tirto.id - Lukisan mural One Piece pada badan jalan di Padukuhan Temuwuh Kidul, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dihapus dengan cat berwarna hitam.
Pantauan kontributor Tirto di lokasi, mural One Piece di depan pos ronda berwarna merah putih kini tertutupi cat hitam. Tak jauh dari lukisan tersebut, terdapat tulisan “Kebenaran akan terus hidup, kita akan berlipat ganda”. Mural dibuat berdasarkan inisiatif pemuda setempat pada 25 Juli 2025 lalu.
Salah satu pemuda, Yuda Mhenzeng, menilai penghapusan mural menunjukkan bahwa pemerintah takut ketika masyarakat mulai sadar terkait situasi negara akhir-akhir ini.
“Ya kalo saya itu justru menunjukkan bahwa pemerintah takut, ketika masyarakat mulai memahami dan sadar [situasi negara yang tidak baik-baik saja] atas apa yang mereka terima dari berita-berita yang akhir ini,” kata Yuda saat dihubungi melalui WhatsApp pada Jumat, (8/8/2025).
Yuda mempertanyakan alasan ketakutan pemerintah, sehingga merasa tersindir dengan anime atau viralnya bendera One Piece belakangan ini.
Menurutnya, semakin pemerintah melarang, malah akan memantik rasa ingin tahu masyarakat. Mengapa pemerintah terlalu serius dalam menangani kasus seperti ini.
“Kenapa sebegitu seriusnya pemerintah menangani kasus bendera atau pun mural One Piece, bukankah ada yang lebih penting sebenarnya yang bisa pemerintah lakukan daripada gercep [menghilangkan] gambar atau bendera anime,” ujarnya.
Yuda pun menyatakan, meskipun ada sedikit intervensi, tapi situasi di kampungnya masih aman berkat rasa saling memahami antarwarga. Mewakili teman-temannya, dia pun menegaskan bahwa mereka sangat mencintai tanah air.
Pelukisan mural, menurut Yuda, juga merupakan bentuk rasa cinta mereka terhadap negara. Maka mereka melakukan kritik terhadap situasi negara melalui mural.
“Salah satu bentuk kepedulian kita ke negara atau pemerintah adalah peduli melalui kritik agar yang di atas [pemerintah] bisa berbenah dan lebih baik lagi dalam membuat peraturan yang membantu masyarakat,” ucap Yuda.
Terpisah, Dukuh Temuwuh Kidul, Firmansyah menjelaskan mural dihapus berdasarkan kesepakatan antara warga masyarakat dan si pembuat mural karena berada di fasilitas umum.
“Kami melakukan mediasi dengan warga masyarakat di Temuwuh Kidul, terutama RT 02 dan juga pemuda yang membuat mural tersebut, dan karena memang itu mural di jalan umum akhirnya antara warga masyarakat dan si pembuat mural punya kesepakatan mural itu lebih baik di hapus. Karena itu jalan umum untuk fasilitas umum,” pungkas Firmansyah.
Sebelumnya, juga terjadi penghapusan mural One Piece di kabupaten berjuluk Bumi Sembada. Tepatnya, di Padukuhan Temulawak, Kapanewon Triharjo, Kabupaten Sleman. Pengapusan bahkan diawasi oleh anggota TNI dan Polri.
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































