Menuju konten utama

PHK Capai 43.805 Orang per Juli, Apindo Ungkap Biang Keroknya

PHK mencapai 43.805 orang hingga Juli 2026. Apindo menilai persoalan di hulu industri perlu dibenahi agar gelombang PHK tak berlanjut.

PHK Capai 43.805 Orang per Juli, Apindo Ungkap Biang Keroknya
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W. Kamdani (kiri) bersama Sekretaris Umum APINDO Aloysius Budi Santoso (tengah) dan Ketua Bidang Industri Manufaktur APINDO Adhi Lukman (kanan) menyampaikan paparannya saat acara Media Briefing APINDO Indonesia Quarterly Update di Jakarta, Selasa (13/5/2025). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak bisa hanya dilihat dari jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan. Menurutnya, PHK merupakan persoalan di hilir, sementara sumber masalahnya banyak berasal dari persoalan di hulu yang belum terselesaikan.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, sebanyak 43.805 pekerja terkena PHK sepanjang Januari hingga Juli 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 5.960 PHK pada Januari, 7.890 pada Februari, 7.013 pada Maret, 8.079 pada April, 8.197 pada Mei, 6.114 pada Juni, dan 552 pada Juli.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi, yakni 8.830 pekerja, disusul Jawa Timur sebanyak 4.781 pekerja dan Banten 4.767 pekerja. DKI Jakarta mencatat 3.190 PHK, sementara Jawa Tengah mencapai 3.074 pekerja.

Menanggapi angka tersebut, Shinta mengatakan Apindo kini tidak hanya melihat data PHK, tetapi juga mencari solusi untuk mencegah pemutusan hubungan kerja terjadi.

“Dan yang saya sudah sampaikan berkali-kali, jadi PHK itu cuma di hilirnya, isunya itu banyak di hulunya,” kata Shinta usai konferensi pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (21/8/2026).

“Kami sekarang udah gak mau lihat cuma data, karena kami melihat adalah bagaimana nih solusi, mengatasi antisipasi kita, jangan sampai PHK itu terjadi,” ujarnya.

Shinta mengatakan Apindo fokus mengatasi bottlenecking atau berbagai hambatan di sektor hulu karena persoalan tersebut dapat berujung pada PHK jika tidak segera diselesaikan.

“Makanya kita di bottlenecking ini kita fokus banget, karena banyak PHK itu terjadi karena hulunya tidak bisa diselesaikan,” katanya.

Dia kemudian menyoroti persoalan yang dihadapi industri padat karya, terutama terkait ketersediaan bahan baku dan gas industri. Menurutnya, kedua faktor tersebut menjadi bagian penting yang perlu segera dibenahi untuk menjaga keberlangsungan industri dan mencegah PHK.

“Jadi banyak sekali kalau industri padat karya itu kan kaitan dengan ketersediaan bahan baku, kaitan kepada gas industri, ini kan semua besar, jadi tentunya akan sangat berdampak kalau ini tidak diselesaikan,” ujarnya.

Menurut Shinta, PHK merupakan pilihan terakhir bagi perusahaan setelah berbagai upaya untuk mempertahankan pekerja tidak lagi dapat dilakukan.

“Jadi saya gak mau lihat hanya angka, kita harus melihat bagaimana solusinya, jangan sampai PHK itu bisa terjadi, dan PHK itu selalu adalah opsi terakhir. Maksudnya gak ada yang mau PHK kalau bisa,” katanya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana