Menuju konten utama

4 Opsi Uni Eropa dan NATO untuk Mencegah AS Caplok Greenland

NATO dan Uni Eropa masih memiliki beberapa pilihan untuk mencegah terjadinya pencaplokan Greenland oleh AS. Simak langkahnya berikut ini.

4 Opsi Uni Eropa dan NATO untuk Mencegah AS Caplok Greenland
Peta Greenland. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Kebijakan ekspansionisme Amerika Serikat (AS) yang terus menggaungkan rencana pencaplokan Greenland membuat tensi politik di internal NATO dan Uni Eropa memanas. Ada sejumlah cara yang bisa ditempuh kedua pihak tersebut untuk mencegah ambisi Trump tersebut. Apa saja?

Polemik kepemilikan Greenland terus menjadi sorotan setelah pemerintahan Trump tak berhenti menyampaikan rencana pencaplokan wilayah tutupan es itu secara publik.

Terbaru, pada Sabtu (10/1/2026), Trump memberikan pernyataan bernada ancaman kepada Denmark dan Greenland. Kepada awak media, Trump menyebut dirinya tengah merundingkan opsi pencaplokan Greenland dan mengindikasikan adanya intervensi militer.

"Kami akan melakukan sesuatu terhadap Greenland, baik dengan cara baik-baik maupun cara yang sulit," tuturnya, dikutip The Guardian.

Karena pernyataan itu, lima pemimpin partai di Greenland sampai harus membuat pernyataan bersama. Pernyataan itu menegaskan bahwa "tak ada satu pun negara" yang boleh mengintervensi Greenland.

Kampanye Trump untuk mencaplok Greenland juga ditanggapi sinis oleh pemerintahan Denmark, negara yang secara konstitusional menguasai wilayah otonomi Greenland.

Pada Senin (5/1/2026) pekan lalu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, menyatakan bahwa NATO dan keamanan pasca Perang Dunia II akan berakhir jika invasi militer AS di Greenland betulan terjadi.

Pilihan Cara Uni Eropa dan NATO Cegah AS Serang Greenland

Gembar-gembor Trump untuk mencaplok Greenland kini menempatkan NATO dan Uni Eropa di posisi yang sulit.

Sebagai negara, Greenland bukan anggota NATO. Tetapi, kekuasaan Denmark yang masih berlaku di sana membuat wilayah Inuit Nunaat itu secara tak langsung jadi bagian dari NATO dan Uni Eropa.

Selain karena jadi bagian tak langsung, sikap lepas tangan dari konflik ini juga dianggap akan meruntuhkan citra Uni Eropa. Selama ini, pemimpin Uni Eropa getol membela kedaulatan, integritas wilayah, serta hak Greenland-Denmark untuk menyelesaikan sendiri masalah mereka.

Akan tetapi, hingga kini, Uni Eropa dan NATO belum mengambil sikap konkret terkait gembar-gembor AS yang ingin mencaplok wilayah dengan tutupan es terbesar kedua di Bumi setelah Antartika itu. Melansir The Guardian, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan mereka untuk mencegah AS caplok Greenland:

1. Diplomasi dan Menjaga Keamanan Arktik

Opsi pertama yang bisa dilakukan NATO dan Uni Eropa adalah melalui diplomasi keamanan arktik, yakni melalui perjanjian dengan AS untuk meningkatkan pengamanan kawasan Arktik.

Kini, upaya diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini dilaporkan tengah berlangsung oleh Denmark dan AS. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Denmark dan Greenland pada Rabu (14/1/2026) mendatang.

Di sisi lain, Denmark melalui duta besar untuk AS, Jesper Møller Sørensen, serta utusan Greenland untuk AS, Jacob Isbosethsen, dilaporkan tengah melobi parlemen AS terkait jalan keluar dari obsesi Trump.

Dengan situasi tersebut, NATO sebenarnya memiliki opsi untuk mengakomodasi kekhawatiran Trump terkait keamanan kawasan Greenland.

Meskipun klaim Trump bahwa pangkalan militer Rusia dan Tiongkok di Greenland dinilai dilebih-lebihkan, NATO bisa memilih opsi untuk meningkatkan kebijakan pertahanan di Greenland.

Dengan begitu, alasan keamanan nasional yang diklaim Trump jadi latar belakang obsesinya terhadap Greenland bisa teratasi. Ini akan mencegah operasi pencaplokan.

NATO dapat pula membuat kebijakan pengerahan alat-alat militer mereka di kawasan Greenland dan melakukan lebih banyak latihan militer di sana untuk merealisasikannya.

2. Sanksi Ekonomi

Uni Eropa sebenarnya punya opsi mengenakan sanksi ekonomi untuk AS. Secara teori, Eropa merupakan pasar dengan 450 juta orang dan cukup punya pengaruh besar terhadap ekonomi AS.

Pemberian sanksi seperti penutupan pangkalan militer AS di Eropa hingga larangan pembelian obligasi pemerintah AS, secara teori dapat menjadi ancaman.

Selain itu, Uni Eropa juga memiliki instrumen anti-pemaksaan atau yang populer disebut "bazoka perdagangan". Instrumen ini memberikan Komisi Eropa wewenang untuk menyetop impor barang dan jasa AS di pasar Eropa, menerapkan tarif, mencabut hak kekayaan intelektual AS, serta memblokir investasi dari sana.

Meski mungkin dilakukan, pemberian sanksi kepada AS mungkin sulit dilakukan Uni Eropa. Alasannya, penerapan "bazoka perdagangan" perlu persetujuan anggota Uni Eropa secara bulat yang berat diwujudkan.

Selain itu, menurut mantan pejabat tinggi PBB, Jean-Marie Guéhenno, Eropa kini banyak bergantung pada perusahaan teknologi AS di berbagai bidang sehingga menjadi hambatan untuk sanksi ekonomi.

"Baik itu perlindungan data, kecerdasan buatan, atau pembaruan perangkat lunak, termasuk untuk pertahanan, Eropa tetap bergantung pada niat baik Amerika," tutur Guéhenno.

3. Investasi di Greenland

Opsi berikutnya adalah melalui peningkatan investasi Uni Eropa di Greenland agar wilayah tersebut tak jatuh dalam intervensi ekonomi perusahaan-perusahaan AS.

Jika tak dicaplok AS, banyak pihak menilai bahwa kemerdekaan Greenland dari Denmark tinggal menunggu waktu. Namun, kemerdekaan itu justru bisa jadi pemulus intervensi AS, bukan lewat militer tetapi melalui ekonomi.

Perusahaan-perusahaan AS kemungkinan akan mengguyur Greenland dengan investasi miliaran dolar demi membuat wilayah tersebut tergantung dengannya dan terintervensi secara ekonomi.

Terlebih, hingga kini ekonomi Greenland masih sangat bergantung pada subsidi tahunan Denmark. Pada tahun lalu, nilai subsidi untuk Greenland mencapai 530 juta Euro atau sekitar setengah dari anggaran pendapatan dan belanja wilayah tersebut.

Agar bisa mencegah intervensi ekonomi di Greenland, Uni Eropa sebenarnya bisa meningkatkan angka investasi di sana. Dengan demikian, dapat mengimbangi laju investasi AS dan meningkatkan nilai tawar Greenland.

4. Pengerahan Pasukan

Selain opsi-opsi di atas, Uni Eropa sebenarnya memiliki opsi tercepat untuk meredam obsesi Trump, atau setidaknya membuat mimpinya akan Greenland jadi tambah rumit.

Opsi tersebut adalah mengerahkan pasukan di militer di wilayah Greenland. Sebagaimana diungkapkan Moreno Bertoldi dan Marco Buti dari lembaga thinktank Bruegel, pengerahan pasukan akan membuat invasi militer AS rumit direalisasikan.

Hanya dengan pengerahan pasukan, Uni Eropa dapat memberikan sinyal komitmen Eropa terhadap integritas teritorial Greenland.

Dengan begitu, invasi AS ke Greenland akan jadi perusak kredibilitas AS dan mencoreng reputasi internasionalnya, karena menerobos aliansi mereka sendiri.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar