-Purbaya Bakal Bertolak ke Cina Desember Bahas Utang Whoosh
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani berjalan usai mengikuti rapat terbatas Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P. Roeslani; Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, beserta stakeholder terkait lainnya akan bertolak ke Cina untuk membahas penyelesaian utang Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), Whoosh pada Desember 2025.

Namun, sebelumnya Danantara bersama kementerian/lembaga (K/L) terkait, Rosan mengaku masih duduk bersama untuk menyusun proposal upaya penyelesaian utang Whoosh.

“Kita komunikasi terus dengan beliau, dengan Pak Purbaya. Kita duduk dan kita sedang ini juga untuk memastikan bahwa nanti kita ke Cina-nya, kita sudah matang proposalnya. Kita tentunya akan kirim tim advance dulu untuk bicara dengan tim dari Cina, itu sudah berjalan. Tapi nanti gongnya mungkin saya dengan Pak Purbaya,” ungkap Rosan, di sela PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (26/11/2025).

Meski begitu, Rosan enggan membeberkan bocoran terkait proposal penyelesaian utang Whoosh yang akan dipaparkan di hadapan China Development Bank (CDB) dan konsorsium China.

Seperti yang telah diketahui, berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah juga akan turut bertanggungjawab dalam penyelesaian utang Proyek Kereta Cepat senilai 7,27 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp118,37 triliun ini. Dalam komitmennya, Ketua Umum Partai Gerindra tersebut menyatakan kesanggupannya untuk mencicil utang Whoosh Rp1,2 triliun per tahun. Adapun, sumber dana yang digunakan untuk melaksanakan kewajiban tersebut adalah uang sitaan hasil korupsi.

“Duitnya ada. Duit yang tadinya dikorupsi, [setelah diambil negara] saya hemat. Enggak saya kasih kesempatan. Jadi saudara, saya minta bantu saya semua, jangan kasih kesempatan koruptor-koruptor itu merajalela, uang nanti banyak untuk kita," kata dia, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, meski sudah ada mandate dari Presiden, bahwa negara akan bertanggungjawab dalam pembayaran utang Whoosh, namun secara pribadi Purbaya berkali-kali telah menyatakan keengganannya. Menurutnya, jika diberi pilihan, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, lebih memilih untuk tidak mengeluarkan APBN untuk membayar utang Whoosh.

“Kalau saya, mending nggak bayar saya,” ujarnya sambil berseloroh, dalam media briefing, di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (14/11/2025).

Menurut Purbaya, APBN lebih baik digunakan untuk mendanai proyek-proyek Infrastruktur, seperti pembangunan jalan atau Infrastruktur lainnya. Sedangkan, utang proyek Whoosh seharusnya tetap ditanggung oleh PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), maupun Badan pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

“Sebetulnya, kita akan cenderung ... ini belum putus juga. Sepertinya kita akan cenderung membayar jalannya, infrastrukturnya. Rolling stocknya bukan kita yang itu, mereka yang nanggung,” tambah dia.

Baca juga artikel terkait UTANG KERETA CEPAT WHOOSH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra