STOP PRESS! BPK Pastikan Auditor Inisial RS Kena OTT KPK

Memasarkan Lewat Selebgram Berpengikut Sedikit Lebih Ampuh

Memasarkan Lewat Selebgram Berpengikut Sedikit Lebih Ampuh
Ilustrasi Instagram. GETTY IMAGES
Reporter: Aulia Adam
13 Mei, 2017 dibaca normal 2 menit
Ahli pemasaran harus punya mata tajam dan intuisi jeli dalam melihat peluang. Perubahan gaya hidup milenial menuju generasi Z sudah harus dipantau sejak sekarang.
tirto.id - Belakangan, beredar video komedi yang diperankan Cinta Laura, artis Indonesia yang kabarnya tengah menjajal peruntungan di kancah internasional.  Dalam video berdurasi singkat itu, Cinta memerankan seorang perempuan yang harus menari lebih dulu agar dapat perhatian atau pertolongan dari seorang pria—yang diperankan oleh Sam Jones III, seorang selebgram asal Amerika Serikat.

Terlepas dari kontennya yang mengobjektifikasi tubuh perempuan, dan mencitrakan perempuan sebagai makhluk lemah dan wajib menarik di mata pria, video  itu viral. Ia ditonton lebih dari 483 ribu kali. Jumlah tersebut bahkan jauh lebih banyak dari jumlah pengikut sang selebgram, yang cuma mencapai sekitar 286 ribu. Setidaknya, bagi penggemar Cinta yang rindu melihat sepak terjangnya, video itu cukup membantu. Terbukti dari komentar yang dituai di bawah video tersebut.

Tapi ada yang janggal dari keterlibatan Cinta di sana. Dibandingkan pengikut Sam Jones III yang masih ratusan ribu, Cinta sendiri punya pengikut yang jumlahnya berkali-kali lipat: sekurang-kurangnya 2,9 juta. Lalu mengapa ia mau tampil di akun yang jumlah pengikutnya lebih sedikit daripada miliknya sendiri?

Ilana Bodker dari Millennial Marketing punya telaah tentang hal ini. Dari penelitian yang dilakukan Markerly, terungkap bahwa Generasi Z yang kini jadi generasi paling berpengaruh dalam pergerakan ekonomi dan teknologi dunia cenderung lebih percaya dagangan selebgram berpengikut rendah ketimbang yang punya jutaan pengikut. Menurut Bodker, hal itu erat kaitannya dengan sikap generasi tersebut yang memang lebih individual daripada generasi sebelum-sebelumnya.

Dalam kasus Cinta, kemunculannya di akun Instagram Sam Jones III bisa jadi sebuah ajang promosi. Jones III memang tak punya pengikut sebanyak Cinta, tapi paling tidak para pengikut tersebut adalah generasi muda yang jadi sasaran Cinta. Sebagai penjajal baru di Hollywood, Cinta butuh media untuk memperkenalkan dirinya di pasar penonton Amerika.

Meski tak setenar Chris Pratt atau Chris Evan, Sam Jones III nyatanya adalah aktor di Hollywood yang sudah membintangi beberapa iklan dan acara televisi Hollywood semisal Smallville dan CSI: Criminal Scene Investigation. Ia juga punya basis penggemar yang cukup banyak di sejumlah media sosialnnya selain Instagram, semisal Twitter, dan dulu Vine. Toh, menurut Bodker, beriklan di akun selebgram dengan pengikut sedikit lebih ampuh daripada mereka yang berpengikut jutaan hingga puluhan juta. Jadi, langkah Cinta bisa dibilang praktis.

Sudah jadi rahasia umum para ahli tenaga pemasaran bahwa beriklan pada selebritas media sosial seperti di Youtube, Instagram, atau Snapchat adalah salah satu teknik berjualan paling ampuh sekarang. Menurut Bodker, yang juga editor buku Marketing to Gen Z, hal tersebut terjadi karena pergeseran tabiat manusia milenial dan Generasi Z yang selalu terikat pada media sosialnya hampir 24 jam dalam sehari.

Kebiasaan para ahli pemasaran beriklan pada selebritas media sosial bahkan membuat profesi tersebut jadi salah satu lapangan pekerjaan paling diminati kini. Sebab mereka yang sukses bisa berpenghasilan puluhan hingga ratusan juta dari pekerjaan tersebut. Salah satu pemasukan tersebut tentu saja dari kanal endorsement.

Memasarkan Lewat Selebgram Berpengikut Sedikit Lebih Ampuh

Tapi, mengapa beriklan di selebgram berpengikut sedikit lebih ampuh?

Menurut Michael Quoc dari Venture Beats, ada beberapa hal yang membuat barang yang diiklankan di selebritas berpengikut sedikit lebih laris. Pertama, para pengguna Instagram dengan pengikut lebih sedikit daripada 1000 umumnya punya keterlibatan lebih tinggi dengan para pengikutnya. Likes dan komentar yang mereka peroleh lebih tinggi persentasenya daripada para selebgram dengan jutaan pengikut.

Hal ini disebabkan sifat ekslusif yang ada pada para selebgram berpengikut sedikit, tak seperti selebritas dengan jutaan pengikut yang cenderung sudah tak bisa melakukan komunikasi interaktif. Ihwal ini kemudian berpengaruh pada poin kedua, yaitu: harga kompetitif.

Beriklan pada selebgram dengan pengikut sedikit faktanya punya tawaran harga beriklan lebih rendah dari mereka yang sudah punya nama. Bagi perusahaan kecil, atau startup baru, tentu saja hal suit menarik perhatian selebgram berpengikut jutaan dan sepakat dengan harga promosinya. Lagi pula, ongkos yang dikeluarkan belum tentu bisa sebanding lurus dengan pemasukan. Anggaran promosi jadi lebih bisa dihemat, misalnya untuk beriklan di sejumlah selebgram berpengikut sedikit ketimbang di satu saja selebgram dengan jutaan pengikut.

Poin ketiga berhubungan dengan sikap individual Generasi Z. Mereka sadar kalau hidup selebritas tak mungkin murah, jadi produk-produk dengan harga terjangkau yang mereka endorse jelas-jelas tak mungkin mereka pernah pakai. Membuat generasi ini lebih selektif dalam memilih produk. Sesuai dengan suBjektivitasnya.

Ingin mencoba?

Baca juga artikel terkait GENERASI MILENIAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/nqm)

Keyword