Menuju konten utama

Bahlil Targetkan Pembangkit Nuklir di RI Mulai Beroperasi 2032

Proses pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan pada 2027 mendatang dan diperkirakan memakan waktu lima tahun.

Bahlil Targetkan Pembangkit Nuklir di RI Mulai Beroperasi 2032
Pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi terletak di kota pesisir Okuma dan Futaba, dilihat dari pelabuhan perikanan Ukedo di kota Namie, timur laut Jepang, Rabu, 2 Maret 2022. (AP Photo/Hiro Komae)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia baru bisa beroperasi pada 2032 mendatang. Sejumlah regulasi pun telah disiapkan untuk mendukung pembangunan fasilitas nuklir pertama di Indonesia.

“Beberapa regulasinya sudah kita siapkan. Dan, rencana kita di 2030-an, 2032 itu sudah selesai,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/5/2025).

Dengan estimasi tersebut, maka proses pembangunan fisik ditargetkan mulai berjalan pada 2027 mendatang. Proyek awal yang memakan kurang lebih empat sampai lima tahun itu akan dimulai dengan pembangkit berkapasitas kecil, yakni di Bawah 300 megawatt (MW).

“Tapi kita mulai dengan small dulu 250 MW, ujarnya.

PLTN yang akan dibangun itu nantinya akan berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan masing-masing berkapasitas hingga 250 MW. Kedua lokasi yang akan dibangun PLTN tersebut, diklaimnya sudah melalui kajian tim secara komprehensif.

"Nuklir kenapa di situ, sudah lewat kajian tim. Yang jelas ada beberapa lokasi, tapi dicek kelayakannya. Kedua menyangkut apakah yang dilakukan efektif," jelas dia.

Sebelumnya Utusan Khusus Presiden Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, menyebut sebanyak lima perusahaan tenaga nuklir internasional telah menyampaikan ketertarikannya untuk bergabung dalam rencana tersebut.

Beberapa perusahaan itu adalah perusahaan nuklir negara Rusia Rosatom, China National Nuclear Corporation, Rolls Royce dari Inggris, EDF dari Prancis, dan perusahaan reaktor modular kecil AS NuScale Power Corporation.

“Saya pikir mungkin saja mereka akan berinvestasi bersama dengan lembaga seperti Danantara,” katanya.

Hanya saja, hingga kini belum ada keputusan yang dibuat tentang lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Mengingat topik lokasi PLTN sendiri pun merupakan isu kontroversial bagi negara yang berada di Cincin Api Pasifik, di mana tempat berbagai lempeng di kerak Bumi bertemu sehingga meningkatkan risiko gempa bumi dan aktivitas gunung berapi.

Meski demikian, dia mengatakan wilayah Indonesia bagian barat cocok untuk pembangkit nuklir tunggal yang bisa menghasilkan daya sekitar 1 GW. Sementara untuk wilayah timur, lebih cocok untuk pembangkit nuklir modular kecil terapung yang dapat menghasilkan hingga 700 megawatt.

Baca juga artikel terkait PLTN atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra