9 Agustus 1974

Richard Nixon Tumbang Karena Skandal Watergate

Infografik Mozaik Richard Nixon
Ilustrasi Mozaik Richard Nixon. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Husein Abdulsalam - 9 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Richard Nixon adalah presiden AS pertama yang mengundurkan diri.
tirto.id - Memasuki musim panas 1974, tidak hanya cuaca yang terasa menyayat kulit orang-orang Amerika Serikat (AS), namun letih akibat Perang Vietnam yang tidak pernah dimenangkan AS belum pulih. Dampak embargo migas ke AS oleh OPEC yang dicabut Maret 1974 juga masih terasa. Sedangkan Richard Nixon, orang yang tengah menjabat presiden AS saat itu, menghadapi persoalannya sendiri: skandal Watergate.

Ketika mengunjungi Gedung Putih, tempat presiden AS berkantor, Edward, adik Richard Nixon, melihat kakaknya muram dan irit bicara.

"Dia benar-benar sedih saat itu, tidak mengatakan apa yang hendak dia lakukan," kata Edward kepada The New Yorker.

Yang Edward ingat betul ialah Richard membuka laci kiri meja di Kantor Oval. Kemudian, dia mengeluarkan segenggam jepitan dasi dan cufflink. "Aku mungkin tidak memiliki kesempatan untuk membagikan lebih banyak dari ini, jadi bawa ini bersamamu," kata Richard waktu itu kepada Edrward.

Dari Ambisi Menang Pilpres ke Watergate

Watergate adalah kompleks gedung yang berlokasi di Washington D.C. Pada 17 Juni 1972, lima orang ditangkap ketika tengah menyusup ke markas besar Komite Nasional Partai Demokrat yang terletak di lantai enam Watergate Office Building. Mereka adalah Virgilio Gonzalez, Bernard Barker, James McCord, Eugenio Martínez, dan Frank Sturgis.

Saat itu, Nixon tengah menjabat presiden AS setelah memenangkan pemilihan umum presiden 1968. Di tahun terakhirnya menjabat itu, Nixon berambisi memenangkan periode kedua.

Aroma hubungan antara pencurian di Watergate dan ambisi memenangkan Nixon perlahan terkuak ketika The Washington Post melansir bahwa John McCord adalah koordinator keamanan Komite Pemenangan Kembali Presiden (Committee to Re-elect the President, alias CREEP), tim sukses pemenangan Nixon di Pilpres AS 1972. Bob Woodward dan Carl Bernstein, dua jurnalis penulis laporan itu, juga menunjukkan dana sebesar 25 ribu dolar AS yang dialokasikan untuk kampenye Nixon.



Sebagaimana ditulis Stanley Kutler dalam Watergate a Brief History With Documents (2010), tak lama kemudian FBI mengetahui E. Howard Hunt dan G. Gordon Liddy mengawasi jalannya penyadapan tersebut. Hunt ialah mantan agen CIA yang kadang menjadi konsultan Gedung Putih. Sedangkan Liddy ialah anggota CREEP.

Pada 20 Juni 1972, Nixon menanyakan kabar operasi penyusupan itu ke kepala staf, H.R. Haldeman. Nixon menyebutnya operasi Mitchell, merujuk pada ketua manajer kampanyenya, John N. Mitchell, yang juga mantan Jaksa Agung AS. Namun, Haldeman mengatakan dia belum berbicara dengan Mitchell setelah penangkapan para penyusup. Dia malah mengabarkan ke Nixon bahwa Partai Demokrat menuntut ganti rugi sebesar 1 juta dolar ke CREEP.

"Mengingat kampanye akan dilaksanakan empat bulan lagi maka tuntutan tersebut akan membuat media melakukan peliputan dan wawancara. Penuntutan sebesar satu juta dollar tidaklah masuk akal karena kerusakan yang ditimbulkan oleh penyusup dapat dikatakan tidak memerlukan penggantian yang berarti. Penggantian hanya dilakukan pada beberapa pintu dan telpon yang dipasang penyadap," sebut Slamet Riyadi dalam tesisnya, Pengunduran Diri Richard M. Nixon Sebagai Presiden Amerika Serikat.

Borok Watergate Sulit Ditutupi

Meski demikian, Nixon tahan banting. Setelah gagalnya lobi kepada CIA dan FBi agar penyelidikan kasus Watergate dihentikan, pihaknya menyuap para penyusup dan keluarganya. Penyusup diminta mengakui kesalahannya tanpa mengaitkan itu dengan Gedung Putih.

Siasat itu berjalan lancar. Namun, pada awal Oktober 1972, Woodward dan Bernstein lagi-lagi melansir artikel-artikel terkait Watergate. Kali ini, narasumber mereka berinisial "Deep Throat", seorang anggota FBI. Di samping itu, John Sirica, hakim kasus Watergate, menemukan bukti baru aliran dana kepada para penyusup. Di tambah bukti-bukti lain dan keterangan saksi, Sirica pun menjatukan vonis kepada lima penyusup plus Hunt dan Liddy.

Setelah itu, Sirica mengajukan kasus Watergate ke legislatif. Senator Sam Irvin menyambutnya dan mengusulkan agar Senat membentuk tim khusus Senat terkait kasus Watergate. Para senator secara akalamasi pun menyetujui usulan Irvin. Pada Maret 1973, Senat menggelar sidang perkara Watergate. Nixon dipaksa mengijinkan para stafnya memberikan kesaksian.

Untuk menangani Watergate, Senat menunjuk Achibald Cox sebagai jaksa khusus. Cox, profesor hukum dari Harvard University, merupakan pengacara John F. Kennedy. Orang yang pertama kali diselidiki Cox ialah John Dean, mantan penasihat kepresidenan Nixon.



Dean bilang Nixon terlibat upaya meredam Skandal Watergate. Dean juga mengatakan Nixon tahu penyusupan Mabes Komite Nasional Partai Demokrat 17 Juni 1972.

Pihak Senat juga memanggil John Ehrlichmann. Orang ini merupakan kepala staf Gedung Putih. Pernyataannya selama persidangan melindungi Nixon habis-habisan.

Dalam kasus ini, kesaksian staf operasional Gedung Putih Alexander Butterfied lah yang paling berharga. Keterangannya membuat para Senat tahu percakapan di Gedung Putih direkam. Tidak semua orang tahu hal ini. Cox lantas meminta rekaman itu diserahkan, meski ini ditolak Nixon dengan berbagai cara, salah satunya dengan memecat Cox.



Rekaman yang Menjatuhkan

Singkat cerita, Senator Irvin mengirim surat ke Nixon, berisi permintaan untuk menyerahkan rekaman. Dalam surat balasan, Nixon menolak permintaan itu. Nixon juga mengirim surat berisi ihwal yang sama ke Hakim Sirica. Nixon berdalih dia punya hak istimewa eksekutif - doktrin hukum yang melindungi penilaian terhadap cabang-cabang eksekutif dari pengawasan yang tidak semestinya.

"Truman menggunakannya [hak istimewa eksekutif] untuk melawan Nixon dan Kongres dalam kasus mata-mata Alis Hiss pada tahun 1948, dan Eisenhower telah menggunakan hak istimewa eksekutif melawan Kongres selama era McCarthy, ketika Nixon adalah wakil presiden Ike [eisenhower]," sebut John Aloysius Farrell dalam Politico.

Selain itu, Nixon juga meminta Jaksa Agung Elliot Richardson memecat Cox. Tapi, Richardson menolaknya dan mengundurkan diri pada Oktober 1973. Wakil Jaksa Agung sekaligus calon pengganti Richardson, William Ruckhelhaus, juga tidak mau menuruti Nixon. Walhasil, dia juga mengundurkan diri. Posisi Jaksa Agung kemudian dipegang Robert Bork yang pada akhirnya memecat Cox.

Ternyata, pengganti Cox, Leonidas Jaworski, lebih berani dalam menangani kasus Watergate. Pada April 1974, Nixon mengumumkan sebagian rekaman pembicaraannya di Gedung Putih yang terkait kasus Watergate. Tiga bulan kemudian, pada Juli, musim panas 1974, Mahkamah Agung AS memerintahkan Nixon untuk memberikan semua rekaman pembicaraannya. Bersamaan dengan itu, Komite Hukum Kongres AS telah merampungkan tiga poin pemakzulan terhadap Nixon.

Pada 5 Agustus 1974, Nixon menyerahkan transkip tiga rekaman percakapan dengan Haldeman. Transkip yang mengungka keterlibatan Nixon dalam penyusupan Watergate dikenal dengan sebut the smoking gun.

"Ini adalah pukulan terakhir, paku terakhir di peti mati," kata Nixon mengenai the smoking gun kepada ajudannya, Frank Gannon.

Dua hari kemudian, petinggi partai Republik seperti John Rodes dan Barry Goldwater menemui Nixon di Kantor Oval. Mereka bilang dia bakal dimakzulkan. Persis pada 8 Agustus 1974 malam, wajah Nixon muncul di siaran televisi AS. Dia berbicara langsung dari Kantor Oval.

“Selamat malam. Ini adalah ke-37 kalinya saya berbicara kepada Anda dari kantor ini, di mana begitu banyak keputusan telah dibuat yang membentuk sejarah bangsa ini." Setelah mengucapkan beberapa hal, Nixon mengatakan, "Saya akan mengundurkan diri dari jabatan presiden efektif di siang besok."

Tepat 9 Agustus 1974, hari ini empat puluh lima tahun lalu, Nixon secara resmi berhenti sebagai presiden AS.

Baca juga artikel terkait POLITIK AMERIKA SERIKAT atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight