Menuju konten utama

Penyebab Demo di Israel, Benarkah Minta Netanyahu Turun?

Penyebab orang-orang Israel melakukan demo besar di Yerusalem, pada Minggu (31/4/2024). Benarkah mereka menuntut Netanyahu mundur?

Penyebab Demo di Israel, Benarkah Minta Netanyahu Turun?
Warga Palestina berjalan menjauh dari kibbutz Kfar Azza, Israel, di dekat pagar Jalur Gaza pada Sabtu, 7 Oktober 2023. (Foto AP)

tirto.id - Terjadi demo besar di Israel yang melibatkan massa berjumlah sekitar 10 ribu orang pada Minggu (31/3/2024). Demo yang berlangsung berlangsung di Yerusalem tersebut bertujuan untuk memprotes pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Dilansir dari Reuters, para demonstran menuntut pemerintah bertanggung jawab atas meninggalnya 600 tentara dalam serangan Israel ke Palestina. Jumlah tersebut merupakan jumlah korban tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah aksi demonstrasi, para pengunjuk rasa dengan semangat mengibarkan bendera Israel berwarna biru dan putih sambil berseru “Pemilu sekarang.” Para demonstran menuntut Netanyahu untuk mundur dari jabatannya.

Merespons demo tersebut, Netanyahu menggelar konferensi pers di Yerusalem. Melalui kesempatan itu ia menyampaikan bahwa akan menemukan solusi dari masalah tersebut.

Netanyahu menegaskan bahwa menggelar pemilu di tengah situasi perang, akan menyebabkan kelumpuhan negara selama berbulan-bulan. Ia menegaskan percaya bahwa saat ini Israel berada di ambang kemenangan.

Penyebab Demo Besar di Israel

Dilansir dari The Guardian, demo besar di Israel dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah penahanan sejumlah warga Israel di Gaza selama hampir enam bulan.

Para demonstran menuntut pembebasan mereka dan menyalahkan Netanyahu karena dianggap sebagai "hambatan bagi kesepakatan".

"Sudah 176 hari saya tidak bisa menutup mata dari pikiran dan ketakutan atas apa yang dialami Liri dan para sandera lainnya," ujar Shira Albag, ibu dari salah satu sandera, Liri Albag yang berpartisipasi dalam demo.

"Orang-orang Israel tidak akan melupakan atau memaafkan siapa pun yang menghalangi kesepakatan yang akan membawa mereka [para sandera] kembali kepada kami. Setelah 176 hari, 4.224 jam, alasan-alasan itu telah habis,” tambahnya lebih lanjut.

Hal serupa juga dikatakan oleh Raz Ben-Ami, seorang mantan tawanan dan telah dibebaskan hampir dua bulan yang lalu. Ia menyebut bahwa para sandera tidak akan mampu bertahan di Gaza karena kondisi yang mereka alami.

"Mereka [para sandera] tidak akan bertahan di sana; tidak ada yang bisa bertahan dari apa yang mereka alami di sana, percayalah," ujar Rez Ben-Ami.

Berkaitan dengan hal tersebut, dikutip dari Al Jazeera, para pengunjuk rasa menuntut pemerintah untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang juga akan membebaskan para tawanan Israel yang ditahan oleh Hamas di Gaza.

Pasalnya, sebelumnya terdapat pengajuan gencatan senjata selama bulan Ramadhan. Namun, tidak ada perkembangan apapun hingga bulan Ramadhan sudah berjalan lebih dari setengah.

"Setelah enam bulan, sepertinya pemerintah memahami bahwa Bibi Netanyahu adalah penghalang," ujar seorang demonstran sekaligus keluarga tawanan, Einav Moses, seperti yang dikutip dari Associated Press.

Lebih lanjut, Moses menyebut bahwa ayah mertuanya, Gadi Moses, ditahan oleh pihak Gaza. Ia mengklaim bahwa pemerintah tidak berencana untuk menyelamatkan para sandera.

"Sepertinya dia tidak benar-benar ingin membawa mereka [para sandera] kembali, bahwa mereka telah gagal dalam misi ini," pungkasnya.

Masih mengutip dari The Guardian, ada ketegangan internal di dalam koalisi pemerintah terkait isu pengecualian untuk pria ultra-Ortodoks dari wajib militer. Kondisi ini memunculkan perpecahan di antara partai-partai koalisi.

Faktor-faktor tersebut juga memicu gelombang protes massal di berbagai kota di seluruh Israel. Para demonstran mengecam kebijakan pengecualian yang diberikan kepada para pria Yahudi ultra-Ortodoks dari dinas militer.

Mereka juga menuntut pembagian yang lebih adil dalam beban dinas militer yang mengikat sebagian besar warga Israel.

Update Serangan Israel ke Palestina

Mengutip China Military, Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa militer Israel sedang mempersiapkan serangan ke Rafah, pada Minggu (30/3/2024).

Rafah merupakan kota paling selatan di Jalur Gaza. Kota tersebut telah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang mengungsi dari pemboman.

Netanyahu menyatakan bahwa setelah menyetujui rencana militer untuk serangan darat di Rafah pada awal Maret. Tentara sekarang bersiap untuk mengevakuasi penduduk sebelum menyerang kota tersebut.

Menurutnya, operasi tersebut bertujuan untuk menghabisi batalion Hamas di Rafah. Selain itu, di Gaza utara, pasukan Israel melanjutkan serangan ke Rumah Sakit Al-Shifa, pusat medis terbesar di wilayah tersebut sebelum konflik.

Menurut Netanyahu, setidaknya 200 militan telah terbunuh di kompleks medis tersebut. Sore harinya, sebuah delegasi pejabat keamanan Israel berangkat untuk melakukan putaran pembicaraan baru dengan para perunding di Kairo.

Melalui serangan terbaru, pesawat tempur Israel menargetkan pusat komando Jihad Islam dan militan di halaman Rumah Sakit Al-Aqsa di Jalur Gaza tengah. Pernyataan militer Israel tidak menyebutkan nama-nama militan yang ditargetkan.

Serangan udara tersebut juga mengenai tenda yang menampung jurnalis dan warga yang terlantar di kompleks rumah sakit, menewaskan empat orang dan melukai 17 lainnya, termasuk dua wartawan.

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, serangan Israel di Gaza menewaskan sedikitnya 77 warga Palestina dan melukai 108 lainnya.

Sejak awal serangan Israel terhadap Hamas pada 7 Oktober 2023, setidaknya 32.782 warga Palestina tewas dan 75.298 lainnya terluka. Jumlah korban tewas Israel akibat serangan mendadak Hamas mencapai 1.139 orang, dengan sekitar 100 orang masih disandera di Gaza.

Baca juga artikel terkait ISRAEL PALESTINA atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Iswara N Raditya & Yonada Nancy