Menuju konten utama

Purbaya Beberkan Data Ekonomi ke Prabowo, Tepis Isu Resesi

Purbaya meyakinkan Presiden bahwa kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan yang amat baik

Purbaya Beberkan Data Ekonomi ke Prabowo, Tepis Isu Resesi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komite IV DPD di Kompleks Parlemen, Senaya, Jakarta, Senin (3/11/2025). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa meyakini banyak investor masih percaya pada kekuatan fondasi ekonomi Indonesia, meski dunia tengah dilanda ketidakpastian akibat meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Keyakinan itu tercermin dari aliran modal pada instrumen keuangan domestik. Pada Maret, aliran modal keluar hanya terjadi di instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp700 miliar. Sebaliknya, aliran modal masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp2,2 triliun. Pasar saham juga masih mencatatkan aliran dana masuk dengan nilai yang sama.

"Jadi setelah gonjang-ganjing gonjang-ganjing di bulan Maret sebetulnya masih masuk ke sini Pak. Artinya, mereka percaya betul bahwa pondasi kita bagus. Ini kalau investor-investor yang asli seperti ini Pak, karena mereka taruh uang," kata Purbaya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).

Selain itu, Purbaya juga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang sangat baik. Salah satu indikatornya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang pada Februari mencapai level 53,8—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

"Kalau kita lihat dari purchasing manager index yang merah ini di bulan Februari itu levelnya 53,8 tertinggi dalam berapa tahun terakhir. Jadi betul-betul ada perbaikan yang kuat di sektor manufacture," jelas Purbaya.

Ia menambahkan, indikator tersebut menunjukkan bahwa sisi penawaran (supply) ekonomi sedang tumbuh kuat. Data PMI tersebut juga berasal dari lembaga di luar Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga menjadi konfirmasi tambahan bahwa perekonomian Indonesia memang sedang mengalami pertumbuhan.

Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa jika faktor subsidi listrik pada Januari-Februari tahun lalu dikeluarkan dari perhitungan, tingkat inflasi Indonesia sebenarnya hanya sekitar 2,59 persen. Kondisi ini menunjukkan ekonomi masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih cepat tanpa mengalami tekanan berlebih.

Purbaya juga menepis pandangan sebagian pihak yang menyebut ekonomi Indonesia berada di ambang resesi. Ia menilai berbagai indikator justru menunjukkan adanya percepatan aktivitas ekonomi.

"Katanya kita sudah resesi Pak. Ekonom- ekonom yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi tinggal hancurnya," tegas Purbaya. Menurutnya, hal itu tidak sejalan dengan berbagai indikator yang ada, seperti kenaikan PMI manufaktur serta indeks optimisme masyarakat seperti Mandiri Spending Index yang menunjukkan tren meningkat.

"Padahal kalau kita lihat dari tadi PMI naik ke level yang tinggi, terus kita lihat Mandiri MSI, Mandiri index, itu sekarang di 360,7 yang kiri atas tuh yang biru tebal, dan kita lihat trennya naik ke atas. Itu yang penting kita sedang memang mengalami akselerasi," tegas Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana