Menuju konten utama

Profil Cilia Flores Istri Nicolas Maduro yang Ikut Ditangkap AS

Profil Cilia Flores, istri Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang turut ditangkap dalam serangan militer AS. Ini perjalanan rekam jejak dan karier Flores.

Profil Cilia Flores Istri Nicolas Maduro yang Ikut Ditangkap AS
Ibu Negara Venezuela, Cilia Flores di Brasil, Mei 2023. (FOTO/Wikipedia Commons)

tirto.id - Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap Amerika Serikat dalam serangan militer Negeri Paman Sam itu di Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.

Dalam serangan pada Sabtu itu, militer AS menyerang Caracas dengan roket helikopter, dilaporkan setidaknya 80 korban tewas termasuk masyarakat sipil, seturut laporan Anadolu.

Menukil BBC, serangan AS juga tak hanya menyasar kawasan tempat tinggal Maduro dan Cilia Flores selaku target, tetapi juga pelabuhan dan bandara di sekitar Caracas.

Setelah ditangkap, Maduro dan Cilia Flores kemudian diangkut tentara ke AS, negara yang telah mendakwa keduanya terlibat kasus migrasi ilegal dan penyelundupan narkoba.

Pada Sabtu itu juga, Maduro terlihat telah berada di markas Badan Penegakan Narkoba (DEA) di New York, AS.

Pada Senin (5/1), Maduro dan Cilia Flores dijadwalkan mengikuti pengadilan atas sejumlah dakwaan terkait penyelundupan narkoba dan migrasi ilegal.

Melalui sosial media bikinannya, Truth Social, Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer untuk menculik Maduro dan istrinya sebagai keberhasilan, sementara banyak negara lain mengecam tindakan tersebut karena dianggap melanggar ketentuan internasional.

Lantas, siapakah Cilia Flores sehingga ikut diculik AS bersama Nicolas Maduro? Mengapa ia ikut dianggap sebagai ancaman bagi AS?

Profil Cilia Flores Istri Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Tidak seperti stereotipe pasangan presiden yang jadi sekadar simbol, Cilia Flores merupakan politikus aktif sebagaimana suaminya, Nicolas Maduro.

Sebelum kini menjadi ibu negara Venezuela, Cilia Flores terlebih dahulu dikenal sebagai politikus dalam lingkaran politik Hugo Chavez, Presiden Venezuela sebelum Maduro.

Pada 1992, ketika Hugo Chavez yang berpangkat letnan kolonel melancarkan kudeta yang gagal terhadap pemerintahan Carlos Andres Perez, Cilia Flores sudah merapat ke barisan Chavez.

Akibat kegagalan kudeta itu, Chavez ditangkap dan Cilia Flores kemudian menjadi salah satu pengacara untuk pembebasan Chavez dari penjara akibat kudeta.

Keterlibatan Cilia Flores dalam gerakan Chavismo itu kemudian mempertemukannya dengan Nicolas Maduro. Kala itu, Maduro juga pendukung Chavismo, ia merupakan salah satu jaringan sipil pendukung gerakan sosialis pimpinan Hugo Chavez itu.

Cilia Flores dan Maduro disebut sudah memiliki hubungan romantis sejak era 1990-an itu, meski keduanya baru menikah pada 2013 ketika Maduro jadi presiden.

Setelah Hugo Chavez dan kelompok perwira pemberontak (MBR-200) bebas pada 1994, pemimpin kudeta yang gagal itu lalu berpolitik lewat partai Movimiento V República (MVR, Gerakan V Republik).

Partai yang jadi cikal bakal Partai Sosialis Bersatu Venezuela (PSUV) itu kemudian jadi tempat bernaung Cilia Flores. Cilia termasuk dalam kader partai tersebut.

Cilia Flores kemudian terlibat dalam perumusan strategi hukum untuk memastikan Chavez bisa mencalonkan diri dalam pemilu kendati punya rekam jejak upaya kudeta.

Ketika Hugo Chavez betulan mencalonkan diri dalam pemilu 1998 dan memenangkannya, Cilia Flores tak serta merta masuk dalam struktur kekuasaan eksekutif negara tersebut.

Alih-alih menjadi menteri atau kepala staf kepresidenan, Cilia Flores justru meniti karier di legislatif. Pada 2006, ia merupakan perempuan pertama yang menjabat Ketua Majelis Nasional (Asamblea Nacional) sepanjang sejarah Venezuela.

Posisi tersebut membuat Cilia Flores jadi orang penting bagi pemerintahan Chavez. Sepanjang kepemimpinan Cilia di Majelis Nasional, lembaga legislatif Venezuela itu menerbitkan sejumlah undang-undang kontroversial, termasuk UU Kuasa Penuh (Ley Habilitante).

Diterbitkannya UU Kuasa Penuh itu kemudian memungkinkan Chaves untuk mendapatkan kekuasaan absolut melalui dekrit, juga kemudian membuat kebijakan kontroversial seperti menasionalisasi industri strategis dan media massa.

Kemudian, pada 2012, Chavez yang masih berkuasa menunjuk Cilia Flores sebagai Jaksa Agung (Procuradora General de la República).

Setahun berselang, pada 2013, Chavez meninggal dunia dan jabatannya kemudian beralih ke tangan Nicolas Maduro. Pada tahun itu pula, Nicolas Maduro dan Cilia Flores melangsungkan pernikahan.

Sejak resmi menjadi ibu negara, Cilia Flores jadi lebih jarang muncul di publik sebagai politikus. Namun, oleh banyak pihak, Cilia Flores dianggap sebagai tokoh penting di balik terciptanya transisi kekuasaan dari Hugo Chavez ke Nicolas Maduro.

Rekam jejak Cilia Flores sebagai pengacara pembela Chavez dan kelompok perwira pemberontak pasca kudeta yang gagal pada 1992 dianggap jadi pemulus bagi pemerintahan Maduro mendapatkan simpati dari faksi militer dan internal PSUV.

Akan tetapi, sepanjang karier politiknya, Cilia Flores sempat menerima kritik dan tuduhan telah melakukan nepotisme sistematis.

Ketika menjabat sebagai Ketua Majelis Nasional dan Jaksa Agung, Cilia dituduh telah menempatkan puluhan anggota keluarganya di posisi kunci administrasi negara.

Hal itu diduga dilakukan Cilia untuk mengamankan sejumlah posisi strategis dengan menempatkan para loyalisnya demi menjamin kelancaran keinginan rezim Chavez.

Selain itu, pada 2015, dua keponakan Cilia ditangkap Badan Penegakan Narkoba (DEA) AS. Mereka kedapatan tengah menyelundupkan 800 kilogram kokain ke AS.

Dalam persidangan, kedua keponakan Cilia itu menyebut memanfaatkan kekuasaan bibinya untuk mempermudah aksi penyelundupan kokain tersebut.

Kemudian pada 3 Januari 2026, Cilia Flores dan suaminya, Nicolas Maduro, diculik militer AS dalam serangan udara di Caracas.

Menukil CNN Venezuela, otoritas penegak hukum AS telah mengajukan dakwaan terkait konspirasi "narkoterorisme", penyelundupan kokain, serta kepemilikan dan konspirasi penggunaan senjata berat.

Hubungan diplomasi antara Venezuela dan AS sendiri telah lama memburuk, terutama sejak Hugo Chavez naik ke tampuk kekuasaan sebagai presiden.

Chavez menggunakan retorika anti-Amerika sebagai cara mendulang suara, ia juga menjalankan kebijakan nasionalisasi perusahaan ekstraktif yang berdampak pada perusahaan-perusahaan minyak AS di sana, seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips.

Sementara itu, Nicolas Maduro naik sebagai presiden sebagai suksesor Chavez yang turut membawa serta retorika anti-AS dalam pemerintahannya.

Hubungan keduanya mencapai puncak setelah Maduro dan Cilia dianggap sebagai kriminal oleh AS dalam dugaan keterlibatan dalam penyelundupan narkoba, kepemilikan senjata berat, dan migrasi ilegal.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS VS VENEZUELA atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Aktual dan Tren
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan