Menuju konten utama

Moskow Ejek Trump: Greenland Gabung Rusia Jika AS Telat Caplok

Mantan presiden dan perdana menteri Rusia, Dmitry Medvedev, menyampaikan sarkasnya terkait ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland.

Moskow Ejek Trump: Greenland Gabung Rusia Jika AS Telat Caplok
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev berbicara selama pertemuan dengan anggota Dewan Keamanan di Moskow pada 21 Februari 2022. (Photo by Alexey NIKOLSKY / Sputnik / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gembar-gembor kampanye aneksasi Greenland oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ditanggapi Rusia dengan ejekan. Secara sarkas, Rusia menyebut Greenland akan jadi bergabung Rusia jika AS telat melakukan pencaplokan.

Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev. Ia menyampaikannya lewat aplikasi percakapan Rusia, Max, pada Senin (12/1/2026).

Sarkasme ini diutarakan sebagai respons kampanye aneksasi Greenland oleh Trump dan pemerintahannya sejak penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026 lalu.

Dalam pernyataan publiknya, Trump berulang kali menyatakan bahwa keinginannya untuk mencaplok Greenland yang didasari pada upayanya menjaga keamanan nasional. Ia konsisten menyebut perairan Greenland telah diokupasi oleh kapal perang dan selam Cina serta Rusia.

Oleh sebab itu, Trump berupaya membuat kawasan kaya mineral itu sebagai wilayah AS, "baik dengan cara baik-baik maupun cara yang sulit". Terbaru, anggota kongres dari Partai Republik, Randy Fine, mengusulkan rancangan undang-undang aneksasi Greenland pada Senin (12/1).

Ejekan Sarkas Medvedev untuk Trump

Dinukil dari Anadolu, Selasa (13/1/2026), Medvedev menyatakan bahwa Trump harus bergerak cepat dalam upayanya mencaplok Greenland, jika tak mau para penduduk di sana melakukan referendum dan bergabung dengan Rusia.

"Trump perlu bergegas. Menurut informasi yang belum diverifikasi, dalam beberapa hari ini, mungkin akan ada referendum mendadak di mana seluruh 55.000 penduduk Greenland mungkin memilih untuk bergabung dengan Rusia. Dan itu dia!" katanya.

Lebih lanjut, eks perdana menteri Rusia itu juga mengejek Trump dengan retorika "narcoterorism" yang dijadikan Trump sebagai justifikasi penyerangan Venezuela beberapa waktu yang lalu.

"Secara umum, perebutan Greenland oleh AS akan bermanfaat bagi perbaikan iklim global. Pertama, hal ini akan memungkinkan penghapusan sarang mafia narkoba di pusat kejahatan apokaliptik megapolis Nuuk," tulis Medvedev.

Nuuk merupakan ibu kota Greenland dan menjadi kota terbesar di wilayah tersebut. Total populasi Nuuk kini berkisar 20.000 jiwa, atau sekitar satu per 160 jumlah penduduk Jakarta Timur.

Selain itu, Medvedev juga menulis bahwa pencaplokan Greenland oleh AS akan membuat Trump memiliki gelar baru, yakni "penjabat presiden Greenland".

"Ketiga, sebagai hasilnya, operasi militer yang unik memungkinkan penangkapan dan pengadilan bagi semua penjahat Eropa yang berusaha menghancurkan AS," kata Medvedev. Ia juga berkelakar penjahat itu telah membela Greenland dan menyebut mereka adalah "Macron, Starmeres, Merkels, Stubbs, dan Americaphobes tercela lainnya".

Dmitry Medvedev sendiri merupakan Presiden Rusia pada 2008 hingga 2012 dan perdana menteri pada 2012 hingga 2022. Ia kerap dikenal sebagai politikus dengan pernyataan yang provokatif.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar