Menuju konten utama

Prediksi Harga Emas April 2026, Naik atau Turun?

Harga emas bulan April 2026 diprediksi masih fluktuatif. Harga tertekan suku bunga tinggi, inflasi, dan konflik geopolitik meski berstatus aset safe-haven.

Prediksi Harga Emas April 2026, Naik atau Turun?
Pekerja menunjukkan emas batangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.

tirto.id - Memasuki bulan April 2026, pergerakan harga emas dunia diprediksi masih dalam fase volatilitas tinggi. Sebelumnya harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada level 5.595 dolar AS per troy ons, bulan Januari 2026.

Saat ini harga emas dunia menghadapi tekanan dari berbagai faktor, mulai dari sektor geopolitik hingga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Sebagai pembanding, harga emas Antam di Indonesia pecah rekor di angka Rp3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026. Akan tetapi harga tersebut sudah mulai turun menjadi Rp 2.850.000 per gram, pada 25 Maret 2026.

Harga Emas Anjlok Usai Rekor Tertinggi

Hingga akhir Maret 2026, harga emas dunia bergerak di kisaran 4.400 sampai 4.450 dolar AS per troy ons. Jumlah itu turun sekitar 15 sampai 22 persen, dibanding harga puncaknya pada awal tahun.

Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran-AS, yang kini memasuki pekan keempat. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga energi global serta memperkuat tekanan inflasi.

Dalam situasi normal, emas kerap menjadi aset safe-haven ketika ketidakpastian meningkat.

Tapi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia justru mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), bakal mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kebijakan tersebut membuat instrumen investasi berbasis bunga seperti obligasi atau surat utang pemerintah menjadi lebih menguntungkan di mata investor, jika dibanding membeli emas dengan harga yang masih terbilang tinggi.

Analisis World Gold Council: Tekanan Masih Berlanjut

Laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang rilis pada 23 Maret 2026, memperkuat gambaran tekanan di pasar emas dunia.

Dalam laporan bertajuk Weekly Markets Monitor tersebut, WGC mencatat pekan sebelumnya terdapat pertemuan bank sentral utama dunia, seperti Federal Reserve, European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), dan Bank of Japan (BoJ). Mayoritas dari mereka masih menahan suku bunga acuan.

Kendati tidak menaikkan suku bunga, bank-bank sentral tersebut menyoroti naiknya risiko inflasi dan memberi sinyal kebijakan hawkish, yakni kecenderungan untuk tetap ketat atau bahkan menaikkan suku bunga demi menekan inflasi.

Sikap ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi atau yield, atau keuntungan yang diperoleh investor dari hasil membeli obligasi atau surat utang pemerintah.

Kenaikan yield berdampak langsung kepada harga emas. Pasalnya emas tidak memberi bunga atau imbal hasil, hal ini menjadi kurang menarik dibanding obligasi ketika yield meningkat.

Akibatnya investor beralih ke obligasi, mengakibatkan harga emas turun. Penurunan bahkan sempat menyentuh level terendah baru sepanjang periode 2026.

Secara teknikal, WGC mengidentifikasi level support emas di kisaran 4.090 sampai 4.066 dolar AS per troy ons. Level support adalah batas harga yang dianggap cukup kuat untuk menahan penurunan harga lebih lanjut, biasanya harga di titik tersebut memicu minat beli investor.

Rentang tadi juga terkait dengan 2 indikator teknis utama. Pertama, 200-day moving average alias rerata harga emas selama 200 hari terakhir, yang dipakai untuk melihat tren jangka panjang.

Kedua, retracement 38,2 persen bagian dari analisis Fibonacci, yakni metode untuk memprediksi titik koreksi harga selepas tren naik dalam periode tertentu. WGC memakai data harga emas sejak 2022 sampai 2026.

WGC menilai pelemahan harga emas saat ini dipicu beberapa faktor.

Salah satunya yaitu kenaikan imbal hasil riil (real yield), yaitu yield obligasi setelah dikurangi inflasi, sehingga mencerminkan keuntungan riil investor. Di samping itu, muncul ekspektasi bahwa suku bunga kebijakan justru berpotensi naik lagi pada 2026.

Faktor lain yang turut menekan harga emas yakni aksi de-leveraging dan profit taking.

De-leveraging merujuk pada langkah investor mengurangi penggunaan dana pinjaman investasi untuk menekan risiko, sementara profit taking adalah aksi menjual emas untuk mengamankan keuntungan setelah harga emas melambung.

Menurut WGC, pergerakan pasar saat ini mirip dengan fase risk-off, yaitu kondisi ketika investor cenderung menghindari aset berisiko dan mencari likuiditas atau keamanan. Situasi serupa pernah terjadi pada krisis keuangan 2008 dan awal pandemi 2020, saat faktor likuiditas atau ketersediaan uang tunai di pasar lebih dominan dibanding faktor fundamental ekonomi.

Di sisi lain, WGC juga menyoroti risiko konflik Timur Tengah yang berpotensi berlarut-larut. Selain memicu ketidakpastian geopolitik, konflik tersebut juga mengerek risiko pelambatan ekonomi dunia dan kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga energi serta bahan baku industri.

Dalam situasi tersebut, WGC menilai pasar emas masih berada dalam fase wait and see, menunggu kejelasan arah kebijakan dan perkembangan global sebelum menentukan tren berikutnya.

Faktor Penting Penentu Harga Emas April 2026

Pergerakan harga emas sepanjang April diprediksi masih bakal dalam fase naik-turun, dipengaruhi sejumlah faktor utama sebagai berikut.

1. Pertemuan FOMC akhir April

Merujuk kalender The Fed atau Bank Sentral AS, agenda penting pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bakal berlangsung pada 28-29 April 2026.

Saat ini, suku bunga acuan berada di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, sesuai hasil kesepakatan pertemuan FOMC sebelumnya pada 17-18 Maret 2026.

Jika pada pertemuan mendatang The Fed memberi sinyal pelonggaran kebijakan atau pemangkasan suku bunga, harga emas berpotensi menguat.

Sebaliknya, jika Bank Sentral AS mengambil sikap hawkish atau menaikkan suku bunga demi menekan inflasi akibat kelangkaan energi, harga emas berpotensi kembali mengalami penurunan harga lebih lanjut.

2. Dinamika geopolitik dan inflasi

Data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi bakal jadi indikator penting arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam yang menentukan pergerakan harga emas.

Konflik Iran-AS berdampak ganda terhadap emas. Statusnya sebagai aset lindung nilai mendukung kenaikan harga, tetapi lonjakan harga minyak akibat terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz memperbesar tekanan inflasi dan berpotensi menurunkan harga emas.

Di samping itu, penurunan harga emas beberapa waktu teakhir juga tak lepas dari menguatnya dolar AS. Salah satunya yakni meningkatnya transaksi minyak menggunakan dolar AS atau dikenal sebagai petrodolar.

Kendati sempat ada wacana dedolarisasi untuk menekan nilai dolar, saat ini situasinya sudah berbeda dibanding Perang Rusia-Ukraina 2022. Saat itu, banyak negara punya opsi untuk membeli minyak murah dari Rusia menggunakan alternatif non-dolar, bagian dari kampanye dedolarisasi.

Adapun saat ini, di tengah isu kelangkaan energi, lebih banyak negara "dipaksa" bertransaksi minyak dengan AS dan menggunakan dolar AS sebagai bagian dari "deal-deal-an" tarif resiprokal serta berbagai manuver Donald Trump lainnya.

Sebagai contoh, Venezuela kini mulai menggunakan dolar AS lagi untuk transaksi minyak mereka selepas AS menangkap presiden Nicolas Maduro awal tahun ini. Adapun Indonesia juga "dipaksa" membeli migas AS menyangkut kesepakatan tarf resiprokal AS-Indonesia.

Faktor-faktor tersebut bikin dolar AS menguat, memengaruhi harga emas, di mana ada kecenderungan nilai emas turun saat dolar AS naik, pun sebaliknya, nilai emas naik ketika nilai dolar AS turun.

Prediksi Harga Emas April: Naik atau Lanjut Turun?

Menimbang kombinasi faktor di atas, harga emas pada April 2026 diprediksi masih bergerak fluktuatif.

Peluang harga emas naik akan terbuka apabila The Fed melunak dengan memangkas suku bunga. Skenario lainnya, tekanan harga masih akan bertahan apabila inflasi tetap tinggi dan suku bunga Federal Reserve tidak segera diturunkan.

Kondisi ini membuat emas berada di persimpangan arah, antara potensi pemulihan atau koreksi lanjutan, bergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Baca juga artikel terkait HARGA EMAS atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama