Menuju konten utama

Kisah Sutopo, Pensiunan TNI di Balik Becak Pustaka Jogja

Sejak 2017, Sutopo menginisiasi Becak Literasi demi mendekatkan buku kepada para pembaca terutama di Yogyakarta.

Kisah Sutopo, Pensiunan TNI di Balik Becak Pustaka Jogja
Sutopo sedang duduk di atas becak listriknya di daerah Sendowo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (2/6/2026). tirto.id/cahyo purnomoedi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sutopo, kakek berusia 79 tahun ini punya cara unik untuk melawan arus zaman. Di usianya yang tak lagi muda, pensiunan TNI Angkatan Darat ini memilih mengubah becak miliknya menjadi sebuah perpustakaan keliling yang dinamai Becak Pustaka.

Misinya satu: menularkan ‘virus’ membaca kepada generasi muda.

Pagi itu, Selasa (2/6/2026), Sutopo sedang duduk santai di atas becak listriknya di kawasan Sendowo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DIY. Dari radio tua yang terpasang di bodi becak, lagu Imagine karya John Lennon mengalun lembut, menemani waktu luangnya.

"Saya tadi habis mengantar langganan (penumpang). Terus langsung mangkal di sini. Biasanya kalau jam segini, sekitar pukul 09.00 WIB, saya memang mangkal di sini," kata Sutopo kepada tirto.id mengawali cerita.

Mengayuh becak menjadi mata pencaharian yang dipilih Sutopo sejak pensiun dari TNI AD pada tahun 2003 silam. Bukan tanpa alasan ia memilih profesi ini. Selain untuk menyambung hidup, mengayuh becak ia anggap sebagai sarana olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh di usia senja.

Berawal dari Sumbangan Buku Wali Murid

Eksistensi Becak Pustaka ini diakui Sutopo sudah dimulai sejak tahun 2017. Saban hari, Sutopo kerap mangkal di depan SD Tarakanita, Bumijo, Kota Yogyakarta. Sembari menunggu penumpang, ia selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku.

 Sutopo

Sutopo sedang duduk di atas becak listriknya di daerah Sendowo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (2/6/2026). tirto.id/cahyo purnomoedi

Membaca memang menjadi hobi Sutopo sejak kecil. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, alumnus Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1971 ini bahkan sudah terdaftar sebagai anggota di beberapa perpustakaan di Yogyakarta.

Aktivitas membaca di atas becak ini rupanya menarik perhatian sejumlah orang tua murid di SD Tarakanita. Tersentuh dengan kebiasaan sang kakek, beberapa wali murid mulai menghibahkan buku kepadanya.

"Tahun 2017, saya dapat sumbangan sekitar 20 buku dari salah satu orang tua murid. Buku-buku itu lalu saya buatkan rak khusus di becak," tutur pria kelahiran 1947 ini.

"Saya pikir, kalau dapat sumbangan buku tapi cuma saya baca sendiri dan disimpan di rumah, rasanya kurang etis. Akhirnya buku-buku itu saya bawa terus di becak agar bisa dibaca oleh siapa saja secara gratis," imbuhnya.

Sejak saat itu, becak kayuh milik Sutopo resmi bertransformasi menjadi Becak Pustaka. Perjalanan literasi ini mendapat angin segar pada tahun 2024, ketika Sutopo mendapatkan bantuan unit becak listrik dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Becak listrik itulah yang kini ia gunakan untuk berkeliling menyebarkan pengetahuan.

Mendekatkan Buku ke Lapisan Masyarakat

Hampir sepuluh tahun bergerak, koleksi buku Sutopo kini telah mencapai ratusan jilid yang berasal dari berbagai donatur. Genrenya pun beragam, mulai dari buku cerita anak, sejarah, kisah tokoh inspiratif, kamus bahasa, hingga novel dewasa.

Sutopo sengaja menyediakan variasi bacaan karena segmen "pembaca jalanan"-nya sangat luas.

"Peminjam buku saya ini macam-macam. Dari anak sekolah, mahasiswa, sampai pedagang pasar. Pedagang di pasar ini sebenarnya banyak yang suka membaca, tapi mereka sungkan kalau harus masuk ke gedung perpustakaan yang besar dan megah," ungkap Sutopo.

"Makanya saya bikin Becak Pustaka ini, tujuannya mendekatkan buku ke pembaca. Semua gratis, tidak perlu bayar," sambungnya.

Selama mengoperasikan perpustakaan berjalan ini, Sutopo kenyang dengan pengalaman unik. Ia menceritakan, suatu hari ada seorang siswa SD Tarakanita yang naik becaknya untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan, anak tersebut asyik membaca salah satu buku cerita dari rak becak.

"Sampai di depan rumahnya, anak ini menangis tidak mau turun karena bukunya belum selesai dibaca. Dia malah minta diantar balik ke sekolah lagi demi menyelesaikan bacaannya di jalan. Akhirnya saya antar balik, lalu dia dijemput orang tuanya di sekolah," kenang Sutopo sambil tertawa.

 Sutopo

Sutopo sedang duduk di atas becak listriknya di daerah Sendowo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (2/6/2026). tirto.id/cahyo purnomoedi

Pengalaman berkesan lain datang dari seorang perempuan yang kerap meminjam buku saat Sutopo mangkal di Bumijo. Setelah pinjaman kedua, perempuan tersebut mengembalikan buku sembari memberikan pesan misterius.

"Ibu itu bilang, 'Hati-hati menyimpan bukunya, Pak.' Setelah dia pergi, saya cek, ternyata di dalam halaman buku diselipkan uang Rp100 ribu. Besoknya dia datang lagi, pinjam dan mengembalikan buku di dalam tas kresek. Pas saya buka, di dalamnya ada uang Rp1 juta. Katanya buat modal saya," cerita Sutopo terharu.

Tak hanya warga lokal, keunikan Becak Pustaka ini bahkan pernah mengundang rasa penasaran seorang turis asal Amerika Serikat yang sengaja mencarinya saat berlibur ke Yogyakarta. Wisatawan tersebut kagum karena aksi literasi bergerak mandiri seperti ini jarang ditemukan di negaranya.

Pesan untuk Generasi Muda

Hari semakin siang, Sutopo bersiap merapikan letak buku-bukunya. Ia bersiap melanjutkan perjalanan menuju titik mangkal selanjutnya di depan SD Tarakanita. Sebelum menghidupkan mesin becak listriknya, Sutopo menitipkan pesan mendalam untuk generasi muda saat ini.

"Membaca buku itu bagus bagi siapa saja, terutama untuk perkembangan masyarakat agar bisa menjadi manusia yang lebih baik. Banyak informasi penting yang bisa diambil dari buku. Makanya saya berharap anak-anak muda sekarang mau membaca buku, jangan cuma menghabiskan waktu bermain ponsel," pungkasnya.

Diiringi musik syahdu dari radio tuanya, Sutopo perlahan memutar gas becak listriknya, membelah jalanan Yogyakarta demi terus menyalakan lentera literasi di aspal kota.

Baca juga artikel terkait YOGYAKARTA atau tulisan lainnya dari Cahyo PE

tirto.id - News Plus
Reporter: Cahyo PE
Penulis: Cahyo PE
Editor: Rina Nurjanah