tirto.id - Admin akun Instagram Gejayan Memanggil, @gejayanmemanggil, Syahdan Husein (SH) ditangkap Polisi atas dugaan penghasutan para pelajar untuk ikut aksi demo hingga anarkis. Banyak yang kemudian mencari tahu apa itu Gejayan Memanggil dan mengapa menjadi viral.
Gejayan Memanggil adalah nama aksi atau gerakan yang lahir dari gabungan berbagai elemen masyarakat sipil, terutama mahasiswa. Aksi Gejayan memanggil kerap menyuarakan protes terhadap isu-isu politik dan nasional yang sedang bergejolak.
Nama Gejayan Memanggil dipilih karena mempunyai arti yang mendalam, terkait dengan pahlawan revolusi Moses Gatotkaca yang meninggal dunia dalam Peristiwa Gejayan.
Sejarah Gejayan Memanggil dan Sepak Terjangnya
Pada 8 Mei 1998, para mahasiswa melakukan unjuk rasa untuk menuntut reformasi dan turunnya Presiden Soeharto. Massa berorasi di di halaman kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan kampus IKIP Negeri Yogyakarta.
Massa dari dua universitas itu kemudian berencana untuk bergabung dengan para mahasiswa lainnya yang juga menggelar aksi serupa di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, hal itu dihalangi oleh aparat yang tidak memperbolehkan mereka menuju UGM.
Terjadilah bentrokan antara aparat dan massa di Jalan Gejayan. Aparat mencoba memukul mundur massa dengan menyemprotkan gas air mata. Massa pun tak tinggal diam. Mereka tetap berpegangan tangan melaju melawan aparat dengan melempari batu hingga bom molotov.
Ketegangan itu terus berlanjut hingga malam hari. Suasana di Jalan Gejayan mencekam. Para mahasiswa yang sedang berada di posko PMI di Sanata Dharma kemudian mendengar suara rintihan yang berasal dari kerumunan.
Mereka mencoba menuju pusat suara dan mendapati seorang mahasiswa dengan kondisi memprihatinkan. Mereka kemudian membawa korban ke RS Panti Rapih, namun sayangnya dalam perjalanan korban dinyatakan meninggal dunia.
Korban meninggal bernama Moses Gatotkaca. Ia adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma Jogja. Moses saat itu tidak ikut berdemo. Ia hanya ingin membeli makan malam. Aparat menyangka dirinya sebagai salah satu pendemo anarko sehingga menjadi sasaran serangan.
Perjuangan di era reformasi 1998 ini membuat Jalan Gejayan memiliki arti mendalam sebagai pusat perjuangan rakyat terutama mahasiswa yang ingin menyuarakan protes terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah.
Gerakan “Gejayan Memanggil” adalah seruan atau ajakan bagi semua orang untuk turut bersuara terhadap isu-isu nasional seperti perjuangan reformasi dahulu.
Pada tahun 2019, Gejayan Memanggil mulai bergaung di linimasa dengan tagar #GejayanMemanggil. Demonstrasi menuntut revisi RKUHP, penolakan terhadap pelemahan KPK, pengesahan RUU-PKS, penanganan kerusakan lingkungan, serta penolakan pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan dan Pertanahan berlangsung.
Tahun berikutnya yakni di tahun 2020, Gejayan Memanggil kembali bersuara. Kali ini gerakan ini menyatakan penolakan terhadap Undang‑undang Cipta Kerja (Omnibus Law) yang dianggap melemahkan hak rakyat.
Gejayan Memanggil tidak hanya memperjuangkan isu-isu nasional, buktinya di tahun 2021, protes terkait upah minimum di Jogja juga disuarakan.
Pada tahun 2023 dan 2024 para mahasiswa kembali turun ke jalan dalam aksi Gejayan Memanggil untuk menguliti dosa-dosa Pemerintahan Joko Widodo dan ketidakpuasan mereka dengan pasangan Capres-Cawapres pada Pemilu 2024.
Dan pada tahun 2025 ini, Gejayan Memanggil masih vokal terhadap isu nasional yakni kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto termasuk isu kenaikan tunjangan anggota DPR yang memantik kemarahan masyarakat Indonesia.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































