tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.002 pada perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2026). Rupiah turun sebesar 19 poin atau 0,11 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.983.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai, melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal melemahnya rupiah karena pemerintah memperkirakan defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) melebar dari target seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia imbas perang Timur Tengah.
"Setiap kenaikan harga minyak 1 USD per barel akan menambah Rp6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB. Kendati yakin tetap berada di bawah batas 3 persen," ucapnya dalam keterangan yang diterima, Kamis (2/4/2026).
Ia mengingatkan, defisit APBN bisa melebar ke 2,9 persen terhadap PDB, khususnya jika harga minyak berada di level 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel secara konsisten sepanjang tahun. Namun, pemerintah disebut masih memiliki ruang fiskal.
Ibrahim berujar, salah satu alasannya karena harga minyak dunia pun masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB salah satunya dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level 70 dolar AS per barel.
Kata dia, APBN akan tetap menjadi peredam kejut (shock absorber) kenaikan harga minyak usai pemerintah tak menaikkan harga BBM. Dengan demikian, anggaran subsidi energi berpotensi bengkak hingga sebesar Rp100 triliun untuk meredam kenaikan harga minyak.
"Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan penghematan guna mengantisipasi harga minyak terus bertengger di 100 dolar AS per barel sepanjang tahun," ucapnya.
"Beberapa cara yang dilakukan yakni penghematan belanja kementerian/lembaga hingga tiga tahap, sampai dengan pemanfaatan saldo anggaran lebih guna menambal defisit," imbuh Ibrahim.
Ia melanjutkan, faktor eksternal melemahnya rupiah, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan pihaknya akan terus menyerang Iran. AS juga merilis target energi dan minyak selama beberapa minggu ke depan, sekaligus tidak memberikan komitmen pada jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang.
Ibrahim menuturkan faktor lain, yakni pernyataan Trump di satu sisi mengatakan militer AS hampir menyelesaikan tujuannya dalam perang melawan Iran. Trump juga mengklaim konflik akan segera berakhir, tetapi tidak memberikan jangka waktu spesifik.
Di satu sisi, ancaman terhadap lalu lintas maritim disebut telah meningkat seiring intensifikasi konflik di seluruh wilayah. Sebuah kapal tanker minyak yang disewa oleh QatarEnergy dihantam oleh rudal jelajah Iran di perairan Qatar.
"Serangkaian data ekonomi akan dirilis akhir pekan ini, termasuk Klaim Pengangguran Awal mingguan AS yang akan dirilis malam ini. Dilanjutkan dengan Data Ketenagakerjaan Non-Pertanian yang akan dirilis besok Jumat," ucap Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id




































