tirto.id - Pada awal Januari 2025, nama Mitchel Bakker santer menjadi sorotan. Bek kiri asal Belanda itu diminati PSSI untuk program naturalisasi.
Secara pengalaman, Bakker cukup matang, terutama di level liga elite: dari akademi Ajax, singgah di Paris Saint-Germain, merumput di Bundesliga bersama Bayer Leverkusen, hingga mencicipi Serie A bersama Atalanta, sebelum dipinjamkan ke Lille pada musim 2025/2026.
Bakker masih menimbang tawaran dari PSSI. Rumor itu pun membuat publik penasaran, apalagi Bakker disebut berdarah Maluku dari garis kakeknya.
Namun, anggota Exco PSSI, Arya Sinulingga, mengonfirmasi bahwa proses naturalisasinya tidak bisa dilanjutkan karena garis keturunannya sampai buyut. Itu tidak memenuhi regulasi FIFA yang hanya mengakui hingga kakek atau nenek.
Terlepas dari itu, nama “Bakker” merupakan salah satu dari beberapa nama marga dari kelompok bermata biru di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, yang kemudian dikenal Mestizo. Mereka adalah keturunan Eropa yang menetap sejak era VOC, lalu bertahan hidup di pulau karang terpencil itu selama lebih dari tiga abad.
Benteng Karang di Barat Daya
Kisar, yang kerap disebut The Forgotten Islands, merupakan pulau karang kecil di Kabupaten Maluku Barat Daya. Luasnya hanya 81 kilometer persegi. Berbeda dari Banda atau Ambon yang tropis dan hijau, Pulau Kisar tampak kering dan keras.
Menurut data BPS 2022, ada 13.185 jiwa menghuni Pulau Kisar. Secara tradisional, masyarakatnya terbagi menjadi dua, yakni Kelompok Meher berbahasa Austronesia (mencakup Wonreli, Kota Lama, Abusur, Purpura, Lebelau, Leklor, dan Nomaha) serta Kelompok Oirata berbahasa Woirata (mencakup Oirata Barat dan Oirata Timur).
Perbedaan bahasa tersebut digambarkan oleh ahli bahasa dan antropolog Belanda, Aone van Engelenhoven, sebagai apartheid linguistik. Sebab, kedua kelompok nyaris tak saling memahami tanpa bahasa perantara. Komunikasi keduanya dilakukan dalam bahasa Melayu lokal.
Dalam konteks itu, Mestizo bukanlah etnis ketiga yang berdiri sejajar dengan Meher dan Oirata. Mereka adalah komunitas keturunan campuran Eropa–Kisar yang berpusat di Kotalama, menyatu dalam masyarakat Meher, tetapi tetap menjaga identitas genealogis dan sejarah yang berbeda dari dua kelompok utama di Pulau Kisar.
Enam Belas Prajurit di Kota Lama
Sejarah adanya komunitas Mestizo di Kisar berawal dari ambisi besar perusahaan dagang Belanda (VOC) menguasai jalur perdagangan maritim Asia pada abad ke-17. Meski bukan penghasil utama cengkeh atau pala, posisinya di selatan Maluku menjadikan Kisar cukup strategis sehingga akhirnya dimanfaatkan sebagai benteng pengawasan terhadap armada Portugis di Timor dan kelompok lokal (Portugis Hitam) yang menguasai perdagangan kayu cendana.
Berdasarkan kajian Eudoxia Bennendyk (2016), secara budaya, pembentukan masyarakat adat dan tanah adat di Pulau Kisar dimulai dengan migrasi besar-besaran penduduk akibat tenggelamnya Pulau Luang. Terjadi juga migrasi besar-besaran dari Timor akibat perang antar-suku, disusul kedatangan orang Eropa pada abad ke-15.
Johan Gerard Friedrich Riedel, dalamDe Sluik-en Kroesharige Rassen Tusschen Selebes en Papua (1886:402), menulis bahwa VOC mendirikan garnisun kecil di Kisar pada 1665. Setahun kemudian, tepatnya 7 Agustus 1666, mereka membangun Benteng Delfshaven di atas bukit utara Wonreli. Prajurit yang ditempatkan di sana kebanyakan serdadu bayaran dari Belanda, Jerman, Prancis, dan wilayah Skandinavia.
VOC sempat memicu amarah Portugis Hitam pimpinan Antonio Hornay dari Larantuka karena membeli budak dari Timor. Pada 1688, armada tersebut menyerang Pulau Kisar dan tetangganya, Pulau Leti, hingga menewaskan banyak penduduk dan membawa ratusan orang sebagai tawanan. Serangan itu memaksa garnisun Eropa mempererat hubungan dengan penguasa lokal Kisar demi bertahan hidup. Kisar pun berada di bawah komando Ambon.
Sayangnya, dukungan logistik berangsur-angsur minim menjelang akhir abad ke-18, bersamaan dengan VOC yang hampir bangkrut. Aone van Engelenhoven dalam kajian lain mencatat, prajurit tersisa hanya 16 orang, dan mereka sama-sama menyadari tak mungkin lagi kembali ke Eropa.
Akhirnya, mereka melepas seragam, menetap, dan menikahi perempuan Kisar. Pernikahan campuran itu melahirkan generasi pertama anak-anak Eurasia yang kemudian dikenal sebagai “Mestiços of Kotalama”. Dari situlah komunitas Mestizo terbentuk.
Meski hidup di pulau karang yang keras dan secara ekonomi tak jauh berbeda dari penduduk lokal, mereka menempatkan diri pada hierarki sosial eksklusif. Status sebagai keturunan prajurit kulit putih dan penganut Protestan memberinya identitas sosial berbeda dari kelompok masyarakat lain di Kisar.
Ernst Rodenwaldt, dokter dan antropolog Jerman, datang ke Kisar pada pertengahan 1920-an untuk meneliti komunitas tersebut, ketika isu ras campuran sedang ramai diperdebatkan di Eropa. Ia menetap berbulan-bulan di sana, mewawancarai para tokoh, mengumpulkan data genealogi, dan melakukan pengukuran antropometri mendetail.
Rodenwaldt juga mencatat warna mata dengan bagan standar, meneliti rambut hingga tingkat mikroskopis bersama pakar lain, dan memetakan silsilah keluarga besar.
Hasilnya dipublikasikan di Die Mestizen auf Kisardalam dua volume (1927–1928). Volume pertama berisi narasi sejarah dan ekologi Kisar, sementara volume kedua penuh dengan tabel pengukuran, silsilah, probabilitas genetika, dan dokumentasi fotografi.
Temuan Rodenwaldt menunjukkan, persilangan rasial tertutup di Kisar justru melahirkan populasi proporsional, tangguh menghadapi iklim tropis, dan tetap mampu mempertahankan sifat resesif Eropa.
Namun, keberpihakan Rodewaldt berkebalikan 180 derajat sekembalinya ke Jerman. Ia menjadi profesor di Heidelberg dan terseret ke dalam ideologi rasial Nazi. Pandangan optimisnya tentang Kisar ditinggalkan, berganti mendukung segregasi rasial dan anti-Yahudi.
Setelah perang, ia menggunakan kembali karya tentang Kisar sebagai pembelaan diri dalam pengadilan denazifikasi, berusaha menunjukkan dirinya sebagai ilmuwan objektif.
Cara Mestizo Merawat Ingatan
Warisan kecil serdadu Eropa di Kisar hidup dalam denyut sehari-hari lewat sistem marga, sistem kekerabatan patrilineal khas Eropa yang kemudian menyatu dengan struktur sosial lokal.
Arsip VOC, penelitian Ernst Rodenwaldt, dan tradisi lisan, menyebutkan sekitar 12-13 marga inti yang menjadi fondasi Kota Lama.
Dari semua itu, marga Bakker menempati posisi istimewa. Menurut Rodenlwaldt (1928:38-39), pemerintah kolonial mempercayakan tokoh bernama Pakar sebagai kepala suku tertinggi atau raja. Ia lalu mendapat nama baptis Cornelis Bakker. Perannya menjadikan agama sebagai pembatas kultural sekaligus identitas eksklusif komunitas Mestizo agar tidak larut sepenuhnya ke dalam masyarakat pribumi.
Engelenhoven dalam The Dutch Enigma of Kisar Island (2016) membedakan keluarga Bakker menjadi dua, yakni Bakker Hitam (terhubung dengan garis kerajaan Kisar melalui perkawinan dengan bangsawan lokal) serta Bakker Putih (berakar pada komunitas Mestizo Kotalama). Tradisi lisan setempat mengaitkan kemunculan Bakker Putih dengan hubungan Raja Bakker V dan seorang perempuan keturunan Mestizo dari Banda.
Legitimasi marga-marga di Kisar tidak hanya bertumpu pada arsip kolonial maupun penelitian antropologi modern. Masyarakat Kisar juga memiliki pusaka adat penting berupa Buku Tembaga, yang memuat narasi asal-usul berbagai kelompok, hubungan politik antarkomunitas, serta dasar legitimasi hak dan kewenangan adat. Melaluinya, kelompok keturunan Eropa, masyarakat Meher, dan komunitas Oirata, ditempatkan dalam satu kerangka sejarah yang menjelaskan terbentuknya masyarakat Kisar.
Selain dalam ingatan dan nama keluarga, eksistensi marga-marga tersebut diwujudkan secara fisik lewat tugu peringatan khusus untuk 12 marga inti Mestizo. Monumen itu menjadi penanda identitas kolektif komunitas Mestizo Kotalama, berdiri tidak jauh dari reruntuhan Benteng Delfshaven, situs yang menandai awal kehadiran VOC dan leluhur komunitas itu di Kisar.
Namun seiring waktu, populasinya menyusut. Sensus 1917 mencatat keberadaan 200 orang Mestizo di sana. Kemudian angkanya turun menjadi 145 pada 1946. Setelah kemerdekaan masa revolusi Indonesia (1949), mereka kemungkinan telah sepenuhnya melebur dalam populasi umum Kisar.
Pasca-kemerdekaan, terutama ketika isu Republik Maluku Selatan (RMS) menjadi sensitif secara politik pada dekade 1970-an, sebagian keluarga keturunan Mestizo memilih tidak terlalu menonjolkan asal-usulnya di ruang publik.
Kiwari, sebagian anggotanya masih mempertahankan nama keluarga warisan serdadu VOC dan memperlihatkan sejumlah ciri fisik bermata biru, menjadikannya salah satu kisah perjumpaan budaya paling unik di Indonesia.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































