Menuju konten utama

Polisi dan Forensik Bantah Turis Cina di Canggu Tewas Keracunan

Kematian Deqing sulit diketahui secara pasti. Namun, ditemukan bercak-bercak kemerahan pada usus halusnya.

Polisi dan Forensik Bantah Turis Cina di Canggu Tewas Keracunan
Konferensi pers mengenai perkembangan kasus tewasnya WN Cina di Clandestino Hostel Canggu, Senin (24/11/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

tirto.id - Polisi membantah bahwa turis asal Cina, Deqing Zhuoga (perempuan, 25), meninggal akibat keracunan. Deqing ditemukan tewas dalam sebuah kamar di Clandestino Hostel Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, pada Selasa (02/09/2025) pukul 11.00 WITA.

Deqing bersama beberapa turis lainnya diduga mengalami keracunan beberapa hari setelah hostel tersebut menjalani fumigasi. Fumigasi dilakukan karena terdapat keluhan bahwa kamar hostel dipenuhi kutu kasur.

"Dokter forensik menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium kriminalistik, bahwa bahasa racun itu sudah tidak terdeteksi. Racun, pestisida, arsenik, sianida, maupun metanol dan alkohol tidak terdeteksi. Sehingga racun itu sudah terpatahkan secara scientific investigation," ungkap Kasat Reskrim Polres Badung, AKP Azarul Ahmad, dalam konferensi pers di Mapolres Badung, Senin (24/11/2025).

Azarul menegaskan, Deqing dipastikan tidak mengalami keracunan akibat mengonsumsi makanan di hostel tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap rekaman CCTV di TKP dan restoran hotel, korban sama sekali tidak makan di restoran hotel.

"Kita sudah tunjukkan juga kepada keluarganya melalui bukti rekaman CCTV, korban ini tidak makan di hotel, sehingga kami tidak bisa memastikan dari mana korban ini mandapatkan gejala diare," kata Azarul.

Selain itu, polisi sudah memeriksa 15 saksi mengenai tewasnya Deqing di dalam kamar hostel. Salah satu saksi yang diperiksa adalah Zhou Shanshan (perempuan, 29), yang juga mengalami diare seperti yang dialami Deqing. Namun, berdasarkan pengakuan Shanshan, dia juga tidak makan hidangan yang disajikan oleh hostel tersebut, melainkan di sebuah restoran yang ada di luar Kabupaten Badung.

"Konsep hotelnya itu, satu kamar diisi oleh 6 hingga 8 orang. Korban datang sebagai solo traveler dan tidak saling mengenal satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak ada yang beraktivitas bersama dia. Jadi tidak bisa dipastikan [penyebab keracunan] karena berbeda-beda tempat makan," jelasnya.

Dokter Forensik RSUP Prof Ngoerah, Kunthi Yulianti, mengatakan jenazah korban diterima di Unit Forensik Prof Ngoerah pada tanggal 2 September 2025 pukul 14.40 WITA dan dilakukan pemeriksaan luar jenazah. Dari hasil pemeriksaan luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.

Sementara itu, pemeriksaan dalam dilakukan pada 15 September 2025 pada pukul 09.00 WITA. Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan bercak-bercak kemerahan pada usus halus. Namun, di dalam usus tersebut, tidak ditemukan cairan atau hasil pencernaan dari lambung.

"Kami ambil sampel pemeriksaan untuk toksikologi dan untuk patologi anatomi. Dari hasil pemeriksaan toksikologi, didapatkan hasil yang pertama. Dari sampel yang kami kirim, seperti darah, urine, kemudian cairan lambung, hati, paru-paru, dan ginjal, itu tidak ditemukan adanya pestisida pada seluruh sediaan," terang Kunthi.

Pada seluruh sediaan juga tidak ditemukan adanya narkotika, metanol, dan etanol. Selain itu, dalam uji kertas pikrat dan uji arsen, tidak ditemukan kandungan sianida dan arsenik pada seluruh sampel. Di sisi lain, pada pemeriksaan patologi anatomis, ditemukan pelebaran pembuluh darah pada hampir semua organ.

"Dari kelenjar getah bening yang kami ambil, ternyata tidak ditemukan hal yang spesifik. Jadi hanya tanda peradangan kronis. Kemudian jantungnya dalam batas normal. Ada sedikit penebalan dinding di arteri koronernya, tetapi tidak bermakna untuk menimbulkan sumbatan pada pembuluh darah jantung. Sumbatannya kecil, sekitar 30 persen," ucapnya.

Kunthi mengungkap, sebab kematian Deqing sulit diketahui secara pasti. Namun, secara pemeriksaan makroskopis, tidak dapat disingkirkan sebab kematian karena iritasi saluran pencernaan yang menimbulkan diare, serta mengakibatkan kekurangan cairan dan elektrolit.

"Kalau dia mengalami diare, biasanya kematiannya diakibatkan oleh kekurangan cairan dan elektrolit. Namun, pada pemeriksaan patologi anatomis, kurang mendukung adanya tanda-tanda dehidrasi berat. Biasanya ditemukan adanya nekrosis tubular pada ginjal, sementara pada patologi anatomi tidak ditemukan hal tersebut," tuturnya.

Pihak forensik juga mengakui sempat bertemu dengan keluarga Deqing untuk melakukan wawancara mengenai riwayat penyakit. Dari hasil wawancara, forensik mendapati bahwa Deqing tidak memiliki keluhan penyakit dan berada dalam kondisi sehat.

"Itu yang dikatakan [oleh pihak keluarga], yang bersangkutan itu baik-baik saja selama ini. Kalau dari pemeriksaan kami dengan pemeriksaan toksikologi yang menyatakan bahwa tidak ditemukan zat-zat yang diperiksa, saya juga tidak bisa mengarahkan kematian ini pada keracunan karena tidak ada buktinya," ungkapnya.

Kunthi mengakui adanya keterbatasan waktu untuk memeriksa biakan kuman (kultur kuman). Lamanya waktu autopsi mengakibatkan pemeriksaan tersebut menjadi tidak lagi akurat. Selain itu, RSUP Prof Ngoerah juga mengakui tidak memeriksa korban yang selamat dari kejadian di hostel.

"Kami tidak dikirimi pasiennya untuk diperiksa dan pasiennya tidak ada yang berobat di RSUP Prof Ngoerah, jadi kami tidak mengetahui dengan pasti [penyebab keracunan]," imbuhnya.

Baca juga artikel terkait TURIS CINA atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Flash News
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah