tirto.id - Nama Seymour Hersh kembali menjadi perbincangan hangat setelah kemunculannya dalam film dokumenter terbaru di Netflix berjudul Cover-Up (2025). Film arahan Laura Poitras dan Mark Obenhaus itu mengajak penonton duduk bersama jurnalis investigasi berusia 88 tahun bernama Hersh, untuk meninjau kembali karier panjangnya dalam membongkar rahasia negara.
Hersh dikenal sebagai wartawan keras kepala dan tak kenal takut. Namun, dalam dokumenter itu ia menunjukkan sisi manusianya yang jarang terlihat, termasuk dukungan istrinya saat ia merasa terpuruk menghadapi kengerian fakta lapangan.
Salah satu pilar utama film tersebut adalah kilas balik tahun 1969, saat Hersh sendirian mengungkap kekejaman tentara AS dalam Pembantaian My Lai, sebuah peristiwa yang mengubah pandangan dunia terhadap Perang Vietnam selamanya.
“Bunuh Semua yang Bergerak”
Situasi di Vietnam Selatan pada awal 1968 sangat kacau. Militer AS baru saja dikejutkan oleh Serangan Tet. Pasukan di lapangan berada dalam kondisi tegang serta paranoid.
Satuan Tugas Barker arahan Letkol Frank Barker, bersama Kompi Charlie di bawah komando Kapten Ernest Medina, telah menderita banyak korban akibat ranjau dan penembak jitu, tanpa pernah melihat musuh secara langsung. Hal itu memicu frustrasi di kalangan prajurit.
“Kami mengalami banyak korban jiwa. Tetapi sebagian besar korban jiwa berasal dari ranjau dan jebakan,” ujar Harry F. Hobscheid, anggota Satuan Tugas Barker, dalam kesaksiannya pada 14 Februari 1970 di Pentagon.
Malam sebelum operasi tanggal 16 Maret, Kapten Ernest Medina memberikan pengarahan kepada pasukannya. Intelijen militer meyakini, Batalion ke-48 Viet Cong bermarkas di Desa Son My, dan warga sipil sudah pergi ke pasar pada pagi hari. Karena itu, tentara AS memberi kode warna merah muda di peta mereka, dan menjulukinya Pinkville.
Medina menegaskan, itu adalah kesempatan mereka untuk membalas dendam. Mengutip Nick Turse dalam buku Kill Anything That Moves: The Real American War in Vietnam (2013:2), saat ditanya apakah perintah penghancuran itu mencakup wanita dan anak-anak, seorang prajurit infanteri Salvatore LaMartina mengingat jawaban dingin Medina untuk “membunuh semua yang bernapas” atau “bunuh semua yang bergerak”. Perintah tersebut menjadi legitimasi pembunuhan massal keesokan harinya.
Pagi itu di My Lai, sebuah dusun di Desa Son My, aktivitas warga berjalan seperti biasa. Para ibu tengah menyalakan api untuk memasak sarapan dan bersiap ke sawah. Sama sekali tidak ada yang menyadari bahaya mendekat dari langit.
Artileri mulai menghujani area tersebut untuk membersihkan zona pendaratan helikopter. Tak pelak berondongan peluru itu membuat warga panik dan berlarian mencari perlindungan.
Ketika mendarat, pasukan Kompi Charlie tidak menemukan tentara Viet Cong yang siap tempur. Mereka hanya menemukan petani tua, wanita, dan anak-anak yang ketakutan.
Meski tak ada tembakan provokasi dari arah desa, prajurit AS tetap membantai semuanya. Mereka bergerak dari rumah ke rumah, membakar gubuk jerami, dan menembaki warga yang mencoba melarikan diri.

Kekerasan meningkat dengan cepat menjadi kebrutalan yang sulit dinalar. Warga dikumpulkan di parit irigasi dan ditembaki dengan senapan mesin atas perintah Letnan William Calley.
“Lebih dari 70 manusia, pria, perempuan, dan anak-anak, dieksekusi di parit tersebut oleh terdakwa dan anggota peleton atas perintahnya,” jelas Jaksa Militer Kepala Angkatan Darat, Aubrey M. Daniel, dikutip dari surat kabar The Post cetakan 18 November 1970.
Salah satu prajurit bernama Paul Meadlo, yang bersaksi di kemudian hari, menceritakan momen ia menangis saat mengganti magasin senapannya, tetapi terus menembak ke arah tumpukan manusia di dalam parit tersebut.
Di tengah kegilaan itu, Hugh Thompson Jr., pilot helikopter pengintai, melihat tumpukan mayat dari udara dan menyadari ada yang tidak beres. Ia mendaratkan helikopternya di antara tentara AS dan sekelompok warga sipil yang bersembunyi di bunker.
Dengan berani, Thompson memerintahkan awak senapan mesinnya untuk menembak rekan senegaranya sendiri jika mereka mencoba melukai warga sipil tersebut. Ia beserta kru berhasil menyelamatkan segelintir warga, termasuk bocah laki-laki yang ditarik keluar dari parit penuh mayat.
Pengadilan dan Lagu Country
Setelah membantai puluhan warga sipil, militer AS justru mengklaim operasi tersebut sebagai kemenangan gemilang, dengan mengatakan telah membunuh 128 musuh komunis. Secara culas, mereka berupaya menutup-nutupi kejadian sebenarnya. Namun, setahun setelahnya, rumor tentang pembantaian tersebut mulai beredar sayup-sayup di Washington.
Kebenaran mulai merembes keluar melalui surat-surat yang dikirim oleh Ronald Ridenhour, mantan prajurit yang mendengar "kisah horor" tersebut dari rekan-rekannya. Surat tersebut ditujukan kepada Presiden Richard M. Nixon, Menteri Pertahanan Melvin R. Laird, dan beberapa anggota Kongres.
“Singkatnya, keadilan. Itu adalah seruan sederhana untuk keadilan. Saya lebih muda dan lebih bodoh saat itu,” tuturnya, dilansir oleh The New York Times.
Di sinilah peran Seymour Hersh menjadi kunci. Berbekal secuil petunjuk dari pengacara bernama Geoffrey Cowan tentang seorang perwira yang ditahan di Fort Benning karena membunuh warga sipil di Vietnam Selatan, Hersh mulai berburu.
“Cowan tidak perlu menjelaskan mengapa cerita seperti itu, jika benar, penting, namun dia menolak membahas sumber informasinya,” tulis Hersh dalam sebuah memoar di Harpers Magazine.
Hersh lantas menemukan pengacara bernama George Latimer, yang membawanya segera terbang ke markas militer untuk mencari William Calley, letnan muda dengan panggilan “Rusty” yang diceritakan oleh Cowan. Pencarian itu penuh liku karena militer berusaha menyembunyikan keberadaan Calley. Hersh bahkan harus menelepon operator markas dan memeriksa daftar nomor telepon terbaru untuk melacak lokasinya.
Hersh akhirnya menemukan Calley, bukan di penjara, tetapi di sebuah apartemen perwira. Saat diwawancarai sambil minum bir, Calley tampak sangat tertekan dan sakit secara fisik. Bahkan, di tengah sesi wawancara, ia sempat muntah darah di kamar mandi karena stres berat.
Hersh menuliskan kisah tersebut dengan detail mengerikan. Majalah besar seperti Life dan Look menolak menerbitkannya karena takut menyinggung sentimen patriotik atau tidak percaya.
Selain fakta pembantaian keji oleh tentara AS, Hersh juga menuliskan dalam bukunya, My Lai 4: A Report on the Massacre and Its Aftermath (1970), tentang seorang penduduk desa yang menyaksikan tentara memerkosa gadis berusia 13 tahun sebelum mencoba menggagahi istrinya. Sayangnya, hanya sedikit narasumber tentaranya yang mau berbicara secara terbuka tentang pemerkosaan.

Setelah ditolak di surat kabar besar, Hersh akhirnya merilis berita tersebut melalui Dispatch News Service, kantor berita kecil anti-perang yang dikelola oleh David Obst. Sesuai dugaan, berita itu pun meledak di puluhan surat kabar dunia. Hersh melaporkan, setidaknya 567 orang tewas dalam pembantaian tersebut.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa dia bisa memiliki cerita terkutuk itu dan bahwa dia sebaiknya tidak mengacaukannya,” lanjut Hersh.
Publik AS terbelah merespons berita ini. Alih-alih merasa jijik, sebagian masyarakat justru membela William Calley dan menganggapnya sebagai kambing hitam dari kegagalan kebijakan perang. Dukungan ini termanifestasi dalam budaya populer, salah satunya lewat lagu "The Battle Hymn of Lt. Calley" yang dinyanyikan Terry Nelson. Secara mengejutkan, lagu tersebut terjual laris jutaan kopi.
Calley dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana pada 1971 dan divonis penjara seumur hidup. Namun, Presiden Richard Nixon segera campur tangan dan mengubah hukumannya menjadi tahanan rumah. Calley akhirnya hanya menjalani hukuman tiga setengah tahun sebelum bebas. Ia meninggal dunia baru-baru ini pada April 2024 di usia 80 tahun.
Sementara itu, atasan Calley, Kapten Ernest Medina, dibebaskan dari semua tuduhan dalam pengadilan militer karena kurangnya bukti perintah langsung. Jenderal Samuel Koster, yang bertanggung jawab atas Divisi Americal dan terlibat dalam upaya menutup-nutupi kasus ini, hanya menerima sanksi administrasi berupa penurunan pangkat dan pencabutan medali. Keadilan hukum bagi para korban My Lai masih jauh panggang dari api.
Bagi para penyintas seperti Pham Thanh Cong, yang selamat karena tertindih mayat keluarganya, ingatan tentang hari itu tetap hidup. Ia berusia 11 tahun saat kejadian, ketika sang ibu menyuruhnya dan empat saudara kandungnya masuk ke tempat persembunyian bawah tanah. Saat tentara AS mendekat, granat dilemparkan ke terowongan persembunyian, membunuh keluarganya, sementara ia selamat dengan luka di mata kiri.
“Setelah empat jam, mereka membunuh seluruh desa dan mundur, meninggalkan desa kami yang penuh darah dan api,” ucapnya kepada Shaun Raviv dari Smithsonian Magazine.
Pham kini mendedikasikan hidupnya untuk merawat situs peringatan di Vietnam agar dunia tidak lupa.
Pembantaian My Lai kini menjadi studi kasus abadi tentang moralitas perang, bahaya kepatuhan buta, dan pentingnya pers yang bebas dalam mengawasi kekuasaan, seperti yang kembali diingatkan oleh film dokumenter Cover-Up. Dokumen sejarah lain yang penting adalah buku Four Hours in My Lai karya Michael Bilton dan Kevin Sim, yang menyajikan rekonstruksi mendalam dari arsip dan wawancara saksi mata.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id




























