Menuju konten utama

RI Akan Bangun Pembangkit Listrik Nuklir 500 MW hingga 2034

Pembangunan fisik PLTN ditargetkan mulai berjalan pada 2027.

RI Akan Bangun Pembangkit Listrik Nuklir 500 MW hingga 2034
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam acara Diseminasi RUKN dan RUPTL PLN 2025-2034 di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (2/6/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Pemerintah berencana membangun 500 Megawatt (MW) Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga 2034. Rencana tersebut sebagaimana termaktub dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Tahun 2025-2034 yang menargetkan kenaikan bauran energi baru terbarukan (EBT) hingga 34,3 persen satu dekade mendatang.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan, Indonesia membutuhkan nilai investasi sebesar 188 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara dengan Rp2.967 triliun untuk menambah produksi listrik dalam negeri dalam kurun tersebut. Khus untuk proyek PLTN 0,5 GW, nilai investasi yang dibutuhkan sebesar 3,2 miliar dolar AS.

Kemudian, dia memaparkan bahwa peluang investasi sebesar Rp2.133,7 triliun, sebanyak 73 persennya digelontorkan untuk partisipasi swasta atau Independent Power Producer (IPP).

Lalu, Rp1.5661 triliun dialokasikan untuk sektor swasta untuk investasi pada pembangkit 49,1 GW. Lalu, investasi PLN senilai Rp2.000 triliun untuk pembangkit 20,4 GW senilai Rp567,67 triliun. Dengan begitu apabila di total, maka akan ada tambahan sebesar 69,5 GW kapasitas.

“Total untuk pembangkitan sekitar 2.100 gigawatt, 2.100 triliun atau 69,5 gigawatt. Ini adalah opportunity untuk kita semuanya,” kata Darmawan dalam acara Diseminasi RUKN dan RUPTL PLN 2025-2034 di Kantor Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jakarta, Senin (2/6/2025).

Darmawan juga mengatakan, nilai investasi tersebut rinciannya terdiri dari investasi proyek senilai 171 miliar dolar AS atau setara Rp2.699 triliun dari belanja modal PLN, serta Interest During Construction (IDC) sebesar 17 miliar dolar AS atau setara Rp268 triliun.

“Dengan adanya energi listrik ini maka akan memfasilitasi enabling adanya data center, investasi di industri dan lain-lain sehingga pertumbuhan ekonomi 8 persen,” kata Darmawan.

Kemudian, dia juga menyebut PLN memiliki target untuk menaikkan penjualan listrik untuk periode 2025 hingga 2034 menjadi 511 Terawatt hour (TWh). Target itu naik 200 persen dibandingkan dengan akhir 2024. Rencana itu sebagaimana sesuai dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk periode 2025-2034.

Darmawan menyatakan adapun realisasi penjualan listrik PLN mencapai 306 TWh hingga akhir 2024. Hingga akhir tahun 2034, jumlahnya ditargetkan akan meningkat sebanyak 205 TWh, menjadj 511 TWh. “Untuk tahun 2034 total demand naik dari sekarang 306 TWh di tahun kemarin, naik menjadi 511 TWh,” kata Darmawan.

Lanjutnya, angka itu berdasarkan hasil potensi demand dari dimensi waktu, lokasi, dan kapasitas di seluruh Indonesia. Mulai Dari demand hilirisasi sawit, hilirisasi minerba, demand organik, data center, KI/KEK, maritim, akselerasi EV, penggunaan kompor listrik dan semua possibility demand. “Dan ini sudah mempertimbangkan additional demand, di mana pertumbuhan ekonomi di tahun 2029 akan mencapai 8 persen,” ujarnya.

Darmawan pun memaparkan bahwa demand atau permintaan paling besar diproyeksikan datang dari demand organik di Pulau Jawa, yakni 293 TWh, diikuti demand organik di Pulau Sumatera sebesar 73 Twh.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia baru bisa beroperasi pada 2032 mendatang. Sejumlah regulasi pun telah disiapkan untuk mendukung pembangunan fasilitas nuklir pertama di Indonesia.

“Beberapa regulasinya sudah kita siapkan. Dan, rencana kita di 2030-an, 2032 itu sudah selesai,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/5/2025).

Dengan estimasi tersebut, maka proses pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan pada 2027 mendatang. Proyek awal yang memakan kurang lebih empat sampai lima tahun itu akan dimulai dengan pembangkit berkapasitas kecil, yakni di Bawah 300 megawatt (MW).

“Tapi kita mulai dengan small dulu 250 MW, ujarnya.

PLTN yang akan dibangun itu nantinya akan berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan masing-masing berkapasitas hingga 250 MW. Kedua lokasi yang akan dibangun PLTN tersebut, diklaimnya sudah melalui kajian tim secara komprehensif.

Baca juga artikel terkait NUKLIR atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Hendra Friana