Menuju konten utama

Main Saham in This Economy: Untung atau Buntung?

Investor boncos puluhan juta. Portofolio memerah, dihadapkan pilihan antara bertahan atau cut loss.

Main Saham in This Economy: Untung atau Buntung?
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gejolak pasar saham belakangan membuat banyak investor ritel ketar-ketir. Indeks harga saham gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif di tengah sentimen global membuat sebagian investor meninjau portofolio mereka yang memerah.

Sejumlah investor yang bertahan berharap pasar rebound, ada pula yang memilih menambah posisi saat harga saham anjlok. Lantas, apa kata mereka yang pernah bermain saham in this economy? Untung atau justru buntung?

Fakhri Fuadi Muflih (30), warga Jakarta Selatan, misalnya, mengaku mulai bermain saham sejak dua tahun lalu. Ia tertarik masuk ke pasar modal lantaran saham dinilai memiliki tingkat likuiditas lebih tinggi daripada instrumen investasi lain.

Menurut dia, saham memang memiliki risiko yang besar. Namun, potensi keuntungan yang ditawarkan juga dinilai jauh lebih tinggi dibanding instrumen investasi konvensional.

"Awalnya tertarik karena mau investasi yang likuiditasnya tinggi. Memang risikonya tinggi juga, tapi kemungkinan gain-nya juga tinggi," tutur Fakhri kepada Tirto, Selasa (26/5/2026).

Meski demikian, ia mengakui, perjalanan investasinya tidak berjalan mulus. Saat IHSG anjlok akibat sentimen perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel beberapa waktu lalu, nilai portofolio sahamnya sempat terkoreksi hingga 40 persen.

Fakhri menyebutkan, kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp5 juta. Akan tetapi, ia memilih tetap menahan saham tersebut lantaran merasa terlambat melakukan cut loss.

"Pernah rugi kurang lebih Rp5 juta. Masih di-hold sampai sekarang karena sudah telat cut loss," ujarnya.

Fakhri berujar, ia biasanya sudah menyiapkan batas kerugian sebelum membeli saham tertentu untuk menghadapi kondisi pasar yang bergejolak. Ia juga akan melakukan riset ulang untuk menentukan apakah saham tersebut layak ditahan atau tidak.

"Kalau minus, biasanya saya siapkan mau cut loss di mana. Atau riset dulu, mau hold atau enggak, tergantung kondisi perusahaan, tren, dan kondisi ekonomi," urainya.

Fakhri mengakui, nilai investasi terbesarnya di saham sempat mencapai sekitar Rp60 juta. Namun, sebagian besar saham tersebut kini sudah dijual.

Selain saham, ia juga memiliki instrumen investasi lain berupa deposito dan pengelolaan properti, yakni kos-kosan serta kontrakan.

"Investasi paling besar sempat di saham sampe Rp60 jutaan, tapi kebanyakan sudah dijual. Investasi lain paling deposito sama kelola properti seperti kos-kosan dan kontrakan," tuturnya.

Hal serupa juga dialami Ryan Pratama (29), warga Jakarta Selatan. Ia mulai mengenal saham sejak 2020 usai diajak sang paman yang lebih dulu memahami dunia pasar modal.

Kala itu, Ryan belum berani membeli saham, meski sempat diajak masuk ke saham blue chip. Ia memilih memelajari mekanisme pasar saham terlebih dahulu sebelum terjun sebagai investor.

Sekitar Agustus 2025, Ryan mulai membeli saham pertamanya. Ia mengaku belajar secara otodidak melalui video YouTube, media sosial, hingga membaca berita ekonomi.

"Waktu itu modal nekat juga setelah nonton YouTube, cek-cek medsos, plus baca berita ekonomi soal saham. Yang saya baca biasanya fundamental perusahaan dan prospek bisnisnya ke depan," kata Ryan, Selasa

Ia menilai, investasi saham bukan sekadar mencari keuntungan jangka pendek. Ryan turut mengibaratkan saham layaknya menanam pohon yang membutuhkan waktu untuk tumbuh besar.

Menurut dia, keuntungan investasi saham tidak hanya berasal dari capital gain, tetapi juga dividen yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham.

"Bagi saya pribadi, investasi saham itu seperti menanam pohon. Kalau dirawat di tanah yang tepat, bakal tumbuh dengan lebat. Makanya saya enggak trading kayak banyak orang FOMO, tapi menanam modal untuk jangka panjang," tuturnya.

Ryan menilai, menyimpan uang di bank konvensional membuat nilai uang tergerus inflasi. Karena itu, ia lebih memilih menempatkan uangnya di saham.

Namun, kondisi pasar saat ini membuat portofolio Ryan mengalami tekanan. Ia mengaku saat ini masih mengalami kerugian sekitar Rp10 juta.

Ryan menyebutkan, kondisi minus tersebut mulai terjadi sejak awal Mei 2026 atau saat IHSG terus mengalami pelemahan. Meski begitu, ia memilih melakukan average down untuk menurunkan harga rata-rata pembelian sahamnya.

"Kalau minus sih iya, tahu sendiri IHSG sekarang [kondisinya bagaimana]. Saya yang nanamin modal di sektor komoditas cukup kena dampaknya," ujarnya.

Meski demikian, Ryan memilih tetap tenang dan tidak panik. Ia justru menjadikan prinsip investor Warren Buffett sebagai pegangan berinvestasi.

"Saya biasanya average, terus dibiarin sambil baca-baca berita saja, enggak panik juga. Menukil kata Warren Buffett, 'Takutlah saat orang lain serakah, dan serakahlah saat orang lain ketakutan'," ucap dia.

Sementara itu, Dimmy Excel Putra Leman (26), warga Malang, Jawa Timur, mengaku dananya memang ditempatkan di saham. Ia sendiri mulai berinvestasi saham sejak 2021.

Sebelumnya, pada 2020, ia sempat mempelajari reksa dana saat bingung menentukan tempat untuk memutar uang tabungannya.

"Waktu itu bingung mau muter uang tabungan ke mana, karena enggak mau uang mengendap di bank dan belum ada ilmu bisnis. Awalnya belajar reksa dana lalu akhirnya pindah ke saham," tutur Dimmy, Selasa.

Akan tetapi, ia menyatakan, kondisi pasar yang memburuk tahun ini membuat salah satu saham miliknya anjlok hingga 70 persen sejak IHSG mengalami penurunan drastis pada awal 2026.

Dimmy juga mengaku pernah mengalami auto reject bawah (ARB), tepatnya saat membeli saham Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) ketika muncul isu pagar laut yang sempat ramai di pasar.

"Pernah kena ARB waktu itu di saham PANI saat ada isu pagar laut," ujarnya.

Dimmy tidak selalu langsung menjual saham yang mengalami penurunan tajam. Menurut dia, keputusan cut loss atau average down bergantung pada kondisi emiten dan arah tren saham tersebut.

"Tergantung sahamnya. Ada yang langsung cut loss kalau memang sudah patah tren jadi downtrend. Ada juga yang di-average down kalau emitennya masih ada corporate action atau trennya masih uptrend," ucap Dimmy.

Baca juga artikel terkait MAIN SAHAM atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah