tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.795 pada perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2026). Rupiah melemah 52 poin atau 0,29 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.667.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah masih dipengaruhi faktor geopolitik di Timur Tengah. Sebelumnya, AS dikabarkan telah melancarkan serangan baru terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan.
Setiap aksi militer baru tersebut, menurut Ibrahim, berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. "Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," urai Ibrahim dalam keterangannya.
Sementara dari dalam negeri, faktor pelemahan rupiah dinilai berasal dari krisis kepercayaan terhadap kondisi ekonomi domestik, serta risiko ekonomi akibat beban biaya produksi perusahaan—khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor—yang berpotensi meningkatkan pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional," tuturnya.
"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga BBM industri non-subsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan," lanjut dia.
Ibrahim mengingatkan, penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, menyebabkan sekitar 350 pekerja terkena PHK. Kondisi tersebut dinilai dipengaruhi tekanan biaya impor dan melemahnya pasar ekspor.
Sselain sektor elektronik, tekanan juga terjadi di industri otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor mulai menekan permintaan pasar.
Misalnya, CV Asri yang bergerak di sektor otomotif telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan. Tekanan juga mulai dirasakan industri tekstil, garmen, dan alas kaki.
"Potensi PHK di sektor formal industri tersebut dapat mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Adapun Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari-April 2026 dan dimungkinkan PHK besar akan berlanjut dibulan berikutnya," urai Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































