Menuju konten utama

Mengenal Jenis-Jenis Teh Berbagai Negara, Oolong hingga Sencha

Kenali jenis-jenis teh di dunia, mulai dari teh hijau, oolong, hingga teh hitam, lengkap dengan asal daerah, karakter rasa, aroma, dan proses pengolahannya.

Mengenal Jenis-Jenis Teh Berbagai Negara, Oolong hingga Sencha
Ilustrasi Teh. Foto/iStockphoto

tirto.id - Tahukah kamu kalau ada banyak jenis teh di dunia? Teh memang menjadi salah satu minuman favorit di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meski berasal dari tanaman yang sama, proses pembuatan yang berbeda bisa menciptakan jenis teh yang berbeda pula.

Teh merupakan minuman yang terbuat dari tanaman Camellia sinensis, baik dari daun maupun batangnya. Bagian tumbuhan ini kemudian dikeringkan dan diproses sedemikian rupa, lalu diseduh dengan air panas untuk menghasilkan teh dengan rasa dan aroma yang unik.

Teh diyakini berasal dari China dan dulunya dikonsumsi untuk tujuan pengobatan. Minuman ini kemudian menyebar ke berbagai negara, mulai dari Asia hingga Eropa.

Seperti kopi, teh juga mengandung kafein yang cukup tinggi, tapi kadarnya bisa berbeda-beda tergantung proses pembuatannya. Teh juga diketahui memiliki manfaat kesehatan, misalnya teh hijau yang punya antioksidan tinggi sehingga bisa melawan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel.

Terkait jenisnya, ada beberapa jenis teh yang dikenal oleh orang awam, seperti teh hijau, teh hitam, atau teh oolong. Namun, di berbagai wilayah seperti China, Jepang, hingga Korea, perbedaan proses pembuatan teh akan menghasilkan jenis teh dengan karakteristik yang berbeda.

Jenis-Jenis Teh dari China

Teh Oolong

Teh Oolong. foto/istockphoto

1. Teh Hijau (Lu Cha)

Teh hijau adalah teh yang tidak mengalami proses oksidasi sehingga memiliki warna hijau cerah dengan karakter rasa segar dengan nuansa herbal. Teh ini dibuat dari daun Camellia sinensis yang dipanaskan melalui proses steaming atau pan-frying untuk menghentikan oksidasi.

Teh hijau diperkirakan berasal dari Tiongkok sekitar 3000 tahun lalu dan awalnya digunakan sebagai obat sebelum akhirnya berkembang menjadi jenis minuman rekreasional.

2. Longjing (Dragon Well)

Longjing atau Dragon Well merupakan salah satu teh hijau paling terkenal dari Tiongkok yang diproses dengan teknik pan-roasting. Daunnya memiliki bentuk pipih, halus, dan berwarna hijau zamrud.

Saat diseduh, Longjing menghasilkan warna hijau keemasan dengan rasa segar serta aroma vegetal lembut. Longjing berkualitas tinggi biasanya dipanen pada musim semi, sedangkan panen musim panas umumnya menghasilkan kualitas yang lebih rendah.

3. Biluochun

Biluochun adalah jenis teh hijau yang berasal dari Provinsi Jiangsu, China. Biluochun sendiri berarti “siput hijau musim semi”, ini merujuk pada bentuk daun jadinya yang berwarna hijau dan menggulung seperti daging siput yang melingkar, serta dipanen saat musim semi.

Saat diseduh, biluochun menghasilkan warna hijau pucat jernih dengan rasa vegetal, fruity, segar, sedikit manis, serta aroma floral yang lembut. Teh ini diproses menggunakan teknik pan-fried. Meski teh biluochun juga diproduksi di daerah lain, kualitas teh asli dari Jiangsu tetap dianggap paling unggul.

4. Huangshan Maofeng

Huangshan maofeng termasuk teh hijau yang diproduksi di Huangshan dan kerap dianggap sebagai salah satu dari teh Tiongkok terbaik. Kualitas, rasa, hingga aromanya bisa bervariasi tergantung waktu panen dan teknik produksi.

Daun teh yang diproses umumnya berukuran kecil, ramping, bergelombang, dan ditutupi bulu putih lembut. Saat diseduh, teh ini menghasilkan cairan berwarna kuning kehijauan yang jernih dengan rasa fruity yang sedikit manis dan agak sepat.

5. Taiping Houkui

Taiping houkui merupakan teh hijau yang berasal dari kaki Gunung Huangshan di Provinsi Anhui, Tiongkok. Pernah dinobatkan sebagai King of Tea, taiping houkui terkenal karena bentuk daun uniknya, yaitu dua daun panjang yang membungkus pucuk besar.

Daun teh langsung dikeringkan untuk menghentikan aktivitas enzim sekaligus memperkuat cita rasanya. Saat diseduh, teh ini memiliki aroma khas anggrek yang lembut, sementara warna tehnya tampak hijau cerah kekuningan.

Teh Longjing

Teh Longjing. FOTO/iStockphoto

6. Xinyang Maojian

Xinyang maojian termasuk salah satu teh hijau terkenal di China yang berasal dari Provinsi Henan. Xinyang maojian memiliki ciri khas daun yang halus, mengilap, lurus, serta dipenuhi rambut putih halus.

Seduhannya berwarna hijau dengan aroma tinggi dan rasa kuat yang segar. Teh ini juga dipercaya membantu menyegarkan tubuh, membantu pencernaan, dan meningkatkan fokus. Teh yang satu ini kerap dijuluki sebagai King of Green Tea karena kualitas dan reputasinya yang tinggi di Tiongkok.

7. Gunpowder (Zhu Cha)

Teh gunpowder merupakan jenis teh hijau yang setiap daunnya digulung menjadi bola-bola kecil dan berasal dari provinsi Zhejiang. Saat diseduh, daun teh yang berbentuk bola ini akan terbuka dan terurai.

Teh gunpowder diproses dengan teknik pan-firing atau pemanasan dalam wajan untuk menghentikan oksidasi daun teh, lalu dibentuk menjadi gulungan kecil menyerupai pelet. Proses pemanasan ini kadang dilakukan beberapa kali dan dapat menghasilkan sedikit aroma smoky pada teh.

8. Pu Erh (Pu’Er)

Pu Erh merupakan teh khas Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang dikenal sebagai aged tea atau vintage tea karena dapat disimpan dan mengalami pematangan dalam waktu sangat lama. Pu erh memiliki dua jenis utama, yaitu sheng pu erh yang tidak difermentasi dan shu pu erh yang difermentasi.

Sheng pu erh memiliki rasa segar, vegetal, sedikit pahit dengan aftertaste manis, sedangkan shu pu erh menghadirkan karakter lebih lembut dan earthy yang khas akibat proses fermentasi.

Salah satu keunikan pu erh adalah kualitas rasa dan aromanya yang dapat berkembang jadi lebih enak seiring waktu penyimpanan. Teh pu erh sering dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan seperti membantu relaksasi hingga membantu menurunkan berat badan.

9. Teh Hitam (Hong Cha)

Teh hitam adalah jenis teh yang mengalami proses oksidasi tinggi sehingga daun tehnya berubah menjadi gelap dan menghasilkan karakter rasa earthy yang khas. Saat diseduh, teh hitam umumnya menghasilkan warna amber hingga cokelat kemerahan dengan rasa dan aroma yang kuat.

Di Tiongkok, teh hitam lebih dikenal sebagai hong cha atau teh merah karena warna seduhannya yang kemerahan. Penamaan ini muncul karena istilah teh hitam sebelumnya lebih sering digunakan untuk teh pu erh.

10. Oolong

Oolong adalah teh semi-oksidasi yang berada di antara teh hijau dan teh hitam. Tingkat oksidasinya sangat beragam, mulai dari sekitar 10-80%, sehingga menghasilkan karakter rasa dan aroma yang berbeda-beda

Oolong dengan oksidasi rendah cenderung menyerupai teh hijau dengan rasa segar dan floral, sedangkan oolong dengan oksidasi tinggi memiliki karakter lebih kaya dan mendekati teh hitam.

Warna seduhannya juga bervariasi, mulai dari hijau pucat hingga oranye gelap, dengan aroma seperti melon, aprikot, kayu, anggrek, hingga rempah-rempah.

11. Teh Putih (Bai cha)

Teh asal China ini dikenal memiliki warna lebih terang dan rasa yang lembut dibandingkan teh hijau maupun teh hitam. Teh ini dibuat dari pucuk daun tanaman teh yang masih muda dan belum sepenuhnya mekar.

Proses pengolahannya tanpa oksidasi atau hanya sedikit oksidasi sehingga karakter rasa alaminya tetap terjaga. Saat diseduh, teh putih menghasilkan warna keemasan pucat dengan cita rasa ringan, manis alami, serta aroma seperti bunga, buah, atau citrus.

Jenis-Jenis Teh Jepang

Matcha Tea

Matcha Tea. foto/Istockphoto

1. Sencha

Sencha merupakan teh hijau paling populer di Jepang. Teh ini dipanen dari daun yang terkena sinar matahari langsung. Setelah dipetik, daun diproses dengan cara dikukus, lalu digulung dan dikeringkan. Sencha Jepang biasanya memiliki daun hijau seperti jarum.

Sencha sendiri terdiri dari beberapa jenis, tapi yang memiliki kualitas tinggi adalah shincha atau yang juga dikenal sebagai ichiban-cha. Saat diseduh, sencha memiliki karakter rasa manis yang lembut, tapi juga agak sepat.

2. Fukamushicha

Fukamushicha adalah jenis teh hijau Jepang yang diproses dengan metode deep steaming selama sekitar 1-3 menit untuk menghentikan oksidasi. Daun yang sudah dikukus kemudian diremas dan dikeringkan.

Teknik ini menghasilkan tekstur daun yang lebih halus, warna seduhannya hijau pekat, serta rasa yang lebih kaya dengan karakter lembut dan minim pahit. Fukamushicha biasanya diseduh menggunakan air bersuhu sekitar 70-90 °C selama kurang lebih 30 detik.

3. Asamushi Cha

Teh asamushi juga termasuk teh hijau Jepang yang diproses dengan cara dikukus dalam waktu singkat, biasanya sekitar 20-40 detik saja. Karena waktu pengukusannya hanya sebentar, bentuk daunnya tetap utuh dan terlihat lebih cantik dibanding fukamushicha yang daunnya mudah hancur.

Seduhan teh ini menghasilkan warna kuning muda yang jernih, aroma yang lebih kuat, serta tingkat astringency lebih tinggi sehingga terasa lebih segar dan ringan saat diminum.

4. Gyokuro

Gyokuro termasuk teh hijau Jepang dengan kualitas tinggi. Gyokuro adalah jenis teh yang ditanam di tempat teduh, biasanya semak tanaman teh akan ditutupi selama dua minggu hingga 20 hari sebelum dipanen. Teknik ini menghasilkan daun yang lembut dan memiliki aroma yang kaya.

Teh ini harus diseduh dengan hati-hati. Menyeduhnya terlalu lama atau menggunakan air yang terlalu panas bisa menghasilkan rasa pahit dan kasar. Jika diseduh dengan benar, gyokuro memiliki warna hijau pucat yang lembut. Teh ini harum dengan aroma “sayuran”, serta memiliki rasa gurih seperti umami.

5. Kabusecha

Seperti gyokuro, kabusecha termasuk teh hijau premium dari Jepang. Teh ini dibuat dari daun teh yang ditanam dengan metode peneduhan dengan kain khusus selama sekitar 2-25 hari sebelum dipanen.

Peneduhan kabusecha umumnya lebih singkat dari gyokuro, tapi teknik ini tetap menghasilkan aroma khas yang disebut ooika. Teknik peneduhan ini juga dapat meningkatkan kandungan theanine dan asam amino sehingga rasa teh menjadi lebih lembut dan umami.

Teh Kukicha

Teh Kukicha. FOTO/iStockphoto

6. Bancha

Bancha sering disebut sebagai teh hijau biasa atau teh hijau yang diminum sehari-hari. Teh ini umumnya dipanen di akhir musim. Daunnya matang dan keras, menghasilkan teh yang sedikit lebih kasar dan kurang harum sehingga dianggap berkualitas lebih rendah daripada sencha atau gyokuro.

Bancha juga dapat mengandung batang atau ranting yang menjadi penanda kualitas. Jika memiliki lebih banyak ranting dan batang, bancha tersebut dianggap berkualitas rendah. Teh jenis ini harus diseduh dalam waktu singkat. Rasanya cenderung ringan dan lebih sepat daripada jenis teh hijau Jepang lainnya.

7. Genmaicha

Genmaicha adalah campuran teh hijau Jepang (bancha atau sencha) dengan beras merah yang dipanggang atau disangrai. Dahulu, genmaicha dikenal sebagai teh murah karena campuran berasnya membantu menekan harga teh sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat.

Sekarang, teh ini justru semakin diminati oleh banyak orang karena karakternya yang khas. Saat diseduh, teh ini biasanya berwarna kuning pucat. Aromanya merupakan campuran aroma “hijau” yang khas dengan sedikit aroma panggang.

8. Kukicha

Kukicha merupakan teh Jepang yang dibuat dari batang, tangkai, dan ranting tanaman teh (Camellia sinensis). Berbeda dari kebanyakan teh yang menggunakan daun utama, kukicha memanfaatkan bagian tanaman yang biasanya tidak digunakan sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang khas.

Kukicha dapat diproses sebagai teh hijau maupun teh dengan tingkat oksidasi lebih tinggi. Jika berasal dari produksi gyokuro, teh ini dikenal dengan nama karigane atau shiraore. Kukicha memiliki rasa ringan dengan karakter nutty, creamy, dan sedikit manis alami.

9. Mecha

Teh hijau Jepang ini dibuat dari pucuk dan tunas daun muda hasil panen awal musim semi. Mecha diproduksi dalam jumlah terbatas dan kualitasnya berada di antara gyokuro dan sencha. Mecha memiliki rasa yang dalam dengan karakter astringent cukup kuat dan aftertaste pahit khas teh hijau.

Aroma dan cita rasanya yang tajam sering dianggap setara dengan sencha berkualitas tinggi. Seduhan mecha premium biasanya menghasilkan warna kuning lembut yang jernih dan aroma yang harum sehingga cocok diminum setelah makan untuk membantu memberikan rasa segar.

10. Konacha

Konacha merupakan jenis teh hijau dari Jepang yang terdiri dari kuncup, debu teh, dan daun kecil yang tersisa setelah pengolahan gyokuro atau sencha. Jika dibuat dari gyokuro, teh ini biasanya dipasarkan sebagai gyokurokonacha.

Konacha memiliki rasa yang kuat. Teh ini juga sering disajikan di restoran sushi sebagai penyegar lidah atau mulut untuk mengimbangi rasa ikan yang dimakan.

11. Tencha

Tencha adalah daun teh olahan yang khusus dipersiapkan sebagai bahan baku matcha. Nama tencha secara harfiah berarti “teh untuk digiling” karena daun ini nantinya akan digiling menjadi bubuk teh hijau yang halus. Jadi, tencha tidak dikonsumsi seperti teh biasa yang daunnya langsung diseduh.

Untuk menghasilkan rasa yang kaya, tanaman teh tencha ditanam dengan metode shade-grown atau peneduhan selama sekitar empat minggu sebelum dipanen. Setelah dipanen, daun teh tencha dikukus sebentar, dikeringkan, lalu digiling menjadi matcha.

Jenis-Jenis Teh Korea

Teh Hijau

Teh Hijau. FOTO/iStockphoto

1. Ujeon

Disebut juga sebagai cheonmul-cha yang secara harfiah berarti teh yang dipanen pertama. Ujeon merujuk pada teh hijau (nokcha) yang dibuat dari daun dan tunas muda tanaman teh. Pemetikannya pun dilakukan sebelum gogu (hujan musim semi di bulan April).

Teh memiliki karakter rasa yang manis dan lembut, serta paling baik diseduh pada suhu sekitar 50 °C. Teh ujeon Korea sering dianggap setara dengan shincha dari Jepang.

2. Sejak

Sejak termasuk teh hijau premium dari Korea yang dipanen pada akhir April hingga awal Mei, tepatnya setelah gogu dan sebelum ipha (datangnya musim panas). Teh sejak dibuat dari pucuk dan daun muda yang dipetik sebelum matang sepenuhnya, lalu diproses dengan metode steaming atau pan-firing.

Sejak memiliki rasa lembut, agak manis, sedikit umami, serta karakter vegetal dan nutty yang halus tanpa rasa pahit berlebihan. Untuk mendapatkan cita rasa terbaik, sejak biasanya diseduh menggunakan air bersuhu sekitar 70-75 °C.

3. Jungjak

Jungjak merupakan teh hijau Korea yang berasal dari panen ketiga dalam musim pemetikan teh (sekitar akhir Mei). Jungjak sendiri sering disebut “paruh burung pipit sedang”, mengacu pada ukuran daun tehnya yang sedikit lebih besar dibanding grade panen awal seperti ujeon dan sejak.

Daun teh jungjak yang sudah dikeringkan memiliki warna hijau tua dengan bentuk bergelombang. Seduhannya menghasilkan warna hijau muda hingga kuning pucat dengan rasa smooth yang menghadirkan karakter umami dan vegetal ringan.

4. Daejak

Daejak merupakan teh hijau yang berasal dari panen keempat dalam musim panen teh (sekitar akhir Juni) sehingga daun tehnya lebih matang. Nama daejak, yang secara harfiah berarti burung pipit, merujuk pada ukuran daun tehnya yang dianggao sebanding dengan paruh burung tersebut.

Daun daejak yang telah dikeringkan akan berwarna hijau tua dengan bentuk agak keriting. Seduhannya menghasilkan warna hijau kekuningan dengan karakter rasa vegetal yang bernuansa chestnut ringan.

5. Nokcha

Di Korea, nokcha berarti teh hijau. Nokcha sangat populer di negara ini dan biasa dinikmati panas maupun dingin. Selain sebagai minuman, nokcha juga sering digunakan dalam berbagai kuliner Korea, seperti pada kue, es krim, hingga untuk membantu mengurangi aroma amis pada ikan atau daging.

Teh ini memiliki karakter unik yang dianggap berada di antara gaya teh hijau Tiongkok dan Jepang. Daunnya diproses melalui pan-roasting ringan untuk menjaga kesegaran, kemudian digulung dengan tangan dan dipanggang perlahan hingga kering.

Dibanding teh hijau Tiongkok yang cenderung grassy atau teh Jepang yang lebih briny, nokcha memiliki karakter rasa lebih lembut dengan tingkat kepahitan yang ringan. Nokcha biasanya diseduh dengan air bersuhu sekitar 70 °C agar rasa manis dan segarnya tetap terjaga tanpa menghasilkan rasa pahit berlebihan.

Itulah beberapa jenis teh di dunia dengan karakteristik uniknya masing-masing, mulai dari teh hijau yang segar dan ringan, oolong dengan rasa kompleks, hingga teh hitam dengan rasa yang lebih kuat.

Perbedaan daerah asal, metode budidaya, tingkat oksidasi, dan proses pengolahan membuat setiap jenis teh memiliki cita rasa dan aroma berbeda, membuat pengalaman menikmati teh menjadi lebih kaya. Dari daftar teh di atas, mana teh yang pernah kamu coba dan jadi favoritmu?

Ingin tahu lebih banyak tentang teh atau jenis minuman dan makanan lain? Temukan informasi menarik seputar dunia kuliner di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Kuliner

Baca juga artikel terkait TEH atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani