tirto.id - Platform investasi digital Nanovest menggelar diskusi bertajuk “Golden Hours” pada Kamis (26/2/2026) di Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan pakar finansial, komunitas, dan media untuk membahas strategi investasi jangka panjang di tengah kondisi pasar global yang dinilai semakin volatil.
CMO Nanovest, Jovita Widjadja, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat literasi finansial masyarakat, terutama di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi yang memengaruhi arah pasar. Menurutnya, investor kini mulai bergeser dari pola pikir keuntungan instan menuju strategi portofolio yang lebih berkelanjutan.
“Kami melihat perubahan pola pikir investor, terutama generasi muda. Fokusnya bukan lagi sekadar mencari investasi yang cepat naik, tetapi bagaimana membangun portofolio yang sehat dan bertahan dalam berbagai kondisi pasar yang penuh ketidakpastian,” ujar Jovita pada Kamis.
Ia menekankan pentingnya memahami profil risiko sebelum berinvestasi. Setiap investor, kata dia, memiliki toleransi risiko berbeda, sehingga strategi investasi perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing agar tidak terjebak mengikuti tren semata.
Sepanjang 2025, Nanovest mencatat pertumbuhan signifikan dari sisi pengguna dan aktivitas transaksi. Trading volume tercatat naik sekitar 70 persen secara tahunan, dengan lebih dari 1,1 juta pengguna terverifikasi (KYC). Pertumbuhan tersebut didorong peluncuran sejumlah produk berbasis Web3 seperti crypto staking, gadai digital, dan fitur perdagangan aset digital lainnya.
Dalam sesi diskusi, para pembicara menilai tahun 2026 akan menjadi fase kedewasaan pasar, dimana investor didorong lebih selektif dan berbasis strategi jangka panjang.
CMO Jarvis Asset Management, Tjoe Ay, menyoroti peluang investasi pada sektor mineral dan logam mulia yang dinilai masih menarik di tengah ketidakpastian global.
“Ke depan, sektor mineral masih menarik, terutama logam seperti emas, perak, hingga nikel. Aset berbasis komoditas ini patut dipertimbangkan untuk setahun ke depan,” pungkas Tjoe Ay.
Sementara itu, Investment Expert, Jason Nathanael, menekankan pentingnya strategi portofolio yang seimbang. Menurutnya, pendekatan investasi ke depan tidak lagi berfokus pada satu aset unggulan, melainkan kombinasi aset dengan fungsi berbeda.
“Portofolio ideal ke depan bukan lagi soal memilih satu aset terbaik, melainkan mengombinasikan beberapa peran aset. Aset pertumbuhan menangkap peluang ekonomi baru, sementara aset defensif menjaga daya beli. Investor muda justru punya keunggulan waktu, sehingga strategi seimbang sejak awal akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang,” kata Jason.
Para pembicara juga menyoroti sektor potensial di pasar global, termasuk saham teknologi dan finansial Amerika Serikat, serta emas sebagai aset lindung nilai. Diversifikasi lintas aset dinilai semakin relevan seiring meningkatnya minat investor Indonesia terhadap pasar global.
Melalui inisiatif Golden Hours, Nanovest menegaskan posisinya tidak hanya sebagai platform transaksi, tetapi juga mitra edukasi finansial lintas generasi. Perusahaan menargetkan penguatan literasi keuangan sebagai langkah mendorong masyarakat berinvestasi secara lebih bijak dan berkelanjutan.
Editor: Nuran Wibisono
Masuk tirto.id


































