Menuju konten utama

Turis Keracunan di Hostel Canggu Bali, 1 WN Cina Tewas

Deqing bersama sejumlah turis lainnya mengalami keracunan beberapa hari setelah hostel tersebut menjalani fumigasi.

Turis Keracunan di Hostel Canggu Bali, 1 WN Cina Tewas
Petugas mengevakuasi jenazah Deqing Zhuoga (25) yang tewas saat menginap di sebuah hostel di Canggu, Selasa (02/09/2025). Foto/Humas Polres Badung

tirto.id - Seorang turis asal Cina, Deqing Zhuoga (perempuan, 25), ditemukan tewas di sebuah kamar hostel seharga 9 Dolar Amerika Serikat per malam yang terletak di Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, pada Selasa (02/09/2025) pukul 11.00 WITA.

Kasus Deqing mencuat usai beberapa media asing memberitakan kematiannya. Dilansir dari New York Post, Deqing bersama sejumlah turis lainnya mengalami keracunan beberapa hari setelah hostel tersebut menjalani fumigasi. Fumigasi dilakukan karena terdapat keluhan bahwa kamar hostel dipenuhi kutu kasur.

Pejabat Sementara (PS) Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, membeberkan bahwa kematian Deqing belum diketahui secara spesifik.

Berdasarkan pemeriksaan di Laboratorium Forensik Denpasar, tidak terdeteksi senyawa pestisida, narkotika, sianida, logam berat arsen, bahan kimia berbahaya, dan metanol di muntahan korban. Selain itu, pemeriksaan luar oleh Rumah Sakit (RS) Prof. Ngoerah menunjukkan tidak adanya tanda-tanda kekerasan. Korban diperkirakan telah meninggal 2–12 jam sebelum ditemukan.

Inastuti bilang, pemeriksaan terhadap obat-obatan yang terletak di dalam tas Deqing juga telah dilakukan. Obat-obatan tersebut ditemukan dalam klip yang berada di dalam tas ransel warna hitam, terdiri atas Lorano Akut, Ibuhexal Akut, Paracetamol, Amoxicillin 500, Siderm Lotion, Predmisolon 5 mg, Vicee 500, dan Fenbid Capsule. Namun, hasil pemeriksaan obat-obatan tersebut belum keluar.

"Pada pemeriksaan dalam, ditemukan adanya bercak-bercak pendarahan dan pelebaran pembuluh darah pada selaput lendir lambung, cairan berwarna hitam kehijauan pada rongga lambung, bercak-bercak kemerahan di beberapa tempat pada usus halus, serta dalam rongga usus besar kosong yang merupakan tanda-tanda penyakit diare. Namun, sebab pasti kematian tidak dapat ditentukan," ungkapnya ketika dihubungi Tirto, Jumat (21/11/2025).

Polisi telah memeriksa sejumlah karyawan hostel untuk mengetahui kronologi kasus. Berdasarkan keterangan saksi bernama Maria Yasinta, Deqing sempat mengeluh sakit ke resepsionis sebanyak dua kali pada Senin (01/09/2025).

Keluhan pertama, pada pukul 20.00 dan 20.15 WITA. Korban mengeluh sakit di bagian kepala dan punggung, serta merasa lemas. Kemudian, korban sempat meminta air dan pisang kepada Maria.

Pada pukul 23.30 WITA, Maria mengajak korban berobat ke klinik. Sesampainya di sana, korban sempat mendapat penanganan dari dokter karena mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Deqing semula disarankan untuk rawat inap, tetapi dia memilih untuk rawat jalan karena kendala biaya.

"Sekitar pukul 11.00 WITA, Selasa (02/09/2025), saksi bernama Putu Eka yang bertugas mengecek tamu untuk check out datang ke kamar korban. Setelah berhasil membuka pintu, dia melihat korban sudah dalam posisi tengkurap. Melihat kejadian tersebut, saksi memanggil manager. Manager memeriksa denyut nadi. Masih ada, tetapi napas sudah tidak ada," terang Ayu.

Pada hari Selasa (02/09/2025) tersebut pula, sebanyak 6 turis lainnya juga diketahui mengalami muntah dan diare. Mereka dilarikan ke rumah sakit yang berbeda seusai menderita sakit. Tiga turis berada sekamar dengan korban di kamar nomor 8, yakni Mingmin Lei (perempuan, 37); Melanie Irene (perempuan, 22); dan Alisa Kokonozi (perempuan, 22).

Sementara itu, 3 turis lainnya yang berada di kamar nomor 5 juga mengalami sakit dengan gejala muntah-muntah. Mereka adalah Alahmadi Yousef Mohammed (laki-laki, 25); Cana Clifford Jay (laki-laki, 27); dan Zhou Shanshan (perempuan, 29). Keenam turis tersebut sudah kembali ke negaranya masing-masing.

Sebelumnya, dilansir dari New York Post, Deqing ditemukan dalam keadaan setengah telanjang dan tidak responsif di ranjang susun hostel pada Selasa (02/09/2025). Teman sekamarnya, Leila Li, yang juga sempat dirawat intensif karena sakit parah, menjelaskan bahwa Deqing memburuk tanpa mampu meminta pertolongan.

"Saya berhasil meminta pertolongan dan dibawa ke pusat medis sebanyak tiga kali, lalu mereka memanggil ambulans untuk saya. Saya meminta mereka untuk memanggil dokter dan saat saya sampai di rumah sakit aku mengirim pesan pada Deqing untuk ikut masuk juga, tetapi saya tidak pernah mendapat balasan," kata Li, dikutip dari New York Post, Jumat.

Li juga menyerukan agar hostel tersebut ditutup selama masa penyelidikan. Selain itu, Li mengaku dihubungi oleh wisatawan dari berbagai negara yang mengalami gejala serupa setelah menginap di hostel yang sama.

"Dokter yang menangani saya telah memastikan bahwa itu adalah keracunan pestisida dan keracunan makanan. Mereka sedang berusaha menutupinya dan saya hanya ingin memperingatkan orang-orang agar hal ini tidak terjadi pada siapa pun lagi," tegas Li.

Deqing Pesan Makan Hanya di Hari Pertama Menginap

Jenazah Deqing Zhuoga

Petugas mengevakuasi jenazah Deqing Zhuoga (25) yang tewas saat menginap di sebuah hostel di Canggu, Selasa (02/09/2025). Foto/Humas Polres Badung

Kondisi lingkungan hostel yang mengakibatkan para turis mengalami diare tersebut belum diketahui secara mendalam. Namun, pihak hostel mengeklaim selalu memastikan kebersihan dapur dengan cara memasak menggunakan sarung tangan dan membersihkan dapur setelah selesai memasak. Selain itu, bahan baku makanan akan dibuang setelah lewat 3–5 hari.

"Pada tanggal 1 September 2025, di restoran hanya menyediakan mi goreng, ayam lada hitam, telur goreng yang ditipiskan, kerupuk, dan sayur. Para tamu hanya boleh mengonsumsi makanan yang disediakan di rooftop, tidak boleh dibawa ke kamar," terang Ayu dari Polres Badung.

Ayu mengungkap, berdasarkan data yang ada di petugas resepsionis, Deqing mengonsumsi makanan di hostel sebanyak satu kali, yakni pada hari pertama menginap di tanggal 12 Agustus 2025. Setelahnya, Deqing tercatat tidak pernah memesan makanan di sana.

"Pemeriksaan kebersihan dari seluruh kawasan hostel merupakan kewenangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dan UPTD Puskesmas Kuta Utara. Untuk mengetahui secara pasti, harus melakukan uji lab terhadap kualitas air, makanan, dan swab terhadap pegawai restoran dan alat yang digunakan untuk memasak," tutup Ayu.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Flash News
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah