tirto.id - Kasus yang diduga sebagai malpraktik di sebuah rumah sakit (RS) milik pemerintah mencuat ke permukaan usai seorang pasien perempuan mengaku mengalami lumpuh total pasca operasi sesar yang dijalaninya pada September tahun lalu.
Datang dalam kondisi sehat dan masih bisa berjalan, pasien korban mengatakan, beberapa bulan setelah operasi di RSUD Kota Bekasi, kondisinya justru tidak juga membaik. Kakinya sering sakit, hingga akhirnya didiagnosis mengalami kerusakan pada tulang belakang.
Kendati begitu, tudingan malpraktik ini dibantah oleh RS yang bersangkutan. Direktur RSUD Kota Bekasi, dr. Kusnanto Saidi, MARS., menegaskan kalau tindakan medis yang dilakukan pihaknya sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Pasien dikatakan kembali kontrol ke RS pada Desember 2024, sekira tiga bulan setelah operasi. Dalam rentang waktu tersebut, pasien dikatakan Kusnanto tidak melaporkan keluhannya kepada RS.
Pihak RSUD disebut telah bertemu dengan pasien dan keluarganya. Namun, Kusnanto bilang, permintaan keluarga pasien terlalu tinggi. "Ayah pasien ingin anaknya sembuh total, tapi kita ini bukan Tuhan. Kami sudah berusaha maksimal sesuai keahlian dan kapasitas kami," kata Kusnanto, dilaporkan Kumparan, Senin (30/6/2025).
Sementara itu, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto mengatakan sudah melakukan investigasi terkait dugaan malpraktik yang menimpa pasien di RSUD Kota Bekasi ini.
Tri menjelaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap pemulihan pasien. Oleh karenanya ia mendorong RSUD untuk memberikan fasilitas rehabilitasi sebaik mungkin agar pasien bisa kembali pulih dan beraktivitas.
“Saya sudah minta laporan lengkap terkait kondisi medisnya. Bahkan, saya juga minta IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk meninjau kembali proses pengobatannya. Secara umum, prosedur yang dilakukan sudah sesuai SOP, tapi aspek komunikasi rumah sakit dengan keluarga pasien perlu diperbaiki,” katanya.
Seperti yang sudah diketahui, operasi caesar atau sesar adalah prosedur persalinan untuk mengeluarkan bayi melalui sayatan di perut. Operasi ini dilakukan jika persalinan melalui vagina tidak memungkinkan untuk dilakukan, atau terjadi komplikasi kehamilan.
Secara umum, seperti dinukil dari artikel Alodokter yang sudah ditinjau dr. Kevin Adrian, operasi sesar dimulai dengan pemberian obat bius spinal kepada pasien. Tujuannya agar pasien tetap terjaga, tetapi bagian pinggang sampai kaki mengalami mati rasa selama operasi.
Meski operasi sesar umumnya aman untuk dijalani, operasi ini tidak disarankan untuk ibu hamil dengan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan itu meliputi penyakit paru yang parah, gangguan pembekuan darah berat, dan riwayat operasi perut yang besar atau berulang.
Kecil Kemungkinan sebagai Risiko Sesar
Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Yudi Mulyana Hidayat, menerangkan kalau operasi sesar jarang, atau bahkan tidak pernah, menyentuh saraf ekstremitas bawah, alias saraf pada anggota gerak bawah, termasuk kaki.
“Jadi, sebagai risiko tindakan operasi sesar sangat kecil. Risiko sesar lebih ke perdarahan akibat kontraksi rahim yang kurang baik (atonia), cedera pada kandung kemih, cedera pada saluran cerna bawah, dan infeksi luka operasi,” bebernya kepada Tirto, Selasa (1/7/2025).
Selain itu, kemungkinan efek samping lain juga mencakup terbentuknya gumpalan darah, terutama di kaki atau panggul dan adanya gangguan pada kehamilan berikutnya, seperti plasenta akreta (kondisi ketika plasenta atau ari-ari tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim).
Meski kelumpuhan sebagai risiko sesar kecil, dr. Yudi mendorong pihak RS untuk mencari penyebab utama dari kelumpuhan tersebut. Mengingat faktor kelumpuhan kompleks.

Iqbal Mochtar, selaku bagian dari pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI), menjelaskan kalau kelumpuhan berkaitan dengan saraf. Jadi, katanya, kalau kelumpuhan terjadi, ada kemungkinan disebabkan oleh gangguan saraf, mulai dari atas alias otak, kemudian ke tulang belakang, lalu ke saraf perifer.
“Bisa juga karena adanya gangguan pada otot. Jadi ini sebenarnya sangat kompleks. Kita harus terlebih dahulu menentukan ini jenis kelumpuhannya apa. Apakah kelumpuhannya ini sifatnya satu sisi bagian kiri kanan atau kelumpuhannya itu bagian atas bawah,” ungkap dr. Iqbal saat dihubungi Tirto, Selasa (1/7/2025).
Dengan begitu, ada banyak hal yang perlu ditelisik dahulu sebelum mengidentifikasi penyebab kelumpuhan. Hal paling penting, menurut dr. Iqbal, adalah mengetahui jenis kelumpuhannya.
“Kalau kita sudah mendapat jenis kelumpuhan itu, baru kemudian kita bisa menarik kemungkinan. Tidak semua kejadian buruk atau munculnya efek samping atau sebuah tindakan itu selalu terkait dengan malpraktik,” kata dr. Iqbal.
Malpraktik sendiri pada dasarnya merupakan tindakan keliru dalam penatalaksanan pasien, alias kesalahan dalam melakukan tindakan. Dokter Iqbal mencontohkan, misalnya orang melakukan operasi yang seharusnya dioperasi ginjal kanan, tetapi yang dioperasi adalah ginjal kiri.
Contoh lainnya yakni menjalani operasi sesar kemudian terjadi perdarahan, tetapi dokter tidak mampu menanggulangi perdarahan tersebut secara adekuat. Atau misalnya saat melakukan operasi, dokter melakukan salah potong arteri. Itulah yang disebut sebagai malpraktik.
Sementara efek samping yang muncul dari sebuah tindakan, dr. Iqbal bilang, kemungkinannya banyak dan bisa disebabkan oleh kondisi pasien yang mengalami gangguan.

“Jadi ada orang-orang tertentu yang memang kondisinya itu sangat rentan, sehingga ketika dia mendapati tindakan-tindakan tertentu, seperti tindakan anestesi atau tindakan pembedahan, maka tiba-tiba kondisinya itu menjadi makin memburuk,” bebernya.
Oleh karenanya, menurut dr. Iqbal, sebelum menyebut suatu kasus sebagai malpraktik, perlu ada investigasi mendalam. Misalnya, penting kemudian memeriksa pencatatan atau medical notes pada saat kejadian berlangsung dan perlu pula mengetahui kondisi pasien.
“Apakah pasien itu memang mengidap penyakit tertentu. Kemudian ketika dokter melakukan tindakan itu kan ada catatannya. Jadi ada saksinya, ada yang melakukan. Ada catatan secara lengkap obat-obat apa yang dimasukkan. Pada jam berapa, kemudian tindakan apa yang dilakukan,” kata dr. Iqbal.
Setelah itu baru bisa dilihat apakah memang ada kesalahan prosedur, atau ada tidaknya kesalahan penatalaksanaan.
Perlu Audit Klinis Menyeluruh
Dokter Iqbal, yang juga merupakan pengurus Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), mendorong RS untuk melakukan audit klinis. Audit klinis sebagai langkah awal ini dilakukan terhadap seluruh prosedur atau seluruh tindakan yang bersesuaian dengan kondisi kasus ini.
“Jadi perlu melihat kasus ini secara individual untuk melihat apakah memang ada gangguan atau kesalahan prosedur di dalam penatalaksanaanya. Jadi audit itu perlu bukan hanya terhadap kasus ini tetapi secara keseluruhan,” ungkap dr. Iqbal.
Langkah selanjutnya yakni mengidentifikasi standar operasional prosedur atau SOP yang berlaku di institusi RS tersebut. Apakah SOP sudah adekuat atau tidak, atau justru ada celah di situ.
Hal lain yang tidak kalah penting, menurut dr. Iqbal, yakni RS melakukan pemeriksaan kasus ini secara terbuka dan transparan, dengan melibatkan berbagai stakeholder yang ada, termasuk dari IDI, pihak dari sektor hukum, serta manajemen RS.
“Itu perlu ditelisik kasus ini itu secara jujur dan transparan. Dan yang tidak kalah pentingnya itu ketika ada kasus seperti ini, itu pasien yang mengalami efek samping seperti ini itu jangan ditinggalkan,” kata dr. Iqbal.
Jadi, pasien harus diberikan perawatan. Jangan sampai semua pihak hanya ribut mendiskusikan penyebabnya, apakah ini malpraktik atau tidak, sementara pasien yang terdampak tidak mendapat tindakan yang bisa membantu dia untuk pulih dan kembali sehat seperti sediakala.
“Nah ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan. Dan tidak kalah pentingnya juga, saya kira ketika ada kejadian begini, para dokter dan tenaga medis itu perlu kemudian melakukan introspeksi. Jadi ini merupakan learning process,” ungkap dr. Iqbal.
Ia mengajak rekan sejawat untuk berefleksi dan melihat apakah hal-hal yang selama ini dilakukan sudah tepat atau belum. Begitu pula merefleksikan hal-hal yang perlu diperbaiki.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id


































