tirto.id - Di bawah langit Banyuwangi yang baru saja terbangun, ketika kabut tipis masih memeluk kaki Gunung Ijen, sebuah pemandangan tak biasa membelah keheningan aspal jalanan. Sinar matahari pagi di ufuk timur Pulau Jawa mulai membiaskan cahaya keemasan, menyentuh permukaan jalan yang membentang di Kabupaten Banyuwangi.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar derap langkah kaki yang teratur dan tenang. Langkah-langkah itu tidak dibungkus oleh sepatu olahraga mahal, melainkan hanya beralaskan sandal tipis atau bahkan kaki telanjang yang telah akrab dengan panasnya aspal.
Ini bukan sekadar perjalanan fisik. Sebanyak 56 bhikkhu, terbalut jubah safron yang sewarna dengan fajar, melangkah dengan kepala tertunduk namun penuh keteguhan. Mereka sedang menjalani tradisi thudong, sebuah laku prihatin kuno dalam tradisi Buddha di mana para rahib berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer.
Tahun ini, rute mereka dimulai dari ujung timur Jawa menuju Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, untuk merayakan detik-detik Waisak 2026.
Mengenakan jubah safron yang mencolok di antara kerumunan warga, para pemuka agama ini membawa misi yang jauh lebih besar daripada sekadar berpindah tempat. Mereka sedang menganyam benang-benang perdamaian, kesederhanaan, dan toleransi yang kian menguat di sepanjang jalur yang mereka lalui.
Dalam tradisi thudong, setiap jengkal langkah dianggap sebagai bentuk meditasi berjalan. Pikiran tidak melayang ke masa depan, kaki tidak menyesali masa lalu; mereka sepenuhnya hadir di sini, di atas aspal yang panas, di bawah tatapan ribuan pasang mata warga.
Perjalanan spiritual ini menjadi sebuah manifestasi dari latihan batin yang sangat mendalam. Setiap interaksi dengan warga di pinggir jalan—entah itu hanya lambaian tangan, senyuman, atau pemberian seteguk air—menjadi jembatan kemanusiaan yang melampaui batas-batas keyakinan. Ini adalah diplomasi yang pesannya sampai langsung ke hati masyarakat.

Banyuwangi Menyambut
Gema persiapan spiritual ini sebenarnya telah dimulai jauh hari sebelum raga para bhikkhu menyentuh tanah Bumi Blambangan. Di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, atmosfer keguyuban telah mekar sejak akhir April. Tepatnya pada Selasa (28/4/2026), sebuah pertemuan penting digelar di kawasan Candi Manggala untuk merajut rencana penyambutan yang matang.
Kepala Desa Yosomulyo, Joko Utomo Purniawan, duduk bersama tokoh agama Buddha terkemuka, Bhante Tejapunno Mahathera, guna memastikan setiap detail logistik dan keamanan terpenuhi. Sang Kepala Desa menyadari bahwa kedatangan rombongan bhikkhu thudong adalah momen langka yang membawa berkah spiritual sekaligus ujian bagi kesiapan warga dalam menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
Dalam pertemuan koordinasi tersebut, dibahas secara rinci mengenai titik singgah, pengamanan jalur, hingga penyediaan logistik ringan oleh warga setempat. Joko menekankan bahwa seluruh rangkaian ini harus memberikan rasa nyaman bagi semua pihak.
“Kami bersama warga ingin memberikan sambutan terbaik. Ini bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah masyarakat,” ujar Joko saat memastikan kesiapan warganya.
Baginya, keterlibatan masyarakat lintas agama dalam persiapan ini merupakan bukti nyata bahwa keberagaman di Banyuwangi adalah sebuah kekuatan. Seluruh elemen desa, mulai dari perangkat pemerintahan hingga relawan lintas iman, bahu-membahu memastikan keamanan rombongan.
Puncak suasana haru pecah ketika rombongan 56 bhikkhu benar-benar memasuki wilayah jantung Kabupaten Banyuwangi. Pada Senin (11/5/2026), rombongan tiba di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tik Liong Tian, Rogojampi.
Kawasan tersebut berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga memadati pinggir jalan untuk menanti kehadiran para pejalan spiritual yang wajahnya memancarkan ketenangan, meski telah terpapar panas matahari selama berhari-hari.
Penyambutan dilakukan dengan standar penghormatan tinggi, namun tetap bersahaja. Menariknya, tradisi lokal turut menyapa. Bunyi tetabuhan barongsai yang rancak menciptakan perpaduan budaya yang sangat estetis, menunjukkan betapa cairnya asimilasi budaya di Tanah Jawa.
Momen paling menyentuh terjadi saat prosesi pencucian kaki dimulai. Warga dengan takzim membasuh kaki para bhikkhu sebagai simbol penghormatan, diiringi taburan bunga harum. Air yang membasuh debu-debu jalanan dari kaki para rahib itu seolah menjadi simbol pembersihan ego bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Dalam kesempatan nan sakral itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir di tengah kerumunan. Kehadirannya memberikan penegasan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh nilai-nilai positif yang dibawa rombongan ini.

Bupati Ipuk secara langsung menyampaikan rasa hormatnya atas keteguhan para bhikkhu dalam menjalani disiplin thudong yang sangat berat.
“Perjalanan para biksu ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawa pesan perdamaian, toleransi, dan kesederhanaan. Kami merasa terhormat Banyuwangi menjadi bagian dari perjalanan ini,” tutur Bupati Ipuk.
Ketulusan Warga, Kerendahan Hati Para Bhikku
Bupati Ipuk melihat bahwa laku berjalan kaki dengan perlengkapan seadanya dan hidup dari derma masyarakat adalah pelajaran berharga tentang pengendalian diri bagi semua orang di tengah dunia yang serba instan.
Secara kronologis, perjalanan ini memang dilakukan dengan disiplin spiritual yang ketat. Para bhikkhu memulai hari dengan meditasi sebelum melangkah saat fajar menyingsing. Selama di Banyuwangi, mereka mempraktikkan tradisi menerima sedekah makanan dan minuman dari warga tanpa memandang latar belakang agama, sebuah praktik yang dalam ajaran Buddha disebut sebagai pindapata.
Warga dari berbagai latar belakang (Islam, Kristen, Hindu, dan kepercayaan lainnya) tampak berdiri di pinggir jalan menyodorkan air mineral ataupun buah-buahan. Para Bhikkhu menerimanya dengan senyum tipis dan doa singkat.
Ketulusan warga dalam memberi dan kerendahan hati para Bhikkhu dalam menerima menjadi pemandangan yang menginspirasi. Di sini, tidak ada perdebatan teologis—yang ada hanyalah tangan yang memberi dan tangan yang menerima dalam harmoni yang sempurna.
Mewakili para Bhikkhu, Bhante Tejapunno Mahathera sendiri menyampaikan rasa harunya atas dukungan yang begitu hangat dari masyarakat. Beliau menekankan bahwa energi positif yang terpancar dari kerukunan warga menjadi tambahan kekuatan bagi para bhikkhu yang menjalani laku prihatin tersebut.
“Semangat kebersamaan seperti ini sangat berarti. Perjalanan thudong bukan hanya soal menempuh jarak, tetapi juga menyebarkan pesan kedamaian dan welas asih,” ungkapnya.
Setelah beristirahat dan memulihkan tenaga di Rogojampi, rombongan bhikku dijadwalkan melanjutkan perjalanan panjang mereka menuju barat. Candi Manggala dan TITD Tik Liong Tian telah menjadi saksi bisu bagaimana doa-doa lintas agama dipanjatkan demi keselamatan rombongan.

Tujuan akhir mereka, Candi Borobudur, masih ratusan kilometer jauhnya. Namun bagi mereka, setiap kilometer yang dilewati adalah proses pembersihan batin dari ego duniawi. Setiap debu yang menempel di jubah mereka adalah pengingat akan kefanaan, sementara setiap sapaan warga adalah pengingat akan persaudaraan universal.
Menjelang Waisak 2026, kehadiran rombongan thudong di Banyuwangi telah meninggalkan jejak spiritual yang mendalam. Mereka tidak hanya berjalan melintasi Jawa, tetapi mereka sedang menanam benih-benih kedamaian di setiap langkahnya. Jejak kaki mereka mungkin akan terhapus oleh hujan atau tertutup debu kendaraan, namun benih toleransi yang mereka tanam di hati warga Banyuwangi diharapkan akan terus tumbuh menjadi kerukunan abadi di sepanjang jalur timur Pulau Jawa.
=============
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































