Menuju konten utama

Potensi Banjir Rob Intai Pesisir Jakarta, Bagaimana Mitigasinya?

Selain cuaca ekstrem, faktor yang memperparah banjir rob di pesisir utara Jakarta adalah penurunan muka tanah.

Potensi Banjir Rob Intai Pesisir Jakarta, Bagaimana Mitigasinya?
Warga berjalan melintasi banjir rob di Muara Angke, Jakarta, Rabu (3/12/2025). ANTARAFOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan potensi terjadinya banjir rob di sejumlah daerah di Indonesia, salah satunya Jakarta. Potensi banjir rob meningkat pada fase perigee—fase saat orbit bulan berada di titik terdekat dari bumi. Fase bulan purnama—yang terdekat jatuh pada 4 dan 20 Desember—juga meningkatkan potensi terjadinya fenomena naiknya air laut ke daratan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan dampak banjir rob di sejumlah daerah, termasuk Jakarta, itu diperparah dengan potensi cuaca ekstrem. Banjir rob disebutnya diperkirakan akan terjadi pada tanggal 29 November sampai 3 Desember dan berlanjut pada masa-masa menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Untuk periode mendekati Nataru, rob diprediksi terjadi di Pantai Utara Jakarta, Banten, dan Pantura Jawa Barat. Ini mohon menjadi perhatian terkait ancaman banjir rob pada periode mendekati Nataru,” ujar Teuku kepada para wartawan di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (1/12/2025).

Untuk itu, Teuku menyebut BMKG akan mengupayakan pemantauan perkembangan cuaca dari 44 radar cuaca yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, BMKG juga akan melakukan pemantauan dengan menggunakan aplikasi Indonesia Weather Information for Shipping (INAWIS), sistem informasi cuaca maritim dan data kelautan bagi nelayan dan pengguna transportasi laut.

“Kita memiliki aplikasi INAWIS untuk memantau wilayah perairan, gelombang tinggi terjadi di mana, tumpukan kapal ada di mana, dan tingkat risiko masing-masing kapal juga ada di di dalam peta ini,” tuturnya.

Di Jakarta, potensi banjir rob yang sudah diperingatkan oleh BMKG akhirnya benar-benar terjadi pada Rabu (3/12/2025) pagi. Banjir rob merendam Jalan RE Martadinata, tepatnya di depan Jakarta International Stadium (JIS), Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketinggian genangan akibat banjir rob itu mencapai 10 sentimeter (cm).

Banjir rob di Jakarta

Warga melintasi genangan rob di Muara Angke, Jakarta, Rabu (25/6/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/foc.

Sementara itu, status tinggi muka air (TMA) di kawasan Pasar Ikan juga naik 2 sentimeter, dari 248 sentimeter menjadi 250 sentimeter, pada Rabu pukul 09.00 WIB dengan status Siaga 2.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan banjir rob di Jalan RE Martadinata bermula sekira pukul 08.30 WIB. Setelah dilakukan penanganan, banjir akhirnya mulai surut pada pukul 12.05 WIB.

“Terdapat genangan banjir di Jalan RE Martadinata setinggi 10 sentimeter," kata Yohan saat dikonfirmasi pada Rabu (3/12/2025), dikutip dari Antara.

Penurunan Muka Tanah

Kepala Bidang Pengendalian Rob dan Pengembangan Pesisir Pantai Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, Ciko Tricanescoro, mengatakan berdasarkan laporan dari BMKG, banjir rob di pesisir utara Jakarta diprediksi akan terjadi pada 2-10 Desember 2025 dan 16-24 Desember 2025.

Banjir rob yang disebabkan oleh fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fenomena fase bulan purnama dan perigee (supermoon) itu akan mencapai puncak pasang maksimum pada pukul 07.00 hingga 13.00 WIB.

Ciko menjelaskan, saat ini terdapat setidaknya tujuh titik rentan terdampak banjir rob di Jakarta Utara, yakni kawasan Tanjungan (sekitar Rumah Pompa Tanjungan dan tambak); Muara Angke (sekitar permukiman Pelabuhan Muara Angke); Muara Baru (sekitar Pelabuhan dan Industri Pelabuhan Muara Baru); Pasar Ikan (sekitar Pelabuhan Pasar Ikan/Sunda Kelapa); Ancol Marina & JIS (sekitar Perempatan Gn. Sahari Marina dan depan JIS); Tanjung Priok & Kali Baru (sekitar Jl. Sulawesi dan Jl. Industri); dan Marunda (sekitar Museum Si Pitung).

“[Indikator penetapan kawasan rawan berdasarkan] hasil pemodelan berdasarkan kondisi penurunan tanah (land subsidence), sea level rise, elevasi pesisir, dan pasang surut Teluk Jakarta,” kata Ciko kepada Tirto, Rabu (3/12/2025).

Menurutnya, faktor utama penyebab banjir rob di pesisir utara Jakarta adalah karena penurunan muka tanah (land subsidence). Ciko mengungkapkan tingkat penurunan tanah di Jakarta saat ini masih berada pada kisaran 1–9 sentimeter per tahun. Meskipun tidak separah beberapa tahun sebelumnya, kondisi ini tetap meningkatkan risiko terjadinya banjir rob.

Ciko merincikan, penurunan tanah di kawasan Kamal Muara dan Muara Angke mencapai 9 sentimeter per tahunnya, Muara Baru 8–9 sentimeter per tahun, dan Marunda 3–4 sentimeter per tahun. Untuk kawasan Marunda, telah terjadi peningkatan tingkat penurunan tanah per tahun, dari yang semula hanya berkisar 2–3 sentimeter per tahunnya.

“Sementara itu, di kawasan Ancol–JIS, yang belakangan sering mengalami banjir, laju penurunan tanah tercatat berada pada kisaran 4 sentimeter per tahun,” ucapnya.

Sebagai solusi jangka pendek atas potensi banjir rob dan cuaca ekstrem pada akhir tahun, Dinas SDA DKI Jakarta saat ini telah menyiagakan 612 pompa air stasioner di 211 lokasi. Selain itu, sebanyak 590 unit pompa mobile disiagakan di lima wilayah kota administrasi.

MEMANCING DI TANGGUL LAUT MUARA BARU

Warga menyiapkan peralatan pancing di atas Tanggul Laut di kawasan Muara Baru, Jakarta, Jumat (22/6/2018). Tanggul Laut di kawasan pesisir Jakarta selain berfungsi melindungi pesisir Jakarta dari Abrasi juga sering dimanfaatkan warga untuk memancing. tirto.id/Arimacs Wilander

Sementara itu, untuk solusi jangka panjang, Ciko menerangkan dinasnya telah melakukan pengurasan dan pengerukan saluran, kali, dan juga waduk. Pengurasan dan pengerukan itu dilakukan di sejumlah titik di lima kota administrasi.

“Saluran yang dikeruk ialah Saluran Primer, Saluran Sekunder dan Saluran Tersier (Saluran penghubung). Sejak Januari hingga Maret 2024, total volume lumpur yang sudah dikeruk sebanyak 83,680.67 meter kubik,” sebutnya.

Saat ini, Dinas SDA disebutnya juga telah membangun tanggul pengaman pantai atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A di delapan klaster, yakni kawasan Kamal Muara, Muara Angke, Pluit, Muara Baru-Pantai Timur, Sunda Kelapa, Ancol Barat, Marunda, dan Tanjungan.

“Selain delapan klaster tersebut, Dinas SDA juga membangun tanggul mitigasi di daerah yang kerap dilanda banjir rob, yakni di kawasan Baywalk Pluit dan Dermaga Ujung Muara Angke,” tutupnya.

Banjir Rob Diperparah Perubahan Iklim

Peneliti Madya Pusat Riset Oseanologi BRIN, Johan Risandi, menjelaskan, banjir rob sebenarnya merupakan fenomena alami yang terjadi secara periodik setiap dua pekan sekali. Fenomena itu terjadi karena pengaruh fenomena pasang dan surut air laut. Namun, saat cuaca esktrem melanda, dampak banjir rob akan semakin meningkat.

Curah hujan tinggi saat cuaca esktrem membuat ketinggian air di lautan akan meningkat secara drastis dan risiko terjadinya banjir rob tidak terhindarkan. Selain itu, angin kencang juga membuat dampak dari banjir rob lebih berbahaya.

“Kebayang enggak? Kalau misalkan udah anginnya kencang, gelombangnya tinggi, pasang pula,” ucap Johan ketika dihubungi Tirto pada Rabu (3/12/2025).

Johan menyebut kondisi itu semakin diperparah dengan kenaikan permukaan laut atau sea level rise, yan disebabkan oleh perubahan iklim. Pasalnya, saat permukaan laut mengalami kenaikan, tinggi muka tanah di Jakarta justru terus menurun.

Johan menjelaskan land subsidence bisa terjadi karena tanah di Jakarta merupakan tanah aluvial, yakni tanah yang memiliki karakteristik lunak. Ditambah dengan pembangunan gedung-gedung tinggi dan pengambilan air tanah secara masif di Jakarta, penurunan muka tanah itu pun makin terakselerasi.

“Yang paling ekstrem adalah pengambilan muka air yang berlebihan. Turunnya [permukaan tanah] bisa sampai berapa? 30 sentimeter per tahun,” kata Johan.

Menurut Johan, salah satu solusi jangka panjang untuk meminimalisasi dampak banjir rob adalah langkah pemerintah membangun tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW). Meski begitu, dia turut mengingatkan dampak negatif dari pembangunan GSW yang direncakan akan dilakukan di sepanjang pesisir utara pulau Jawa itu.

Pembangunan GSW di Jakarta disebutnya akan membawa sejumlah dampak ekologis. Salah satunya adalah penumpukan sampah dan polusi yang terbawa dari 12 aliran sungai yang bermuara di Teluk Jakarta. Dengan adanya GSW, sampah dan polusi dari 12 sungai itu akan tertahan oleh tembok besar di sepanjang Teluk Jakarta. Kondisi itu disebutnya akan berdampak pada warga yang tinggal di sekitar lokasi GSW berdiri.

“Ada kotoran segala macam, itu numpuk di hilirnya, di Teluk Jakarta. Sampah ke mana-mana. Itu harus ditanggulangi dulu. Gak luculah kalau kita berusaha [menangkal banjir rob], tapi di sisi lain jadi gak nyaman karena adanya polusi yang luar biasa,” jelas Johan.

Minimalisasi Dampak Banjir Rob dengan Mangrove

Peneliti Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Universitas Trilogi, Muhammad Karim, menyebut dampak dari banjir rob diperparah dengan hilangnya vegetasi di sepanjang pesisisr utara Jakarta. Padahal, menurutnya, kehadiran vegetasi di pesisir laut, seperti tanaman mangrove, mampu mereduksi dampak dari banjir rob tersebut.

Karim menjelaskan keberadaan tanaman mangrove di kawasan pesisir dapat memecah gelombang tinggi. Bahkan, saat terjadi tsunami sekalipun, efeknya dapat menurun hingga 75 persen karena terjadi pemecahan saat gelombang air berinteraksi dengan tanaman mangrove.

“Ketika dia hantam pesisir, pecah gelombang itu. Sehingga, hanya sisa-sisanya aja yang masuk ke darat. Sehingga, tidak berdampak pada masyarakat,” tutur Karim kepada Tirto, Rabu.

Dengan tidak adanya tanaman mangrove di pesisir laut, ombak tinggi langsung menghantam kawasan yang dihuni oleh warga. Bahkan, air pun dapat langsung meluber ke daratan di sekitarnya.

Kementerian Lingkungan Hidup Rehabilitasi Hutan Mangrove

Foto udara perahu nelayan melintasi kawasan koservasi mangrove di Pantai Tiris, Pasekan, Indramayu, Jawa Barat, Senin (25/8/2025). Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menegaskan komitmen nasional untuk merehabilitasi seluas 769.824 hektare ekosistem mangrove secara terukur, ilmiah, dan partisipatif pada 2025. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/foc.

Dia mencontohkan, di Jepang, selain membangun tanggul raksasa, pemerintahnya juga menggalakkan penanaman tanaman mangrove di pesisir. Dengan begitu, air tidak hanya ditahan oleh tanggul, melainkan juga dipecah sejak awal oleh mangrove.

“Dia bangun tembok, tapi setelah itu di belakang tembok ke arah darat itu, Jepang itu kan negara kepulauan juga dia kayak kita, dia menanam habitat vegetasi sejauh 500 meter,” ucapnya.

Selain mampu mencegah gelombang tinggi dan dampak dari banjir rob, penanaman mangrove menurut Karim juga akan membuat kawasan pantai memiliki daya tarik wisata. Dengan begitu, masyarakat sekitar dapat dipekerjakan di kawasan wisata yang nantinya terbentuk.

Menurutnya, pemerintah tidak harus membangun tanggul raksasa sampai ratusan kilometer untuk mencegah terjadinya banjir rob. Cukup dengan membangun solusi alami lewat penanaman mangrove, dampak dari banjir rob bisa diminimalisir.

“Tidak perlu harus membangun tembok sejauh berapa itu, 500 kilometer. Itu yang saya istilahkan sebagai bio infrastruktur. Jadi, infrastruktur yang bersifat biologis, bukan yang bersifat fisik kayak tembok,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR ROB atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi