tirto.id - Pemerintah sedang meramu insentif untuk perusahaan-perusahaan yang mengembangkan bioetanol sebagai bagian dari kebijakan mandatori pemcampuran biodiesel sebesar 50 persen (B50).
Fasilitas ini direncanakan dalam bentuk masterlist dan solid rate yang diusulkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) kepada Kementerian Keuangan.
Sebagai informasi, masterlist adalah daftar rincian barang, mesin, peralatan, atau bahan baku yang diajukan oleh perusahaan (importir produsen) dan telah disetujui BKPM untuk mendapatkan fasilitas fiskal dari Kementerian Keuangan.
Sedangkan solid rate merupakan bentuk tarif khusus atau metode perhitungan pajak/bea masuk yang konsisten (tetap) untuk jangka waktu tertentu, yang diberikan kepada wajib pajak tertentu.
"Insentif yang pasti untuk semua investasi yang ada di Indonesia, kita memang kasih insentif dalam bentuk masterlist dan solid rate," ungkap Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu dalam konferensi pers di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026).
Fasilitas perpajakan ini, lanjut Todotua, tidak termasuk tax holiday,—pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) Badan sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 130 Tahun 2020 kepada perusahaan yang menanamkan modalnya minimal Rp100 miliar di Indonesia.
"Tetapi khusus untuk ini pun nanti akan kita running, karena seperti program kita dulu masuk ke biofuel B40-B50, itu ada penetrate-penetrate yang dilakukan," tambah dia.
Sementara itu, untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) berbasis energi terbarukan, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), subholding PT Pertamina (Persero) menggandeng Toyota Motor Corporation untuk membangun pabrik bioetanol di Lampung.
Konstruksi pabrik bioetanol ini direncanakan dimulai pada kuartal III atau paling lambat kuartal IV 2026.
"Untuk first step-nya, planning-nya sekitar Q3-Q4 (kuartal III-kuartal IV) tahun ini kita akan mulai konstruksi untuk pembangunan plan etanolnya," ujar dia.
Bersamaan dengan itu, akan dibangun pula perkebunan budidaya sorgum seluas 6.000 hektare (ha). Todotua menjelaskan, Lampung menjadi pilihan dibangunnya pabrik bioetanol karena di daerah tersebut banyak sumber bahan baku bioetanol, mulai dari tebu, ubi kayu atau singkong, hingga sorgum. Sementara, perkebunan budidaya sorgum dikembangkan sebagai bagian dari dukungan bahan baku bioetanol.
"Nah, berbicara terhadap itu, plan-nya, rencana yang akan diitu ... untuk start (mulai) penanaman itu 6.000 hektare untuk sorgum aja dulu. Itu untuk supporting. Karena ini nanti plan-nya akan menjadi plan multi-feedstock. Baik dari first generation maupun second generation (bahan baku bioetanol generasi satu dan generasi dua yang berasal dari residu pertanian)," tambah dia.
Dengan teknologi yang dimiliki Toyota, nantinya limbah tebu, singkong maupun sorgum bisa diolah kembali menjadi bahan baku bioetanol. Dus, pengembangan bahan bakar dengan energi bersih ini tidak akan mengganggu rencana pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.
"Teknologi redit atau research development-nya dari Jepang yang mengandalkan etanol itu, mereka sudah masuk ke second generation. Kalau second generation itu artinya tidak lagi mengganggu ekosistem yang ada, untuk ketahanan pangan kita. Setidaknya, second generation di-combine dengan first generation ini akan berimbang," jelas Todotua.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































