tirto.id - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mengungkap situasi pariwisata dan okupansi hotel di Bali terdampak penyerangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran. Konflik tersebut menyebabkan gangguan keamanan global, serta pembatalan penerbangan akibat tutupnya wilayah udara di beberapa tempat.
Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, mengungkap tingkat okupansi rata-rata regional Bali pada awal Maret 2026 hanya 60 persen. Situasi ini disebabkan oleh berkurangnya wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa yang penerbangannya condong melalui transit di Doha, Dubai, dan Abu Dhabi.
“Saat ini ada penurunan di data wisatawan dari Timur Tengah dan Eropa karena mereka yang sedang berwisata banyak yang tertunda, apalagi calon wisatawan banyak yang mengurungkan niat. Berwisata itu perlu aman. Mereka perlu aman dan menunggu apa yang akan terjadi,” kata Rai kepada Tirto, Selasa (03/03/2026).
Rai melihat, eskalasi perang yang lebih luas akan berbahaya bagi dunia pariwisata karena menyebabkan krisis ekonomi global, serta naiknya harga minyak dan barang-brarang kebutuhan pokok. Akibatnya, wisatawan banyak yang mengurungkan niatnya untuk bepergian.

“Kalau kita ke Eropa, sekarang tidak bisa melalui Doha, Dubai, dan Abu Dhabi. Mungkin bisa dialihkan (reroute) ke Taipei atau melalui Cina. Namun, itu akan sangat jauh dan melelahkan, serta tentu biaya akan lebih tinggi,” jelasnya.
PHRI berharap konflik di kawasan Timur Tengah bisa cepat usai. Berdasarkan pengamatannya pada situasi saat ini, Rai melihat perang mulai merugikan secara ekonomi dan menghancurkan psikis dari korban terdampak. Lamanya perang tersebut juga dapat menyebabkan dendam antarnegara yang berkepanjangan dan berujung pada krisis yang lebih parah.
“Kalau saya lihat, biasanya negara-negara adidaya seperti ini tidak akan terlalu lama. Perkiraan saya mudah-mudahan tidak lama ini,” imbuhnya.
Saat ini, PHRI masih berusaha untuk memberikan informasi pada wisatawan secara daring mengenai keadaan Bali yang masih kondusif meskipun curah hujan masih cukup tinggi. Selain itu, PHRI juga akan mendorong wisatawan dari negara-negara terdekat, seperti Singapura, Malaysia, Cina, India, Korea, Jepang, dan Thailand.
Untuk karyawan hotel, efisiensi akan diberlakukan karena okupansi yang rendah. Efisiensi tersebut berarti tidak menyiagakan semua staf dalam satu waktu, serta memberikan cuti dan liburan. Di samping itu, hotel-hotel juga akan melakukan training untuk meningkatkan pelayanan ketika kondisi kembali prima nantinya.
“Kalau memungkinkan, bisa melakukan evaluasi untuk memperbaiki kualitas produk dan sumber daya,” tutup Rai.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































