tirto.id - Beberapa waktu ini, masyarakat—terutama warganet—ramai membincangkan laporan bertajuk 2025 National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers. Laporan tersebut disusun oleh United States Trade Representative (USTR).
Ia ramai jadi bahan diskursus lantaran mengungkap bahwa AS menaruh perhatian pada perdagangan barang-barang imitasi, baik yang diperdagangkan secara langsung maupun daring. Lebih menarik lagi, dokumen itu mempersoalkan kawasan Mangga Dua, Jakarta, sebagai episentrum peredaran barang imitasi di Indonesia.
Tirto pun mengunjungi Mall Mangga Dua pada Rabu (23/4/2025) siang untuk merekam gambaran sebenarnya. Dan memang, produk-produk mirror atau KW dari berbagai jenama fesyen ternama dunia bertebaran di toko-toko Mall Mangga Dua.
Sebutlah di antaranya Prada, Bottega, Louis Vuitton, Hermes, Gucci, Yves Saint Laurent, Tumi, Dior, Channel, Celine. Para pedagang produk fesyen di sana seolah menghidupkan adagium you name it, they have it.
Di lantai dasar Mall Mangga Dua, setidaknya ada lebih dari 20 toko yang menjajakan produk mirror atau KW dari lini fesyen ternama. Para pemilik dan penjaganya pun tidak malu mengungkapkan produk jualannya merupakan barang yang tidak asli.
Toko-toko itu dengan gamblang memajang produk tas, dompet, pakaian, hingga ikat pinggang di etalase kaca yang sekilas terkesan mewah. Sebagian dagangan itu tampak dilapisi plastik. Agar tidak tertempel sidik jari calon pembeli, demikian penjual tutur penjualnya.
Hal lain yang tampak menonjol dari suasana di lantai dasar itu adalah banyaknya papan pengumuman agar pengunjung tidak mengambil foto atau video tanpa izin. Lebih dari belasan toko yang menempelkan pengumuman tersebut. Entah apa tujuan dari adanya pengumuman itu.
Menariknya, sejumlah pegawai toko juga aktif menjual barang dagangannya melalui siaran langsung di e-commerce.
Ninuk (bukan nama sebenarnya) mengaku bahwa barang dagangannya memang produk mirror alias mirip dengan produk aslinya.
"Kalau yang ini [menunjuk tas Fendi] mirror, ini [menunjuk tas Louis Vuitton] juga mirror. Kalau yang belakang harganya lebih mahal," kata Ninuk saat menunjuk sejumlah tas yang terpampang di etalase kaca tokonya.
Ninuk menjual tas Fendi mirror itu seharga Rp2,3 juta, sementara tas Louis Vuitton mirror seharga Rp2,5 juta. Dia juga mengatakan bahwa harga di atas etalase kaca tidak boleh dinego.
Bila ingin nego harga, pembeli bisa memilih produk-produk yang terletak di meja bagian dalam toko. Tas mirror di meja bagian dalam toko itu dipatok sekitar Rp3 juta-Rp4 juta.
"Paling mahal sekitar Rp4 juta kalau yang itu [di meja bagian dalam toko]," tutur Ninuk.
Menurutnya, banyak pembeli yang tidak mempersoalkan status mirror barang jualannya. Dia enggan mengetahui penyebab pembeli rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk barang mirror.
"Kalau itu [alasan beli], saya enggak tahu. Saya kan cuma menjual saja," kata Ninuk.
Sementara itu, Raissa (46), enggan menyebut barang jualannya sebagai produk mirror atau KW. Sebab, produk tas yang dijualnya merupakan hasil jahitan penjahit lokal. Aksesoris tas itu berasal dari dalam negeri, sedangkan kain bahan tas tersebut dari luar negeri.
"Ini kayaknya enggak cocok disebut KW ya, kan dijahitnya sendiri [oleh penjahit lokal]. Mereknya juga merek sendiri," kata Raissa.
Raissa mengaku bahwa penjualannya menurun beberapa bulan terakhir. Meski telah melewati periode Lebaran 2025, penjualannya tidak juga meningkat secara signifikan.
Dia mengaku telah mencoba sejumlah cara agar penjualannya meningkat. Misalnya, berjualan di e-commerce. Saat awal menjual via e-commerce, penjualannya memang meningkat.
"Sebenarnya penjualan naik, tapi enggak yang drastis. Jadi, cuma jualan di aplikasi gitu cuma sebentar, abis itu akun [aplikasi e-commerce] saya tutup," kata dia.
Salah satu pembeli, Nebraska (27), mengaku tertarik membeli produk fesyen di Mall Mangga Dua karena harganya yang jauh di bawah produk dari jenama asli. Namun, dia tak memusingkan apakah produk tersebut mirror atau asli.
"Saya sih enggak terlalu [peduli] ya. Asal bagus pas dipakai, ya saya pakai saja. Orang juga jarang tanya ini asli apa palsu," ucapnya.
Nebraska mengaku hendak menyimpan barang-barang yang dibeli di mall tersebut. Perempuan anak satu ini juga tak pernah terpikir untuk menjual kembali barang yang dibelinya.
“Enggak kepikiran juga, siapa juga mau beli ya. Ini dipakai buat sehari-hari saja," tuturnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































