tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) tengah bersiap mengikuti tender pembangunan Kampung Haji Indonesia yang akan digelar pemerintah Arab Saudi. Proyek ini dinilai tak hanya akan mengoptimalkan pelayanan kepada para jamaah haji dan umrah asal Indonesia, melainkan juga memberikan keuntungan besar pemerintah.
“Cukup banyak peminat tendernya, sangat banyak bahkan. Jadi ada sebuah kawasan yang ditawarkan untuk dikelola. Dikelola itu artinya dibangun. Tetapi proyek haji ini sudah mulai sekarang, sudah mulai proses awal-awal tender,” kata Managing Director Stakeholders Management Danantara, Rohan Hafas, dalam acara Media Coffee Morning with Danantara Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (31/10/2025).
Menurut Rohan, proyek Kampung Haji akan mencakup pembangunan kawasan penginapan untuk jemaah haji dan umrah asal Indonesia. Namun, area tersebut juga dirancang agar tetap produktif di luar musim ibadah.
“Buat Jemaah kita sangat menolong. Tapi itu bukan untuk monopoli saja di kala umroh, itu bisa dikomersialkan ke siapa saja, Kampung Haji. Mudah-mudahan kita bisa terus berkompetisi untuk memenangkan, mendapatkan kesempatan ini,” ujarnya.
Rohan menilai, proyek ini memiliki potensi keuntungan yang besar. Dengan jumlah jemaah haji dan umrah asal Indonesia mencapai sekitar dua juta orang per tahun, kebutuhan akomodasi dipastikan stabil sepanjang waktu.
“Jumlah jemaah haji Indonesia 2 juta per tahun: umrah plus haji. 2 juta kalikan berapa jumlah hotel yang ada, enggak mungkin kosong kalau bikin hotel dan sebagainya di sana,” katanya.
Kampung Haji Indonesia diharapkan menjadi solusi bagi jemaah asal Tanah Air yang selama ini mengeluhkan pemondokan jauh dari Masjidil Haram dengan fasilitas terbatas.
Peluang ini terbuka setelah pemerintah Arab Saudi meninjau ulang aturan kepemilikan tanah bagi warga asing di Mekkah. Indonesia memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor infrastruktur keagamaan.
Rohan menjelaskan, ada delapan plot lahan yang ditawarkan dengan jarak bervariasi dari Masjidil Haram—antara satu hingga dua kilometer—dan luas mencapai 25 hingga 80 hektare. Adapun pembebasan lahannya akan dilakukan langsung oleh pemerintah Arab Saudi.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id



































