Menuju konten utama

Nasib Tukang Becak di Depok: Sampai Kapan Menunggu Penumpang?

Keberadaan becak hanya akan mampu bertahan lima hingga 10 tahun ke depan, dan akan bergeser fungsinya menjadi sekadar moda transportasi wisata.

Nasib Tukang Becak di Depok: Sampai Kapan Menunggu Penumpang?
Penarik becak, Ibing, ketika sedang menunggu penumpang di depan Pasar Depok Jaya, Depok, Senin (24/08/28). tirto.id/Putri Az zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di bawah rimbun pohon di kawasan Depok 1 tepatnya di depan Pasar Depok Jaya, Jl. Nusantara Raya, Depok Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok, sebuah pemandangan kontras tersaji setiap harinya.

Di sela-sela deru mesin sepeda motor dan mobil yang saling berkejaran, terselip barisan becak dengan cat yang mulai mengelupas. Pagar besi berwarna oranye kusam menjadi saksi bisu bagaimana moda transportasi roda tiga ini perlahan-lahan kehilangan tempat di aspal perkotaan.

Di balik kemudi manual itu, terdapat sosok seperti Ibing Samsudin (53), yang telah menghabiskan dua dekade hidupnya mengayuh becak di Kota Depok.

Ibing adalah gambaran hidup dari sulitnya mencari nafkah sebagai perantau di tengah kota yang kian modern. Berasal dari Pamanukan, Subang, Jawa Barat, ia datang ke Depok sekitar 20 tahun lalu saat wilayah tersebut masih berupa kampung dengan jalanan yang belum seramai sekarang.

Baginya, merantau ke kota bukan tentang mengejar kemewahan, melainkan pelarian dari ketiadaan lapangan kerja di desa. Dengan istri dan seorang anak bungsu yang masih duduk di kelas 6 SD di kampung halaman, Ibing harus bertahan di tengah gempuran zaman.

“Dulu mah, ya rame lah. Kalau dulu mah, ya emang di atas depan. Sekarang mah, nyari lima puluh (Rp50 ribu) juga udah susah. Paling dapat dua dorongan, tiga dorongan," ujar Ibing, ketika bercerita kepada Tirto, di depan Pasar Depok Jaya, Senin (24/08/26).

Kejayaan becak memang telah lewat. Jika pada awal 2000-an seorang penarik becak bisa dengan mudah membawa pulang Rp200 ribu per hari, kini angka Rp50 ribu pun terasa sangat berat untuk dicapai. Musuh utamanya bukan lagi rasa lelah, melainkan kemudahan memesan transportasi publik lewat ponsel pintar dan layanan serba cepat yang ditawarkan oleh ojek online.

Penumpang setia yang tersisa hanyalah para lansia atau ibu-ibu di sekitar perumahan yang ingin pergi ke pasar dengan tarif Rp20 ribu hingga Rp 25 ribu untuk perjalanan pulang-pergi.

Becak Ibing

Sebuah becak ketika sedang menunggu penumpang di depan Pasar Depok Jaya, Depok, Senin (24/08/28). tirto.id/Putri Az zahra

Salah satu penumpang Sri (40), mengungkapkan bahwa becak tetap menjadi pilihan "penyelamat" di situasi tertentu.

"Beberapa kali doang sih (naik becak), kalau misalnya lagi kepepet," ujar Sri, yang baru saja akan menaiki becak dari Pasar Depok Jaya.

Ia mengakui bahwa sebenarnya ia lebih sering menggunakan ojek online, namun ada kendala teknologi yang membuatnya kembali ke bangku becak.

"Soalnya anak saya kan yang biasa pesenin ojek online. Nah, itu dia suka kuliah kadang, jadinya sayanya enggak bisa pesan ojek online," ujar Sri.

Baginya, rute pendek dari rumah ke pasar terasa lebih praktis dengan becak. Ketersediaan becak yang selalu ada di pangkalan tanpa harus menunggu proses seperti di aplikasi menjadi alasan utama mengapa moda transportasi ini masih ia gunakan.

"Ya soalnya mudah ditemuin aja sih, kalau misalnya saya lagi nyari, ada aja becaknya. Mangkal gitu," kata Sri.

Becak di Ambang Kepunahan

Kondisi ini tidak luput dari perhatian Djoko Setijowarno, seorang pengamat transportasi yang memandang fenomena ini dari kacamata sistemik.

Menurut Djoko, posisi becak dalam sistem transportasi umum perkotaan saat ini sudah berada di ambang kepunahan. Ia menilai keberadaan becak hanya akan mampu bertahan paling lama lima hingga 10 tahun ke depan, sebelum akhirnya benar-benar hilang atau bergeser fungsinya menjadi sekadar moda transportasi wisata.

“Driver tukang becak itu sekarang banyaknya sudah rata-rata di atas 60 lah, atau di atas 50 karena mereka enggak mampu atau tidak bisa naik motor. Jadi keberadaannya itu ya, saya kira 5-10 tahun lagi sudah hilang lah itu. Lebih pada nanti untuk wisata aja, seperti di banyak negara begitu,” jelas Djoko kepada Tirto, Senin (24/8/2026).

Ia membandingkan kondisi di berbagai kota di Jawa. Di Solo, Jawa Tengah, becak masih memiliki napas karena statusnya sebagai kota wisata dan sistem tarif yang tidak kaku.

Tanpa tarif tetap, penumpang seringkali memberikan bayaran lebih karena rasa kasihan atau apresiasi. Sebaliknya, di kota-kota yang mencoba menerapkan tarif kaku, becak justru semakin ditinggalkan.

Namun, solusi modernisasi yang ditawarkan pemerintah pun seringkali tidak menyentuh akar permasalahan. Djoko menyoroti program bantuan becak listrik yang dianggap sebagai solusi "manusiawi", namun gagal dalam tataran implementasi karena minimnya pendampingan.

Becak-becak listrik tersebut seringkali berakhir menjadi rongsokan karena pengemudinya tidak dibekali kemampuan teknis untuk merawat mesin atau urusan pengisian daya.

“Dikasih-kasih aja gitu. Ketika rusak mereka harus kemana? Selama itu tidak ada, akhirnya jadi mangkrak juga program ini,” tegas Djoko.

Bantuan becak listrik di Jombang

Sejumlah pengendara becak menerima bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto di Pendopo Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (24/8/2026). ANTARA FOTO/Syaiful Arif/agr

Lebih jauh, ia melihat bahwa masalah ini bukan hanya tentang becak, melainkan tentang kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja yang layak. Kehadiran transportasi daring yang dianggap sebagai penyelamat ekonomi, menurutnya, justru menciptakan bentuk "kolonialisme baru".

Para pengemudi ojol, meski terlihat lebih modern, sebenarnya berada dalam posisi yang sama rentannya dengan penarik becak. Mereka dipermainkan oleh sistem aplikator dengan potongan pendapatan yang besar tanpa jaminan kesejahteraan yang jelas.

Djoko mengusulkan agar pemerintah mulai membangun aplikasi transportasi nasional sendiri dengan potongan yang lebih kecil, misalnya lima persen, untuk melindungi para pekerja di sektor ini.

Ia juga melihat peluang besar jika profesi pengemudi diarahkan menjadi kurir barang yang memiliki standar pendapatan lebih stabil dibandingkan pengangkut penumpang.

“Pemerintah tuh harusnya membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Jangan itu iming-iming jadi UMKM segala. Mereka juga rasa dibohongin kok. Potongan 8% itu tidak seperti yang diperkirakan. Sampai sekarang pendapatan mereka nggak ada berubah. Sementara obyeknya itu tetap ngajak larat. Kan model kolonialisme baru itu,” ungkap Djoko.

Becak Ibing

Becak Ibing ketika sedang menunggu penumpang di depan Pasar Depok Jaya, Depok, Senin (24/08/28). tirto.id/Putri Az zahra

Di tengah perdebatan makro mengenai sistem transportasi dan ekonomi tersebut, Ibing Samsudin tetap pada rutinitasnya, ia kini menyambi sebagai penjaga tanaman milik warga sekitar. Baginya, yang penting adalah tetap bisa mengirim uang ke kampung agar si bungsu bisa terus sekolah.

Ibing menyadari bahwa jumlah rekan sejawatnya terus berkurang. Dari ratusan becak yang dulu memadati pangkalan di Depok, kini jumlahnya diperkirakan tidak sampai 50 unit. Banyak yang sudah memilih pulang kampung, menyerah pada mesin-mesin yang lebih cepat.

Harapan Ibing sangat sederhana, namun sekaligus sangat sulit diwujudkan. Ia ingin masyarakat dan pemerintah melihat bahwa di balik setiap kayuhan becak, ada keluarga yang sedang diperjuangkan. Namun di saat yang sama, ia juga realistis bahwa zaman tidak mungkin berjalan mundur.

“Kalau bisa, mah, ya jangan sampai kita tuh di sini aja gitu, ngebecak. Pengennya mah ya untuk masyarakat ya cari lagi kerjaan yang lain deh. Udah repot. Udah repot kalau kita bertahan ngebecak aja di sini,” kata Ibing menutup percakapan dengan nada suara yang nyaris tenggelam oleh suara klakson kendaraan yang lewat.

Langit sore Depok mulai berubah jingga, memberikan semburat warna pada kabin becak Ibing yang mulai kusam. Ibing duduk di tempat penumpang becak untuk menunggu pelanggan, sesekali Ibing memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa jenuh menunggu penumpang.

Baca juga artikel terkait TUKANG BECAK atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Bayu Septianto