Menuju konten utama

IHSG Turun usai Pengumuman MSCI, OJK Sebut Momentum 'Serok'

OJK tekanan di pasar saham merupakan dampak jangka pendek dari langkah reformasi pasar modal.

IHSG Turun usai Pengumuman MSCI, OJK Sebut Momentum 'Serok'
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (7/4/2026). tirto.id/Nanda

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah usai pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026.

Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai koreksi pasar tersebut masih tergolong normal dan belum mencerminkan kepanikan investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan aktivitas perdagangan saham pada Rabu (13/5/2026) tetap berjalan wajar. Bahkan, secara regional, rata-rata valuasi saham Indonesia disebut masih berada di bawah bursa negara lain dengan level sekitar 16 kali.

Karena itu, OJK berharap investor dapat memanfaatkan momentum koreksi pasar untuk melakukan akumulasi saham secara selektif.

“Jadi ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan perbaikan kinerja ke depannya,” kata Hasan dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti dikutip Antara, Rabu (13/5/2026).

Menurut Hasan, frekuensi transaksi, volume perdagangan, hingga nilai transaksi juga tidak menunjukkan perubahan signifikan dibanding hari-hari sebelumnya. “Tadi frekuensi dan volume, serta nilai transaksi (efek) juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan, normal dibandingkan hari-hari sebelumnya. Ini menunjukkan tidak adanya panic selling atau reaksi satu arah berupa aksi menjual saham-saham tanpa diimbangi kekuatan pembelian,” kata Hasan.

Sebagai informasi, pada perdagangan pagi, IHSG sempat dibuka turun 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94. Hingga pukul 11.55 WIB, indeks masih berada di zona merah di level 6.738,31.

Hasan menjelaskan, tekanan di pasar saham merupakan dampak jangka pendek dari langkah reformasi pasar modal yang tengah dijalankan OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Self Regulatory Organization (SRO) lainnya. Reformasi tersebut difokuskan pada peningkatan transparansi dan integritas pasar, termasuk keterbukaan struktur kepemilikan saham emiten.

Dengan keterbukaan data yang lebih baik, penyedia indeks global seperti MSCI dapat menghitung kembali porsi free float saham secara lebih akurat. Konsekuensinya, sejumlah saham mengalami penyesuaian bobot hingga dikeluarkan dari indeks global.

Menurut Hasan, kondisi ini memang memunculkan tekanan sementara terhadap harga saham yang terdampak. Namun, langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

“Ini tentu setidaknya memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak sehingga istilah short term pain bahwa kita akan harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek," ujarnya.

"Ini tentu menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” kata Hasan menambahkan.

Sebagai informasi, dalam hasil MSCI May 2026 Index Review, enam saham Indonesia resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index. Saham tersebut yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Sementara itu, saham AMRT masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index.

Di sisi lain, MSCI juga menghapus sejumlah saham dari indeks small cap, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana