tirto.id - Risiko penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market ke frontier market kian mengemuka di tengah kebijakan pemerintah dan tekanan eksternal yang membebani iklim investasi.
Skenario tersebut bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan kemungkinan yang harus diantisipasi, sementara investor ritel mengaku bingung dan menunggu kejelasan dari pemerintah.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai setidaknya ada dua faktor utama yang kini menjadi sorotan pelaku pasar dan berpotensi memicu perubahan kasta oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pertama, kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai membatasi ruang gerak dunia usaha lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kedua, surat dari Kamar Dagang Cina kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penghentian impor batu bara yang menambah panjang daftar ketidakpastian bagi pelaku industri dalam negeri.
"Melihat beberapa kebijakan dan kejadian terakhir, nampaknya penurunan kasta saham Indonesia ke frontier market, bukan sesuatu yang mustahil," ujar Huda kepada Tirto, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa kebijakan ekspor satu pintu membuat aktivitas ekspor dibatasi, sementara penghentian impor batu bara dari Cina menciptakan ketidakpastian berlapis bagi dunia usaha domestik. Kondisi ini, menurutnya, telah membentuk persepsi negatif di kalangan investor asing.
"Ini yang membuat pasar berpersepsi negatif terhadap pasar kita, termasuk juga investor asing. Sehingga MSCI bisa menurunkan kasta saham Indonesia ke frontier market," ucapnya.
Capital Outflow dan IHSG Tertekan
Huda memperingatkan bahwa konsekuensi dari penurunan kasta akan sangat signifikan. Status frontier market dianggap kurang likuid dan kurang menarik bagi investor global skala besar. Akibatnya, arus modal keluar (capital outflow) diprediksi akan terjadi secara masif.
"Dampaknya tentu cukup besar mengingat investor akan berbondong-bondong menarik uangnya dari saham Indonesia," ungkapnya.
Fenomena ini, kata Huda, sebenarnya sudah mulai terlihat sejak awal tahun. Pada Januari lalu, ketika MSCI mengumumkan hasil review pertamanya dan diikuti dengan aksi rebalancing, arus keluar modal dari pasar saham domestik langsung meningkat tajam. Akhirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terus menunjukkan pelemahan.
"Investor ritel akan mengikuti pergerakan dari investor besar ketika terjadi pergerakan dalam jumlah yang masif dan semakin menekan IHSG," imbuhnya.

Pasar Ketar-ketir, IHSG Terancam 5.000
Sementara itu, Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menambahkan bahwa kekhawatiran akan penurunan kasta ini santer dirasakan pasar. Pasalnya, pasar masih menunggu-nunggu hasil pengumuman MSCI yang baru akan keluar akhir Juni ini, dan sejauh mana efektifitas reformasi di pasar modal Indonesia telah berjalan.
"Ini yang sebenarnya ditakutkan oleh pasar ya, karena sampai saat ini MSCI ini belum memberikan jawaban ya tentang apa yang terjadi, reformasi di Indonesia ya terutama di pasar modal itu sampai sejauh mana," ujar Ibrahim.
Menurutnya, kekhawatiran ini menjadi salah satu pemicu utama penurunan harga saham belakangan ini. Investor takut MSCI akan menurunkan status Indonesia ke frontier market, yang merupakan tingkatan terendah.
"Ini yang kemungkinan besar jadi orang itu berpikir bahwa harga saham turun. Mungkin karena ketakutan MSCI ini akan menurunkan rating-nya menjadi rating frontier market. Artinya yang paling bawah. Ini pasti akan berdampak terhadap investor asing pasti akan keluar semua," ucapnya.
Ibrahim mengingatkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru saja mengalami pergantian pimpinan harus serius memperhatikan persoalan ini. Namun hingga kini, belum ada kepastian langkah yang diambil.
Ibrahim menyoroti bahwa meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) masih optimistis Indonesia bakal tetap bertahan di status emerging market, kondisi riil di lapangan menunjukkan sebaliknya. IHSG saat ini sudah terjerembab di bawah level 6.000.
"Saat ini indeks harga saham gabungan sudah di bawah 6.000. Artinya apa? Ini sudah ketar-ketir, rupiah juga melemah ya ini mengindikasikan daya beli masyarakat turun," ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa jika Indonesia benar-benar turun kasta ke frontier market, IHSG berpotensi ambruk kembali ke level 5.000-an.
MSCI Belum Percaya Reformasi IHSG
Ibrahim menjelaskan lebih dalam mengenai akar persoalan yang membuat MSCI enggan memberikan kepercayaan. Menurutnya, MSCI menginginkan adanya reformasi nyata di pasar modal Indonesia, terutama terkait kepemimpinan OJK dan aturan free float.
"Pertama pada saat Ketua OJK keluar ya, digantikan. Keinginan dari pemeringkat internasional itu ya ada perubahan kepemimpinan di OJK ya tetapi kenyataannya adalah hanya orang-orang itu saja klaster itu masih kuat," ungkapnya.
Kemudian, mengenai aturan free float, ia menyebut kenaikan batas minimal dari 3 persen, 7,5 persen, dan kemudiam menjadi 15 persen tidak mudah dilakukan. Ia menilai, MSCI masih menunggu bukti nyata dari perubahan regulasi. Dengan kondisi tersebut, Ibrahim menilai wajar jika MSCI akhirnya menurunkan status Indonesia.
“Tidak mudah. Sehingga MSCI itu mencari ayo mana dokumennya apa perubahannya apa? (Jika) tidak terjadi, ya wajar kalau seandainya diturunkan menjadi frontier market ya dari emerging market,” imbuhnya.
Peluang Turun Kasta dan Risiko Tak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, pengamat pasar modal, Reydi Octa, memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, peluang Indonesia turun dari MSCI emerging market ke frontier market saat ini masih relatif kecil, tetapi risikonya tidak bisa diabaikan.
"Peluang Indonesia turun dari MSCI emerging market ke frontier market saat ini masih relatif kecil, tetapi risikonya tidak bisa diabaikan," ujar Reydi.
Ia menjelaskan yang menjadi perhatian utama MSCI adalah tiga hal: isu likuiditas, free float, serta kemudahan investor asing bertransaksi di pasar Indonesia.
"Jika sampai terjadi penurunan status, dampaknya terhadap IHSG akan cukup signifikan karena berpotensi memicu arus keluar dana dari investor institusi global di pasar emerging market," kata Reydi.
Namun ia memberi catatan bahwa tidak seluruh investor asing otomatis hengkang. Active fund akan tetap melihat valuasi, prospek ekonomi, dan fundamental emiten Indonesia.
“Active fund akan tetap akan melihat valuasi, prospek ekonomi, dan fundamental emiten Indonesia,” tuturnya.
Investor Ritel Bingung dan Butuh Penjelasan Pemerintah
Namun, pandangan investor ritel justru mencerminkan kebingungan yang melanda pelaku pasar kecil. Iqbal, seorang investor ritel, mengaku hingga saat ini belum memahami secara pasti penyebab pelemahan pasar modal Tanah Air.
"Kondisi pasar modal saat ini kalau saya lihat masih cukup fluktuatif ya kalau misalnya dari awal tahun sampai sekarang itu data dari IDX itu emang udah turun secara year-to-date 32 persen," ujar Iqbal.
Ia menyayangkan belum adanya penjelasan komprehensif dari pemerintah atau otoritas terkait kondisi riil yang sebenarnya terjadi. Menurutnya, investor ritel berhak mendapatkan kejelasan.
"Dan saya sebagai investor ritel pun juga belum memahami apa sih sebetulnya penyebabnya dan pemerintah atau otoritas juga enggak mau menjelaskan juga apa yang sebetulnya terjadi. Kalau menurut saya sebagai investor ritel itu perlu dijelasin sama pemerintah sebetulnya kondisi yang rillnya tuh seperti apa sih?" keluhnya.
Iqbal mempertanyakan apakah pelemahan IHSG benar-benar murni karena faktor geopolitik global. Pasalnya, ia melihat beberapa indeks di negara lain justru masih bisa tumbuh di tengah situasi yang sama.
"Apakah iya benar-benar karena faktor kondisi geopolitik global? Tapi kan kalau kita lihat juga beberapa indeks di negara lain juga justru masih bisa tumbuh,” tambahnya.
Ia menuntut pemerintah memberikan penjelasan yang terbuka, sebab dengan begitu ia pun sebagai investor ritel dapat mengambil langkah antisipatif terhadap instrumen investasinya.
“Menurut saya harus dijelaskan sama pemerintah kondisi riilnya seperti apa supaya sebagai investor ritel pun juga bisa melakukan rebalancing atau penyesuaian portofolio," tuturnya.
Meskipun portofolionya saat ini tercatat minus 6 persen, Iqbal mengaku masih menaruh dana di pasar saham. Strateginya adalah mencari saham-saham yang royal membagikan dividen.
"Kalau saya pribadi sih saat ini emang masih naruh dana lah gitu di pasar saham. Strategi saya paling mencari saham-saham yang royal sama pembagian dividen gitu, jadi sambil menunggu porto yang minus barangkali ada dividen yang bisa dibagikan oleh perusahaan-perusahaan," jelasnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan yang diambil lebih melihat fundamental perusahaan dan prospek bisnis ke depan sebelum memutuskan memilih suatu saham sebagai portofolio investasi.
"Kalau dibilang rugi ya saat ini emang masih merah ya porto saya kalau saya enggak salah lihat tadi ya udah 6 persenan lah minusnya," akunya.
Menghadapi isu penurunan status ke frontier market, Iqbal mengaku akan melakukan penyesuaian ulang secara matang. Ia sadar bahwa karakteristik investasi di pasar frontier market akan berbeda dengan emerging market.
"Kalau memang turun ke frontier market tentu saya sebagai investor ritel itu bakal melakukan penyesuaian ulang sih, menata ulang portofolio saya, melihat perusahaan-perusahaan yang mana yang cocok diinvestasikan untuk kelas-kelas frontier market. Karena kalau menurut saya tuh nanti bakal beda tuh kalau misalnya si frontier market sama emerging market," ujarnya.
Soal ketertarikan berinvestasi di IHSG, Iqbal mengaku sejauh ini masih tertarik karena saat ini Indonesia masih berstatus emerging market. Namun ia tidak menutup kemungkinan untuk mencari instrumen investasi lain jika kondisi pasar terus memburuk.
"Sejauh ini sampai saat ini sih masih tertarik karena masih di emerging market ya. Tapi kalau next-nya kondisi pasar kayak gimana, mungkin saya juga bakal cari instrumen investasi yang bakal lebih cuan kali ya," imbuhnya.

BEI Optimistis Indeks RI Masih Masuk Emerging Market
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan bahwa kabar yang beredar mengenai penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) adalah tidak benar.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut informasi tersebut sebagai kekeliruan yang dapat meresahkan investor.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan sebuah tangkapan layar yang beredar di pasar, seolah-olah MSCI telah mengeluarkan pengumuman resmi terkait penurunan kelas tersebut.
"Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar. Seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di frontier market. Yang ternyata itu adalah informasi yang salah," kata Jeffrey dalam konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6/2026).
Di tengah kondisi market saat ini, Jeffrey mengimbau para pelaku pasar untuk lebih cermat dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum terverifikasi.
"Kami tentu sangat berharap investor bisa mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat. Kami sekali lagi menghimbau agar investor cek dan cross cek atas informasi yang beredar di pasar sebelum mengambil keputusan," ujarnya.
Lebih lanjut, Jeffrey menyatakan bahwa BEI memiliki keyakinan tinggi Indonesia akan tetap mempertahankan statusnya sebagai emerging market. Keyakinan itu didasarkan pada sejumlah langkah konkret yang telah dilakukan bursa dan otoritas terkait.
"Terkait dengan MSCI, yang dapat kami sampaikan adalah bahwa dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di emerging market," kata dia.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































