Menuju konten utama

Pertamina Mitigasi Peralihan LPG ke Minyak Tanah di Papua Barat

Pertamina Patra Niaga perkirakan kebutuhan mitigasi minyak tanah untuk menggantikan konsumsi LPG mencapai 421 kiloliter dalam periode tiga bulan.

Pertamina Mitigasi Peralihan LPG ke Minyak Tanah di Papua Barat
Wakabareskrim Polri Brigjen Pol Nunung Syaifuddin (kanan), Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Moch. Irhamni (ketiga kanan), Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (kelima kanan), perwakilan Jampidum Kejagung Muhammad Adri (kedua kanan) melihat barang bukti usai konferensi pers kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji subsidi di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta, Selasa (7/4/2026). ANTARA FOTO/Fauzan/nym.

tirto.id - PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan skenario mitigasi kelangkaan liquefied petroleum gas (LPG) di Provinsi Papua Barat melalui peralihan sementara penggunaan minyak tanah.

Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Barat, Ahmad Sofyan Halim, mengatakan kebutuhan mitigasi minyak tanah untuk menggantikan konsumsi LPG diperkirakan mencapai 421 kiloliter dalam periode tiga bulan.

"Apabila benar-benar terjadi kelangkaan LPG, maka kami sudah siapkan skenario mitigasi," kata Sofyan di Manokwari, seperti dikutip Antara, Selasa (19/5/2026).

Asumsi kebutuhan tersebut, menurutnya, didasarkan pada data realisasi konsumsi LPG sebesar 336,8 metrik ton dengan konversi energi, yakni 1 metrik ton LPG setara penggunaan 1,96 kiloliter dan 1 kiloliter minyak tanah setara 0,8 metrik ton LPG.

Stok minyak tanah sendiri diyakini masih surplus jika skenario mitigasi diterapkan, dengan tambahan kebutuhan mitigasi 421 kiloliter, dan penyaluran diperkirakan mencapai 6.375 kiloliter atau masih di bawah kuota triwulanan yang tersedia.

"Tentu kami tidak ingin hal ini (kelangkaan LPG) terjadi. Tapi jika terjadi maka bisa diantisipasi dengan minyak tanah," jelasnya.

Ahmad menjelaskan, kuota minyak tanah untuk tujuh kabupaten di Papua Barat pada 2026 mencapai 27.182 kiloliter atau sekitar 6.796 kiloliter kebutuhan per tiga bulan dengan realisasi penyaluran Januari-April sebesar 29 persen.

Alokasi minyak tanah Manokwari 11.469 kiloliter, Fakfak 5.908 kiloliter, Teluk Bintuni 3.626 kiloliter, Kaimana 2.800 kiloliter, Manokwari Selatan 1.429 kiloliter, Teluk Wondama 1.274 kiloliter, dan Pegunungan Arfak 676 kiloliter.

"Realisasi penyaluran kepada masyarakat terhitung sejak Januari hingga April 2026 mencapai 7.898 kiloliter," ujarnya.

Menurutnya, kuota minyak tanah Papua Barat yang ditetapkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tahun 2026 mengalami peningkatan 2.066 kiloliter dibanding 2025 yang tercatat sebanyak 25.116 kiloliter.

Skenario mitigasi peralihan sementara penggunaan minyak tahan difokuskan pada wilayah dengan tingkat konsumsi LPG tertinggi, seperti Manokwari, Fakfak, dan Teluk Bintuni sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana