tirto.id - Suara tangisan anak-anak memecah malam di sebuah kompleks perumahan di Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026) kemarin. Malam itu menjadi titik balik bagi ER (38), seorang ibu rumah tangga yang selama bertahun-tahun berusaha mempertahankan keluarganya di tengah dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, HL (38).
Dalam kondisi panik dan mengalami luka akibat dugaan penganiayaan, ER memutuskan keluar dari rumah sekitar pukul 20.30 WIB. Ia hanya sempat menyelamatkan satu anaknya. Masih tertinggal di dalam rumah, dua anak dan kakak kandungnya yang merupakan penyandang disabilitas.
Usai kejadian malang yang dialami kala itu. ER kini telah kembali ke rumahnya. Sedangkan sang suami, HL, kini telah menjalani perawatan di RSJ Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Malam Pertama Pernikahan Suram
Suami HL kini telah menjalani perawatan di RSJ Lawang, foto/Jember yang itu

Ditemui di rumahnya, Kamis (25/6/2026) malam. ER bersama ketiga anaknya dan kakak kandungnya yang difabel, tampak berusaha menjalani kehidupannya untuk lebih baik.
Ibu tiga anak itu tampak berusaha menunjukkan wajahnya agar tampak ceria. Demi menghibur anak-anaknya yang telah melalui kondisi yang kurang mengenakkan.
ER kemudian membuka cerita, peristiwa saat dirinya melarikan diri bukanlah kejadian pertama KDRT yang dilakukan oleh suaminya. Ingatannya kemudian jatuh pada momen pernikahannya dengan HL sekitar tahun 2018 silam.
Pernikahan ER dan HL diputuskan setelah keduanya berkomunikasi hampir dua tahun. Keduanya berkenalan lewat jejaring pertemanan saat menjalankan usaha beras organik yang cukup berkembang saat itu. Hubungan keduanya bermula sebagai penjual dan pelanggan.
Sebelum menikah, ER tidak menemukan hal yang mencurigakan dari sosok pria yang kemudian menjadi suaminya tersebut.
"Tidak ada yang aneh. Kami berteman biasa, jalan bersama teman-teman, komunikasi baik. Saya tidak pernah membayangkan akan mengalami hal seperti ini," ujar ER sembari bermain dengan ketiga anaknya di dalam rumah.
Tanda-tanda perilaku tidak biasa HL mulai muncul pada malam pertamanya dengan ER, selang hanya beberapa jam setelah keduanya resmi menikah.
ER ingat betul, bagaimana malam itu HL panik karena mengira benda berharga miliknya hilang di kamar hotel. ER tidak ikut membantu mencari, karena masih mengenakan pakaian pengantin.
HL kemudian meluapkan emosi dengan memukul ER.
"Harusnya itu malam pertama kami sebagai suami istri. Tapi justru saya dipukul untuk pertama kalinya," kenangnya.
Koleksi Misterius dari Toko Online
Seiring berjalannya waktu, perilaku HL disebut semakin sulit dipahami. Ia sering membawa pulang barang-barang bekas yang ditemukan di luar rumah, menyimpan berbagai benda tidak terpakai, hingga tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas.
Dalam kondisi tertentu, HL bisa bersikap baik, tetapi sewaktu-waktu berubah agresif dan melakukan kekerasan.
ER mengaku sempat mencari bantuan kepada lingkungan terdekat, termasuk tokoh agama dan sahabat-sahabatnya. Namun berbagai upaya tersebut belum mampu menghentikan kekerasan yang terus berulang.
Karena semakin khawatir, ia akhirnya menyampaikan kondisi tersebut kepada keluarga suaminya. Akan tetapi, respons yang diterimanya justru mengejutkan. Menurut ER, beberapa anggota keluarga menganggap perilaku HL bukan sesuatu yang baru karena mereka telah mengetahui sifat tersebut sejak lama.
Selama bertahun-tahun, ER mengaku belum menyadari suaminya mungkin mengalami gangguan kesehatan mental. Ia mengira seluruh perilaku tersebut merupakan karakter pribadi HL. Kesadaran itu baru muncul setelah berbagai insiden kekerasan terus berulang dan kondisinya semakin memburuk.
Dalam satu tahun terakhir, ER mulai membawa suaminya menjalani pemeriksaan psikologis dan psikiatris. Ia sempat berkonsultasi dengan psikolog sebelum akhirnya mendapatkan pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Daerah dr Soebandi Jember.
Menurut hasil pemeriksaan yang diterimanya, HL diduga mengalami gangguan suasana hati atau mood disorder. Diagnosis tersebut menjelaskan perubahan perilaku yang sangat ekstrem, mulai dari kondisi normal hingga ledakan emosi yang sulit dikendalikan.
Selain itu, ER mengaku baru mengetahui bahwa suaminya kerap membeli dan mengoleksi berbagai senjata tajam melalui toko daring. Koleksi tersebut, menurut penjelasan HL, digunakan untuk berjaga-jaga karena merasa ada pihak yang ingin mencelakainya.
Ketika Obat Mulai Terhenti
Ilustrasi KDRT. foto/Istockphoto

Puncak kekerasan HL terhadap ER terjadi pada Februari 2026. Saat itu, ER mengaku mengalami pemukulan dan tendangan hingga membuatnya ketakutan. Pada dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, ia mendatangi kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Keesokan paginya, ia menjalani pemeriksaan medis sebagai bagian dari proses pelaporan.
Peristiwa itu juga memicu keterlibatan Dinas Sosial. Setelah melalui koordinasi dengan berbagai pihak, HL sempat dievakuasi untuk mendapatkan penanganan selama 14 hari. Namun setelah kembali ke rumah, pengobatan yang seharusnya dijalani secara rutin tidak berjalan optimal karena berbagai kendala, termasuk kesulitan memperoleh obat dan keterbatasan waktu ER yang harus mengurus tiga anak sekaligus bekerja mencari nafkah.
"Seharusnya obat tidak boleh putus. Tapi waktu itu saya kewalahan mengurus semuanya sendirian. Akhirnya obat terhenti dan kondisinya kambuh lagi," tuturnya.
Kekambuhan tersebut diduga menjadi pemicu peristiwa terbaru pada Sabtu malam, 20 Juni 2026. Menurut penuturan ER, kejadian bermula ketika HL tidak bisa masuk ke rumah karena pintu terkunci dari dalam. Saat itu ER sedang menidurkan anak-anak sehingga tidak mendengar suara ketukan maupun gedoran pintu.
HL kemudian diduga mendobrak pintu hingga berhasil masuk ke dalam rumah. Setelah itu, emosi pelaku disebut semakin memuncak dan berujung pada dugaan penganiayaan terhadap ER dan anak-anak mereka.
"Begitu masuk rumah, saya langsung dipukuli berkali-kali. Anak-anak juga terkena," kata ER bercerita dengan raut wajah datar dan tampak murung.
Melihat kondisi tersebut, ER berusaha menyelamatkan salah satu anaknya yang dianggap mengalami perlakuan paling berat. Ia kemudian menuju fasilitas kesehatan untuk mencari pertolongan sambil menghubungi sejumlah kenalan yang selama ini membantunya.
Mencekam dalam Kegelapan
Ilustrasi KDRT Anak. foto/Istockphoto

Ketua Relawan Ben Seromben Indonesia, Maya Cendrawasih, mengaku menjadi salah satu orang yang pertama kali menerima telepon dari ER. "Dia menghubungi saya dan mengatakan menjadi korban penganiayaan suaminya sendiri. Saat itu dia sudah berada di klinik untuk mengamankan diri, tetapi dua anaknya dan kakaknya masih berada di rumah," ungkap Maya.
Sesampainya di klinik, Maya melihat langsung wajah ER yang dipenuhi lebam akibat pukulan.
Mendapat laporan ini, petugas UPT Liposos Dinas Sosial PPPA Jember bersama relawan langsung bergerak menuju lokasi kejadian sekitar pukul 22.00 WIB. Sesampainya di rumah korban, tim dihadapkan pada suasana yang sangat mencekam.
"Waktu pintu belakang dibuka, kondisinya gelap, sunyi, dan senyap. Kami harus berjalan perlahan karena rumahnya berbelok-belok. Ternyata listrik sengaja dimatikan dari meteran depan," ujar Maya.
Beruntung, ER membawa kunci duplikat sehingga petugas dapat masuk. Di dalam bangunan yang gelap gulita itu, petugas menemukan anak-anak korban serta kakak kandungnya yang disabilitas.
Di momen itulah, reaksi pilu muncul dari anak-anak ER. Salah satu anak yang bahkan sebelumnya tidak mengenal Maya sama sekali, seketika memeluk erat.
"Anaknya langsung memeluk saya dan berkata, 'Mami dipukuli Papi'. Setelah tahu ibunya datang, anak-anak itu juga langsung mendekat dan mencari perlindungan," tutur Maya.
Belakangan, Maya tahu jika anak-anak tersebut jarang, dapat dikatakan hampir tidak pernah keluar rumah. Ketika akhirnya berhasil dievakuasi keluar, reaksi mereka sangat menyentuh hati.
"Anak-anak itu terlihat kagum dengan dunia luar. Mereka bahkan berteriak, 'Merdeka, akhirnya bebas'. Itu yang membuat kami semua sangat terharu," kata Maya.
Langkah selanjutnya, pihak Liposos merujuk anak-anak dan kakak korban ke Rumah Aman UPT PPA Dinas Sosial Kabupaten Jember.
Di sisi lain, HL yang malam itu sempat tidak ditemukan karena diduga melarikan diri. HL akhirnya berhasil dievakuasi pada Minggu (21/6/2026) pagi sekitar pukul 08.30 WIB. Petugas gabungan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang.
Kepala UPT Liposos Dinas Sosial PPPA Jember, Roni Effendi, menimpali dengan mengatakan bahwa petugas menemukan adanya memar pada tangan dan kaki anak-anak korban saat proses evakuasi.
"Saudara HL memang pernah dua kali dirujuk ke RSJ Lawang dan kali ini menjadi perujukan yang ketiga. Saat ini yang bersangkutan menjalani perawatan intensif di sana," jelas Roni.
Meski mengalami dugaan KDRT selama bertahun-tahun, ER mengaku masih berupaya mencari jalan terbaik bagi suaminya. Ia berharap HL dapat memperoleh pengobatan yang konsisten agar tidak lagi membahayakan dirinya maupun anak-anak.
"Saya hanya ingin dia tidak memukul saya lagi dan tidak memukul anak-anak lagi. Yang penting pengobatannya tidak putus," ujarnya.
Di tengah situasi yang berat, ER juga menyampaikan pesan bagi perempuan lain yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Menurutnya, kemandirian menjadi salah satu faktor penting agar korban memiliki pilihan untuk melindungi diri dan anak-anaknya.
"Kita harus menjadi perempuan yang mandiri. Kalau kita bisa berdiri sendiri dan mencukupi kebutuhan anak-anak, setidaknya kita punya kekuatan untuk mengambil keputusan yang terbaik," katanya.
Hingga kini, penanganan terhadap HL masih menjadi perhatian berbagai pihak. Sementara itu, ER bersama ketiga anaknya berusaha memulai kembali kehidupan yang lebih aman setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman bagi sebuah keluarga.
==========
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



























